Chapter 13

1511 Words
“Apakah kita sudah sampai, Daddy?” Tere menguap. Dia merasa sudah tidur terlalu lama. Dari baru tidur sampai sekarang dia tidak pernah melepas pelukannya pada boneka pemberian Cindy, yang diberi nama Lila. “Belum, Sayang. Tidurlah lagi kalau Tere masih mengantuk,” Jonathan menjawab sambil merapikan poni Tere yang berantakan. “Dad, kira-kira Aunty Angel benar akan mengunjungi Tere?” Wajah Tere terlihat sedih mengingat perpisahannya dengan Cindy. Jonathan hanya memaksakan senyumnya saat menanggapi pertanyaan sang anak. Jonathan mengingat saat Tere dibujuk oleh sang ibu agar mau ikut dengannya kembali ke Jenewa. “Daddy, apakah benar hari ini kita harus pulang?” Tere bertanya pada Jonathan setelah neneknya memberi tahu bahwa dirinya dan sang ayah akan kembali ke Jenewa. “Benar, pekerjaan Daddy sudah sangat banyak menanti di sana, Sayang,” Jonathan menjawab pertanyaan anaknya dengan sangat lembut. Terakhir dia mengajak pulang Tere berakhir dengan pertengkaran di antara keduanya. “Tapi Tere masih ingin di sini, Dad,” ucap Tere sedih sambil melihat Rachel yang berada di kamar mereka. “Sayang, jika Tere kangen lagi dengan kami, Tere bisa datang kembali ke sini. Namun, untuk saat ini Tere ikut dulu pulang bersama Daddy,” Rachel membujuk cucu sulungnya sambil memberikan pengertian. Tere menimang-nimang perkataan sang nenek. Dia menatap secara bergantian wajah ayah dan neneknya. “Baiklah. Tere mau ikut pulang, tapi Daddy harus menuruti satu permintaan Tere sebelum kita kembali ke rumah,” pintanya. Jonathan melihat Rachel guna meminta pendapat. Rachel menanggapi dengan anggukan, meskipun dia tidak tahu apa yang menjadi permintaan cucunya. “Apa permintaanmu, Sayang?” Jonathan mendekati Tere kemudian membawanya duduk di atas pangkuannya. “Tere ingin berpamitan langsung pada Aunty Cella, Uncle Albert, dan Aunty Angel. Daddy harus menemani Tere,” pinta Tere santai sambil menyandarkan kepalanya pada d**a bidang milik Jonathan, tanpa melihat perubahan mimik sang ayah. “Jika hanya mengantarmu berpamitan pada Cella dan Albert, tidak menjadi masalah buat Daddy, Nak. Akan tetapi, jika mengantarmu bertemu dengan Cindy? Secara langsung? Tentu saja Daddy sangat keberatan,” rutuk Jonathan dalam hati karena keberatan dengan permintaan Tere. Rachel yang melihat perubahan ekspresi wajah anaknya pun tidak bisa berkata apa-apa, dia hanya mengendikkan bahu saat pandangan mata mereka bertemu. Rachel tidak mau lagi terlalu mencampuri urusan pribadi anaknya, takut kejadian kemarin malam terulang kembali. “Apakah Daddy mau mengantar Tere berpamitan langsung dengan mereka?” Tere mendongak karena Jonathan belum memberikan jawabannya. “Baiklah,” Jonathan menjawabnya dengan nada sangat pelan dan datar. Bahkan, hampir tak terdengar. “Yeay!” Tere bersorak dan langsung turun dari pangkuan sang ayah. “Ayo, Daddy, sekarang saja kita ke rumah sakit,” ajaknya penuh semangat sambil menarik tangan Jonathan. Tidak lupa dia juga membawa boneka Lila. Jonathan terkejut mendengar tindakan sekaligus ajakan Tere. Rachel yang juga terkejut pun hanya menggeleng-gelengkan kepalanya atas ulah cucunya. “Nenek, Tere dan Daddy ke rumah sakit dulu ya,” Tere langsung berpamitan kepada Rachel, padahal Jonathan belum menyetujui ajakannya. *** “Dok, ada tamu dan sekarang sedang menunggu di ruang kerja Anda,” beri tahu salah satu perawat yang sekaligus