Seorang wanita tersenyum lebar saat melihat seseorang yang sudah ditunggunya dari dua puluh menit lalu sedang menggandeng tangan anak kecil. Wanita itu menghampiri mereka dan langsung memeluk sang lelaki terlebih dahulu untuk melepaskan kerinduannya. Namun, laki-laki tersebut hanya membalasnya biasa saja.
“Hai, Sayang, sini Aunty peluk. Aunty sangat merindukanmu, Nak.” Felly berjongkok dan merentangkan tangannya agar Tere menghambur ke pelukannya.
Tere yang masih setia memeluk boneka Lila langsung mendongak menatap Jonathan.
Jonathan mengembuskan napas, mengerti dengan tatapan putrinya tersebut. “Fell, sepertinya Tere masih lelah dan mengantuk,” ucapnya dan segera menggendong Tere.
Raut wajah kecewa Felly sangat jelas terlihat meskipun senyum lebar masih membentuk bibirnya yang diberi warna merah. Felly berdiri dari posisi berjongkoknya, kemudian membelai kepala Tere yang ditutupi kupluk. “Sayang, digendong sama Aunty saja ya. Kasihan Daddy kelelahan,” tawarnya pada Tere.
Tere menanggapi tawaran Felly dengan gelengan kepala berulang-ulang.
Melihat tanggapan Tere, Felly tidak kehabisan akal. Dia mempunyai berbagai cara menghadapi setiap penolakan gadis kecil yang akan menjadi anak tirinya tersebut. “Kalau begitu biar Aunty saja yang membawakan bonekanya ya,” bujuknya lagi.
Tanpa memikirkan bujukan Felly, Tere kembali menggeleng.
“Atau nanti Aunty belikan boneka yang jauh lebih bagus dan besar dari ini?” Felly kembali memberikan penawaran kepada Tere.
“Tidak mau!” teriak Tere setengah membentak di dalam gendongan ayahnya.
Felly terkejut mendengar teriakan Tere, berbeda dengan Jonathan yang sudah menduga hal seperti ini akan terjadi.
“Maafkan Tere, Fell. Mungkin karena saking lelahnya sehingga Tere menjadi seperti ini,” Jonathan meminta pengertian kepada Felly mengenai sikap kurang sopan anaknya.
“Tidak apa-apa, Joe. Aku mengerti. Sebaiknya kita segera pulang, supaya Nona Kecil ini cepat bisa beristirahat,” ajak Felly sambil mencoba mencium kepala Tere, tapi anak kecil tersebut malah menelusupkan kepalanya pada leher sang ayah.
“Ayo.” Jonathan berjalan sedikit kesusahan karena dia harus menggendong Tere beserta boneka Lila yang tidak pernah lepas dari tangan sang anak.
Felly yang berjalan di belakang Jonathan menatap tak suka pada Tere yang sekarang sedang memejamkan mata. “Sebelum ayahmu menjadi milikku seutuhnya, aku akan menoleransi semua sikap kurang ajarmu, Theresia!” ucapnya dalam hati sambil menatap tajam ke arah Tere.
Tere tidak benar-benar tidur, dia bisa melihat raut wajah kecewa sekaligus menahan amarah wanita yang mau dinikahi ayahnya nanti. Wanita yang sangat tidak dikehendakinya menjadi ibu sambungnya. Tere juga melihat tangan kedua wanita itu terkepal di sisi kiri dan kanan tubuhnya. Wanita itu terlihat mempercepat langkahnya dan akhirnya berada tepat di samping sang ayah.
***
Di dalam mobil yang membawa Jonathan ke kediamannya sangat hening. Tere masih setia memejamkan mata, lebih tepatnya pura-pura tidur. Tere sekarang berada dalam pangkuan Jonathan dan membenamkan wajahnya pada d**a hangat milik ayahnya. Tere pun bisa mendengar semua percakapan antara ayahnya dengan Felly yang duduk bersebelahan.
“Joe, sini pindahkan Tere. Biar aku saja yang memangkunya.” Felly kembali ingin mencari simpati Jonathan.
“Tidak apa-apa, Fell. Biarkan saja Tere seperti ini biar tidak terbangun, sebentar lagi juga kita tiba di rumah,” Jonathan menolak secara halus tawaran Felly karena dia yakin bahwa anaknya tidak benar-benar tidur.
“Apakah di sana dia ada masalah, sehingga membuatnya bad mood seperti ini?” Felly menanyakan penyebab akan sikap Tere kepadanya. Tere biasa bersikap seperti ini jika dia sedang bad mood.
“Tidak. Mungkin hanya karena kelelahan saja, Fell. Kamu jangan memasukkan ke hati sikapnya hari ini yang tidak bersahabat ya,” pinta Jonathan kepada Felly.
“Tentu saja tidak, Joe. Aku sudah menganggap Tere seperti anak kandungku sendiri. Bahkan, sejak dia baru lahir,” Felly memberikan jawaban sambil mengelus kaki Tere yang ada di pangkuan Jonathan. “Bukankah cepat atau lambat dia memang akan menjadi anakku juga, Joe,” imbuhnya sambil tersenyum.
Jonathan tidak menjawabnya. Dia harus memikirkan matang-matang sebelum mengambil keputusan, terlebih karena menyangkut anaknya. Demi membuktikan ucapan Cindy, dia sendiri yang akan menyelidiki kasus kematian mendiang istrinya. Dia akan mencari orang yang benar-benar bisa membantunya dan punya jam terbang tinggi dalam hal ini. Dia juga akan menyelidiki orang-orang yang selama ini menjadi penyedia informasi untuknya, termasuk Felly.
Semenjak kejadian malam itu, saat makan malam di kediaman orang tuanya, perkataan-perkataan Cindy selalu menghantui pikirannya. Jonathan tidak menampik analisa Cindy yang menurutnya masuk akal, makanya dia mempercepat kepulangannya agar bisa menyelesaikan kasus ini sesegera mungkin. Jonathan akan tetap menyuruh Felly melanjutkan penyelidikannya seperti biasa, karena dia tidak ingin wanita tersebut menaruh curiga. Dia pun tidak memberi tahu Felly mengenai rencananya ini. Jonathan juga mengingat perkataan sang ibu, jika dirinya terus seperti ini maka mendiang istrinya tidak akan tenang berada di alam keabadian.
***
“Selamat datang, Tuan.” Alyssa membungkuk penuh hormat saat memberi salam pada majikannya yang baru datang.
Jonathan menanggapinya hanya dengan anggukan. “Siapkan kamar untuk Tere,” perintahnya pada wanita paruh baya yang sudah sangat lama bekerja dengannya.
“Sudah, Tuan. Sophia sudah menyiapkannya dari kemarin,” jawab Alyssa. “Biar saya saja yang menidurkan Nona Kecil di kamarnya, Tuan. Tuan pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan jauh,” ucapnya.
Felly menatap tajam Alyssa dari balik punggung Jonathan, tapi wanita paruh baya tersebut hanya mengabaikannya.
“Tidak usah. Bantu saja Felly membawa barang-barang saya dan Tere.” Jonathan kasihan kepada Alyssa jika harus menggendong putrinya yang berat menuju kamar.
“Baiklah, Tuan,” Alyssa menuruti perintah Jonathan. “Biar saya saja yang membawanya, Nona.” Alyssa mengambil alih tas yang dia tebak milik Nona Kecilnya dari tangan Felly.
“Sophia, bantu saya membawa barang-barang milik Tuan dan Nona Kecil,” pinta Alyssa kepada Sophia yang terlambat menyapa Jonathan.
“Dasar wanita tua bermuka dua!” umpat Felly, tapi masih memungkinkan untuk didengar oleh Alyssa.
“Ada yang mau Anda katakan, Nona? Jika ada, langsung saja katakan,” ucap Alyssa sambil tersenyum, tapi nadanya cukup datar.
Felly membalasnya dengan tatapan tajam. Dia sengaja menyenggol bahu Alyssa saat berjalan ke dalam rumah. “Ingat! Jangan pernah mencoba bermain-main dengan seorang Felicia, jika dirimu masih mau bekerja di rumah ini!” ancamnya penuh tekanan.
Alyssa hanya mengangkat bahunya tak acuh setelah menanggapi ancaman Felly.
***
“Sophia, tolong kamu jaga dan awasi Tere saat saya pergi. Kamu harus selalu menemaninya,” pinta Jonathan kepada pengasuh sang anak saat dirinya kembali dari membersihkan diri dan mengganti pakaian di kamar pribadinya.
“Memangnya kamu mau ke mana, Joe?” Felly yang sedang duduk di ruang tamu menanyakan kepergian sang pemilik rumah.
“Aku mau ke kantor, Fell. Sudah lama aku meninggalkan pekerjaan dan menyuruhmu menanganinya,” Jonathan menjawabnya dengan santai.
“Kalau begitu aku ikut denganmu, Joe,” ucap Felly yang sudah berdiri dari duduk santainya.
“Sebaiknya kamu istirahat saja, Fell. Kamu pasti sangat lelah setelah menerima banyak tanggung jawab selama aku pergi,” pinta Jonathan kepada Felly yang sekarang sudah berdiri di sampingnya.
“Tidak apa-apa, Joe. Aku ikhlas melakukannya. Kamu yang seharusnya beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh. Urusan kantor bisa kamu kerjakan mulai besok,” Felly menyuruh balik Jonathan untuk beristirahat.
“Tidak, Fell. Lagi pula aku hanya sebentar saja ke kantor. Kamu bisa beristirahat di sini jika malas pulang. Kamar tamu yang selalu kamu tempati tetap terbuka untukmu. Aku berangkat dulu.” Jonathan melenggang meninggalkan Felly yang masih ingin membujuknya.
“Baiklah, jika itu maumu. Akan aku memanfaatkannya untuk kembali melakukan pendekatan terhadap Tere, karena sepertinya anakmu mulai menjaga jarak denganku. Pasti ini ulah para pembantu sialan itu,” Felly berucap dalam hati.