“Mau, Sayang, asal Tere tidak nakal dan selalu menurut pada Daddy,” jawab Jonathan pura-pura memasang senyum manisnya pada Tere, tapi mendelik ke arah ibunya.
Rachel membuang muka melihat delikan Jonathan, sedangkan Christy pura-pura tidak memerhatikan adegan ibu dan anak di depannya.
“Hore!” Tere bertepuk tangan karena saking senangnya, Fanny pun spontan mengikutinya.
“Wah! Wah! Ternyata Tere akan segera mempunyai Mommy. Ingat nanti kenalkan sama Nenek dulu ya,” pinta Rachel kepada Tere. Namun, matanya melirik menggoda ke arah Jonathan.
“Pasti, Nek. Nanti Tere akan kenalkan Nenek sama Aunty Angel dan meminta Aunty Angel supaya mau menjadi Mommy-nya Tere,” kata Tere dengan senyum manisnya.
Christy terbatuk-batuk mendengar ucapan polos Tere, sedangkan Jonathan langsung menatap terkejut sang anak di sebelahnya. Rachel menatap bergantian wajah menantu, anak, dan cucunya penuh tanya.
“Angel? Oh, jadi nama calon Mommy untuk Tere adalah Aunty Angel,” Rachel meyakinkan cucunya dengan nada menggoda. Dia sengaja melakukannya sambil menatap anak sulungnya.
Christy menahan senyum mendengar nada menggoda ibu mertuanya yang di alamatkan kepada sang kakak ipar.
“Benar, Nek, Aunty Angel sangat cantik dan baik. Tere nyaman sekali bersamanya.” Tere benar-benar tidak bisa menyembunyikan rasa senangnya.
Berbeda dengan Christy yang berusaha keras membasahi tenggorokannya yang tiba-tiba mengering akibat ucapan polos Tere. Jonathan semakin terperangah menatap putrinya yang berbicara dengan bahagia dan santainya.
“Siapakah Aunty Angel yang dimaksud Tere, sehingga membuatnya sangat bahagia seperti sekarang? Aku harus mencari tahu, bila perlu mengajaknya bertemu langsung. Yang pasti bukan bertanya kepada Steve maupun istrinya, bisa-bisa aku menjadi korban kejahilan mereka. Mengingat sifat dan tingkat kejahilan keduanya,” ucap Jonathan dalam hati.
“Ayo, Sayang, kamu harus tidur. Hari sudah malam.” Christy mengambil Fanny yang sudah menguap di pangkuan Jonathan. ”Tere juga harus tidur,” sambungnya pada Tere.
“Ingat, Aunty. Jika menjenguk Aunty Cella, jangan lupa ajak Tere juga ya,” Tere mengingatkan saat pipinya dicium Christy.
“Iya, Aunty janji,” balas Christy pada Tere. “Ma, Joe, aku mau menidurkan Fanny dulu,” pamitnya kepada Jonathan dan Rachel yang langsung diangguki oleh mereka.
Setelah Christy berlalu dan menaiki anak tangga, Jonathan juga menyuruh anaknya tidur. Jonathan berdiri dan hendak mengekori anaknya menuju kamar, tapi langkahnya tertahan oleh suara Rachel.
“Ingat kenalkan kepada Mama, Nak, sosok Aunty Angel yang dimaksud oleh putrimu itu,” goda Rachel sambil berlalu ke dapur.
“Mama!” Jonathan menggeram mendengar godaan ibunya yang tertawa menuju dapur.
“Joe, Joe, kamu seperti anak muda saja yang baru jatuh cinta,” ucap Rachel sebelum sampai di dapur.
Jonathan tidak menghiraukan lagi ucapan sang ibu. Dia lebih memilih segera menyusul Tere sudah memasuki kamar tidurnya.
***
“Ayo, katakan. Aku sudah selesai,” pinta Steve setelah mengelap sudut bibirnya dengan tissue.
“Langsung saja ya, Steve. Aku sedang malas berbasa-basi,” ucap Cindy serius.
Steve mengangguk, memberi isyarat agar Cindy memulainya.
“Sebelumnya maafkan aku, Steve. Bukannya aku ingin mencampuri urusan keluarga kalian,” Cindy mulai berbicara sambil menunggu reaksi Steve.
“Katanya tadi kamu sedang malas berbasa-basi, tapi kenapa se ….”
Ucapan Steve langsung dipotong oleh Cindy. “Iya, iya, ini mengenai Tere. Kalau boleh aku tahu, ibunya Tere ke mana? Lalu kenapa saat melihatku, dia seperti memendam kerinduan yang sangat mendalam pada ibunya?” tanyanya dalam satu tarikan napas.
“Huh! Ternyata hal itu yang ingin kamu tanyakan padaku.” Steve menghela napasnya sebelum menjawab pertanyaan Cindy.
Cindy hanya menyengir setelah mendengar Steve menghela napas. Dia menanti jawaban yang akan diberikan oleh sahabatnya tersebut.
“Ibunya sudah meninggal saat melahirkannya, jadi Tere tidak sempat melihat atau mengetahui seperti apa dan bagaimana wajah wanita tersebut secara langsung. Selama ini Tere tahu wajah ibunya hanya melalui foto. Mungkin saat Tere melihatmu, dia merasa nyaman dan bayangan tentang ibunya terdapat dalam dirimu,” jawab Steve sedih.
“Hanya itu?” selidik Cindy.