asistennya. “Tamu?” Cindy merasa sedikit terkejut mendengar pemberitahuan asistennya, karena dia merasa tidak mempunyai janji. “Iya, Dok,” jawab asistennya membenarkan. “Baiklah, saya segera ke sana,” ucap Cindy dan langsung menuju ruangannya. Cindy baru saja selesai memeriksa semua keadaan pasiennya. *** “Maaf, membuat Anda menunggu ….” Ucapan Cindy terpotong karena dirinya sudah diterjang oleh tubuh gadis kecil yang sedang membawa boneka. “Aunty!” jerit Tere sangat senang setelah melihat Cindy memasuki ruangannya. Bahkan, dia langsung menerjang Cindy tanpa membiarkan wanita dewasa tersebut menuntaskan kalimatnya. “Eh, Tere,” ucap Cindy gamang karena masih tidak menyangka dengan kedatangan Tere. “Sama siapa datang ke sini?” tanyanya karena tidak melihat orang lain lagi di dalam ruangannya. Tere melepas pelukannya pada paha Cindy. “Sama Daddy, Aunty,” jawabnya. “Daddy sedang di toilet,” beri tahunya. “Huh! Dasar tidak punya sopan-santun! Seenaknya saja memakai toilet orang lain,” gerutu Cindy dalam hati. “Oh begitu. Ayo kita duduk di sofa, Sayang,” ajaknya pada Tere. “Ngomong-ngomong, ada apa Tere datang ke sini? Tere mau melihat Si Kembar?” Cindy bertanya setelah Tere duduk bersamanya di sofa. Tere menggeleng, tapi tak berapa lama dia mengangguk. Cindy mengernyit bingung dengan bahasa tubuh yang Tere berikan. Saat Cindy ingin bertanya kembali, pintu toilet yang ada di pojok ruangannya terbuka. Cindy dan Tere memerhatikan sosok laki-laki yang baru keluar. Merasa ada yang memerhatikan, laki-laki tersebut pun mengedarkan pandangannya ke sekitar ruangan. “Daddy, Aunty Angel bertanya untuk apa kita datang ke sini?” Tere melemparkan pertanyaan yang tadi Cindy lontarkan padanya. Jonathan menatap sedikit kesal ke arah anaknya atas pertanyaan yang dilemparkan padanya. Dia juga melihat jika Cindy sekarang sedang menatap ke arahnya. Menunggu jawaban yang akan dia berikan. “Bukankah tadi Tere sendiri yang meminta dan merengek supaya Daddy mau mengantarkan Tere ke sini? Padahal Tere tahu sendiri bahwa Daddy sangat sibuk karena harus menyiapkan keperluan untuk kepulangan kita sore nanti,” Jonathan menjawabnya dengan kesal. Cindy bisa mengerti apa tujuan Tere datang ke sini, meskipun Jonathan menjawabnya secara tersirat. “Oh ya, jika sudah selesai urusannya, Tere bisa segera menyusul Daddy ke ruangan Aunty Cella dan Uncle Albert. Mengerti?” Jonathan menambahkan sambil matanya menatap Cindy dengan sorot tak suka. “Kenapa Daddy tidak menemani Tere sebentar saja di sini? Nanti kita sama-sama ke ruangan Aunty Cella dan Uncle Albert?” tanya Tere sambil mengerjapkan matanya polos. Jonathan semakin kesal dengan pertanyaan anaknya. “Daddy merasa sesak berada di dalam ruangan ini. Jika Tere sudah selesai, langsung cari Daddy di ruangan Aunty Cella,” jawabnya pura-pura lembut supaya anaknya tidak marah lagi dan membuat semua rencananya kembali kacau. “Baiklah, Dad,” balas Tere dengan nada sedikit kecewa. Cindy merasa tidak terima dengan ucapan Jonathan yang mengatakan bahwa berada ruangannya menyesakkan, dia pun membalasnya dan berhasil membuat laki-laki tersebut menghentikan langkahnya menuju pintu keluar, “Oh ya, Tuan Smith, semoga fasilitas toiletku memuaskan dan tidak membuat Anda merasa sesak.” Cindy masih kesal karena ada seseorang yang sudah dengan lancang memakai toiletnya tanpa meminta izinnya terlebih dulu. “Maaf karena tadi aku tidak