“Mungkin juga karena wajah kalian sama-sama campuran Asia,” Steve menambahkan sambil mengamati Cindy. “Oh ya, kamu sudah mempunyai kekasih?” tanyanya penasaran. Semenjak cinta Cindy terhadap George bertepuk sebelah tangan, dia tidak pernah mendengar jika sahabatnya ini kembali menjalin kasih.
“Penting buatmu mengetahuinya?” Cindy bertanya balik dengan nada datar. Dia memang tidak suka jika ditanya mengenai urusan asmaranya, apalagi oleh sahabatnya. Sebab mereka pasti akan menggodanya habis-habisan.
“Santai saja, Cindy. Jangan sensitif begitu, walaupun aku tahu kamu be ….” Steve tidak bisa melanjutkan ucapannya karena Cindy telah mendeliknya. “Maaf. Tapi, aku serius bertanya. Kamu sudah mempunyai kekasih atau sedang menjalin pendekatan?” tuntutnya.
Cindy mengembuskan napasnya sedikit kasar, kemudian menggeleng. “Aku mau fokus dulu dengan pekerjaanku, Steve. Aku ingin membuat orang tuaku bangga. Kamu tahu sendiri, jika aku anak tunggal dan keluargaku juga bukan dari kalangan konglomerat sepertimu,” jawabnya sendu.
Steve mengangguk. “Tapi jangan lupa juga jika umur kita terus bertambah. Satu lagi, kata konglomerat itu bisa kamu hapus dari kosa katamu?” pintanya dengan nada tak suka. Dia dan yang lainnya memang tidak suka jika sahabatnya ini mengukur persahabatan mereka dengan kekayaan.
“Maaf, aku lupa.” Cindy menyengir.
“Cindy, seandainya ….” Steve memberi jeda pada ucapannya. “Ingat ini hanya kata seandainya. Kamu jangan tersinggung atau marah ya. Jika aku mengenalkanmu pada Kakakku, apakah kamu mau?” sambungnya dengan sangat hati-hati.
Cindy tersedak mendengar pertanyaan Steve. Otaknya langsung teringat dengan sosok pria yang tadi pagi menemuinya di basement rumah sakit, kemudian dia menatap horor pada sahabat di depannya. Saat hendak menjawab, Steve sudah mendahuluinya.
“Cindy, maksudku hanya berkenalan saja. Ya … aku tahu jika Kakakku sudah duda dan tidak pantas mendapatkan dirimu yang masih gadis. Ditambah lagi bahwa Kakakku sudah mempunyai seorang anak. Tapi ini semua demi perkembangan psikologis Tere,” Steve menjelaskan maksudnya agar Cindy tidak salah paham.
“Maksudnya?” Cindy tertarik saat Steve menyebut nama Tere.
“Anak itu sangat mendambakan kehadiran sosok ibu dalam perkembangannya. Semenjak bertemu denganmu di rumah sakit, dia kembali ceria dan seperti anak seusianya. Maukah kamu memberinya kasih sayang itu kepada Tere? Sebagai sahabatmu aku minta tolong padamu,” pinta Steve memelas.
Cindy berpikir sejenak. Entah kenapa mengingat wajah dan senyum Tere beberapa waktu lalu di rumah sakit, kemudian membandingkannya dengan cerita Steve sekarang menumbuhkan rasa iba sekaligus kasihan terhadap gadis imut itu. Ingin sekali dia menjadi teman anak itu, tapi mengingat wajah ayahnya yang jelas-jelas begitu membencinya membuatnya sedikit meragu.
“Bagaimana, Cindy?” Steve menganggu lamunan Cindy.
“Hm … jika hanya untuk Tere, aku mau. Namun, jika berkenalan atau bahkan menjalani pendekatan dengan ayahnya, aku tidak mau Steve,” jawab Cindy tegas.
“Baiklah, aku mengerti. Terima kasih, Sahabatku,” ucap Steve tulus.
“Oh ya, Steve, apakah ayahnya tidak akan melarang jika aku berhubungan dengan anaknya?” Cindy bertanya ragu.
“Tentu saja tidak, lagi pula kamu sahabatku. Jadi tidak mungkin dia melarang Tere berhubungan denganmu,” Steve memastikan sambil memanggil waitress.
“Steve, kenapa ibunya bisa meninggal saat melahirkan Tere?” tanya Cindy hati-hati.
“Karena kecelakaan,” Steve menjawab singkat. “Karena kamu sudah mau memberi kasih sayang seorang ibu kepada Tere, ayo kita pulang. Sudah mulai malam.” Dia sengaja mengalihkan pembicaraan dan melihat bill, kemudian memberikan uang tunai kepada waitress tersebut.
“Pesanan Christy sudah diambil?” tanya Cindy kepada Steve.
Steve menepuk keningnya. “Astaga! Hampir saja aku melupakannya. Bisa-bisa Christy mengomel terus jika tidak dibawakan pesanannya,” ucapnya.
Saat akan memanggil waitress lagi, Icha sudah berjalan ke arahnya dengan membawa kotak kue.
“Steve, ini pesanan istrimu.” Icha menyerahkan bungkusan di tangannya pada Steve.
“Terima kasih, Cha.” Steve kembali mengeluarkan uangnya untuk membayar pesanan istrinya.
“Kami pulang dulu, Cha. Titip salam sama Aunty Keira,” pamit Cindy mewakili Steve kepada Icha.
“Nanti aku sampaikan, kalian hati-hati,” balas Icha sambil melambaikan tangan.
“Tuhan, bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Cindy pada dirinya sendiri saat memasuki mobil. Steve telah lebih dulu meninggalkannya usai berpamitan kepada Icha, katanya dia sudah sangat merindukan istri dan anaknya.