sempat meminta izinmu terlebih dahulu untuk memakai toiletmu. Lumayan memuaskan fasilitas yang ada untuk ukuran toilet umum,” Jonathan menjawabnya dengan sedikit merendahkan dan tanpa membalikkan badan. Jonathan berbohong atas jawabannya, karena tadi dia terkesima dengan kondisi toilet milik Cindy. Tidak mungkin dia mengakuinya secara terus terang kekagumannya tersebut. Desain toiletnya simple, tapi sangat bersih. Mungkin penyebabnya karena profesi Cindy yang sebagai orang kesehatan. “Toilet umum katamu?” Cindy semakin kesal dengan jawaban Jonathan yang menyamakan toiletnya dengan salah satu fasilitas umum. “Tapi suatu penghargaan dan kehormatan untukku, karena toiletku yang menjadi pilihan Anda dan sangat berguna untuk orang seperti Anda, Tuan. Jika tidak, mungkin Anda akan mengalami suatu penyakit karena menahan kotoran atau cairan yang harus segera dikeluarkan,” Cindy menambahkan. Cindy yakin bahwa saat ini Jonathan pasti menyesali tindakannya. Bayangkan saja jika Jonathan harus menunggu dirinya saat dalam keadaan terjepit, bisa-bisa ruangannya berubah menjadi tempat yang menjijikkan. Jonathan tidak membalas ucapannya, melainkan laki-laki tersebut melanjutkan langkahnya menuju pintu keluar. *** “Aunty, jika Tere pulang apakah Aunty  akan melupakan Tere?” tanya Tere sambil menidurkan kepalanya di pangkuan Cindy. “Tidak, Sayang. Aunty akan selalu mengingat Tere,” Cindy menjawab sambil mengelus kepala Tere. “Benarkah?” Tere menatap wajah cantik milik wanita yang sedang memangku kepalanya. “Benar, Sayang,” Cindy meyakinkan jawabannya kepada Tere. “Apakah nanti Aunty mau mengunjungi Tere di sana?” Tere masih menatap penuh harap kepada Cindy. “Tentu saja mau, Sayang.” Cindy sebenarnya merasa bersalah menjawab seperti itu karena sangat mustahil jika dirinya ke sana semata-mata hanya untuk mengunjungi Tere. Bisa-bisa dia langsung diusir oleh Jonathan. “Aunty, Tere boleh minta nomor ponselnya? Seandainya Tere kangen, Tere bisa menghubungi Aunty dan berbicara langsung dengan Aunty,” pinta Tere yang sudah bangun dari posisinya. “Boleh. Tunggu sebentar ya.” Cindy berdiri dan berjalan menuju meja kerjanya kemudian mengambil kartu nama lalu memberikannya kepada Tere. “Terima kasih, Aunty. Nanti Tere minta pada  Alyssa atau Sophia untuk menyimpannya.” Tere memasukkan kartu nama pemberian Cindy ke dalam saku roknya. “Tere pasti sangat merindukan Aunty nanti,” ucapnya sambil memeluk Cindy yang sudah kembali duduk di sebelahnya. “Aunty juga pasti merindukan Tere.” Cindy membalas pelukan Tere. “Tere jangan suka melawan pada Daddy. Tere harus menjadi anak yang penurut. Aunty kurang senang dengan anak nakal, apalagi yang selalu membantah kata-kata orang tuanya,” Cindy mengingatkan sekaligus menasihati Tere. Tere langsung manggut-manggut dalam pelukan Tere. Saat Cindy ingin mengurai pelukannya pun dia menahannya, seolah tidak mau berpisah. Suara pemberitahuan kru pesawat kepada penumpangnya membuat Jonathan tersadar dari lamunannya. Mengingat pesawat akan landing, Jonathan pun membenarkan sabuk pengaman Tere kemudian mengecup sayang kening sang anak. Jonathan mengambil penerbangan jam empat sore waktu New York. Perbedaan waktu antara New York dengan Jenewa adalah enam jam. Jonathan melakukan penerbangan langsung, tanpa transit dulu dan itu ditempuh kurang lebih delapan jam lamanya.   
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD