Chapter 5

1649 Words
Seorang wanita cantik sedang duduk manis di sebuah bangku dekat jendela sambil menikmati semilir angin sore yang membelai dirinya. Wanita itu tengah asyik memainkan permainan onet klasik yang ada pada ponsel di tangannya sambil menunggu kehadiran seseorang. Karena saking seriusnya dengan permainan tersebut, dia tidak menyadari kehadiran seorang pria tepat di belakangnya. Pria tersebut sedang mengintip apa yang dikerjakan oleh wanita yang duduk memungguginya. “Ternyata masih betah juga dengan permainan itu.” Mendengar suara pria yang sudah dihafalnya, Cindy segera menghentikan kelincahan jari-jari lentiknya di atas layar ponselnya. “Eh, kamu sudah di sini rupanya,” tanggap Cindy sambil menyudahi permainannya. Steve mencium kedua pipi Cindy bergantian. “Sudah dari tadi,” jawabnya setelah menduduki kursi di hadapan Cindy. “Jika ada mata-mata istrimu yang melihat dan melaporkannya, bisa-bisa aku dicakar olehnya. Secara istrimu itu seperti singa betina,” ejek Cindy. Steve tersenyum mendengar ejekan sahabatnya yang satu ini. “Tenang saja, jika aku hanya mencium pipimu dia tidak akan marah. Berbeda halnya jika aku mencium bibirmu, baru dia mengamuk dan mungkin akan membantaimu,” balasnya menggoda. Dia terkekeh saat melihat wajah Cindy yang sudah memerah karena ucapannya. “Ya, Tuhan. Ada apa dengan dirimu, Steve? Mengapa kamu punya pikiran jahat seperti itu? Apakah kamu senang melihatku ditindas oleh istrimu?” Cindy benar-benar tidak menyangka jika sahabatnya yang satu ini sekarang sudah pandai menggodanya. “Jika mata-mata Christy benar ada di sini atau istrimu sendiri yang datang tiba-tiba, aku yakin dia tidak akan segan lagi menerkamku. Aku jamin kamu pun akan bernasib sama denganku. Lebih parahnya lagi bisa saja kamu akan langsung dicoret menjadi suaminya,” Cindy melanjutkan dengan nada kesal. Steve tidak merasa takut dengan ucapan sahabatnya, melainkan dia menikmati semua cerososan yang keluar dari bibir mungil itu. “Sudah selesai mengomelnya, Nona Wilson? Aku mau memesan dulu.” Steve melambaikan tangannya pada Icha yang saat itu melihat ke arahnya. “Kamu mau tambah pesanan lagi?” tanya Steve setelah Icha memberinya daftar menu. “Tidak. Punyaku masih banyak,” tolak Cindy sambil menggeleng. “Kenapa kalian hanya datang berdua? Christy tidak ikut?” tanya Icha sambil menunggu Steve menyampaikan pesanannya. “Tidak, dia sedang di rumah. Kami di sini sedang berkencan,” Steve menjawab asal sambil masih memerhatikan daftar menu di tangannya. “Steve!” Cindy benar-benar dibuat kesal oleh Steve. Dia melihat ke arah Icha yang menampakkan raut wajah terkejut setelah mendengar jawaban Steve. “Tidak, Cha, dia hanya bercanda. Kami ke sini untuk membicarakan urusan penting. Kamu jangan salah persepsi dulu, Cha. Selama ini kami hanya bersahabat dan dapat dipastikan untuk ke depannya tidak akan ada hubungan yang lain,” Cindy meyakinkan Icha dengan nada serius. Dia takut Icha akan berpikiran buruk tentangnya. “Tenang saja, aku percaya padamu,” balas Icha lalu mencatat pesanan Steve. “Tunggu sebentar ya, Steve,” pinta Icha pada Steve dan dia pun undur pamit. “Steve, kamu jangan keterlaluan begitu menggodaku. Aku tidak suka!” Cindy memperingatkan Steve dengan tegas. “Iya, iya, aku minta maaf. Tadi aku hanya iseng saja. Lagi pula aku tidak mungkin bisa berpaling dari sosok Christy. Harus jatuh bangun dulu baru aku bisa memilikinya seperti sekarang,” Steve berkata sambil bernostalgia dengan kenangan bersama istrinya. Cindy tersenyum melihat Steve yang sangat mengagumi pendamping hidupnya. “Makanya kalau sudah tahu susahnya jatuh bangun untuk bisa bersatu bersama Christy seperti sekarang, jangan coba-coba atau berani bermain hati dengan wanita lain, jika tidak mau menyesal di kemudian hari,” Cindy kembali mengingatkan Steve. Steve mengangguk tanda setuju. “Oh ya, apa yang ingin kamu bicarakan tadi di telepon, sampai-sampai mengajakku bertemu seperti sekarang?” Steve teringat maksud dan tujuannya bertemu dengan Cindy. Cindy mengurungkan niatnya saat akan menjawab pertanyaan Steve karena terganggu oleh datangnya waitress yang membawakan pesanan sahabatnya tersebut. “Terima kasih,” ucap Cindy kepada waitress setelah selesai menata cake yang dipesan Steve. “Mari kita nikmati dulu cake lezat ini sebelum membahas yang ingin aku bicarakan padamu,” ajak Cindy kepada Steve. Mereka pun mulai menikmati pesanannya masing-masing. *** “Aunty, kapan mau menjenguk Aunty Cell dan Uncle Al lagi?” tanya Tere saat mengikuti Christy mengganti baju Fanny yang kotor terkena bubur. “Belum tahu, Sayang. Kenapa?” Christy menoleh pada sosok imut di sampingnya. “Tere ingin melihat bayi kembar mereka, juga ….” Tere tidak melanjutkan ucapannya karena malu. Christy mengangkat Tere dan mendudukkannya di sebelah Fanny yang masih telentang di atas ranjang king size miliknya. “Juga apa, Sayang?” Christy sebenarnya sudah tahu maksud Tere, tapi dia tetap menggoda anak kecil imut itu. Tere tersenyum malu sambil menggelengkan kepalanya, sehingga rambutnya yang dikuncir kuda ikut meliuk-liuk. “Ayo, katakan. Juga apa, hm? Kalau Tere tidak bilang sekarang, saat Aunty dan Uncle mau berkunjung lagi maka Tere ti ….” Christy sengaja melambatkan ucapannya agar Tere terpancing. “Tere ingin bertemu Aunty Angel,” Tere menjawabnya dengan cepat dan setengah berteriak sehingga membuat Fanny yang tengah asyik berusaha memasukkan tangan ke dalam mulutnya menoleh, kemudian tertawa. Christy menatap geli keponakan suaminya itu yang sekarang sedang berusaha menutupi wajahnya dengan telapak tangan mungilnya. “Oh, jadi Tere kangen Aunty Angel juga ternyata,” godanya sambil berusaha melepaskan dengan pelan tangan Tere yang menutupi wajahnya sendiri. Hal itu membuat Fanny kembali tertawa, mungkin dia merasa Mama dan kakak sepupunya sedang mengajaknya bercanda. “Iya, Aunty, jadi Tere boleh ikut lagi?” pinta Tere malu-malu setelah Christy berhasil melepas tangannya. “Aunty tidak masalah kalau Tere ingin ikut, tapi Tere harus minta izin dulu pada Daddy,” pinta Christy lembut. “Oke, Aunty, nanti Tere bilang pada Daddy,” jawab Tere senang dan antusias. Melihat anggukan Christy, Tere memeluk ibu satu anak tersebut yang berlutut di pinggir ranjang. Bahkan, Tere tidak segan  menghujani wajah Christy dengan ciuman. “Terima kasih, Aunty,” pintanya. “Kembali kasih, Sayang.” Christy membalas pelukan Tere. Dia mencium Tere dan Fanny secara bergantian di depannya. Christy tidak menyadari jika ada seseorang sedang melihat dan memerhatikan kegiatan mereka dari celah pintu dengan mata berkaca-kaca. ”Semenjak berada di sini, senyum dan tawa itu sangat mudah sekali tercipta dari bibirnya,” gumamnya sebelum menjauhi pintu tersebut. “Ayo, Sayang, kita turun. Daddy dan Nenek pasti sudah menunggu kita,” ajak Christy menurunkan Tere dari ranjangnya, kemudian membawa Fanny ke dalam gendongannya. “Let’s go,” ucap Tere riang sehingga membuat Fanny kembali ikut tertawa. *** “Joe, kamu sudah panggil mereka?” Rachel bertanya saat menyusun makanan di atas meja dibantu asisten rumah tangganya. “Sebentar lagi mereka turun, Ma.” Jonathan berjalan mendekati kursi. “Daddy!” teriak Tere dari pertengahan anak tangga. “Baru saja dibicarakan, mereka sudah datang,” ucap Jonathan pada ibunya, kemudian beralih ke arah suara. “Pegangan sama Aunty Chris, Sayang,” pintanya pada Tere sedikit berteriak. “Tidak mau, Tere mau digendong seperti Fanny,” balas Tere sambil tersenyum lucu ke arah Christy yang berada di sebelahnya. “Tidak mau. Daddy tidak mau gendong. Tere berat,” tolak Jonathan berpura-pura. Namun, tetap menuju di mana anaknya sedang berdiri. “Kalau begitu nanti Tere tidur sama Nenek dan Kakek saja.” Tere memperlihatkan wajah cemberutnya yang membuat Christy geleng-geleng kepala melihatnya. “Baiklah, baiklah, Daddy mengalah pada putri Daddy yang cantik seperti boneka ini.” Jonathan sudah berada di dekat anaknya lalu segera menggendongnya. Jonathan menyempatkan diri mencium pipi gembil Fanny yang digendong menghadap ke depan oleh Christy. “Uncle perhatikan, kamu tidak pernah berhenti tertawa, Baby,” ucapnya sambil mencubit gemas pipi Fanny. “Dia seperti Steve yang murah senyum dan mudah tertawa,” Christy menanggapi sambil menuruni anak tangga bersamaan dengan kakak iparnya. Kini Christy, Jonathan, Rachel, dan Tere sudah menduduki tempat masing-masing di ruang makan. “Ma, Papa tidak ikut makan malam bersama kita?” tanya Jonathan setelah mengisi nasi beserta lauk piring Tere. “Tidak, Papamu sedang lembur,” jawab Rachel sambil menaruh sup ke mangkok menantunya karena Christy sedang memangku Fanny dan kesusahan menjangkaunya. “Terima kasih, Ma,” ucap Christy sambil tersenyum. “Nenek, Fanny sangat lucu,” celetuk Tere saat melihat Fanny sedang berusaha menggapai-gapai tangan Christy yang tengah menyuap makanan. “Benar, Sayang. Fanny jahil seperti Uncle Steve yang sangat senang mengganggu Aunty Chris saat makan,” jawab Rachel. Seperti tahu sedang dibicarakan Fanny tertawa dan semakin mengganggu ibunya yang tengah makan. Jonathan yang kasihan melihat Christy pun berinisiatif menghampiri kursi adik iparnya. “Chris, biar aku yang memangku Fanny, kamu selesaikan dulu makanmu.” Jonathan mengambil Fanny dari pangkuan Christy. Dia membawanya duduk di pangkuannya–di sebelah Tere. “Anak manis tidak boleh nakal,” ucapnya lembut kepada Fanny. “Apakah nanti tidak mengganggu kegiatan makanmu, Joe?” tanya Christy merasa tak enak. “Tidak apa, sewaktu Tere seumuran Fanny juga sering aku pangku seperti ini,” jawab Jonathan sambil sesekali memerhatikan Fanny di pangkuannya. Fanny seperti tahu diri, dia tidak berulah lagi setelah dipangku pamannya. Makan malam pun kembali berjalan lancar. *** Setelah beberapa menit selesai makan malam, mereka masih betah duduk di kursi masing-masing untuk mengobrol ringan dan Fanny masih setia berada di pangkuan pamannya. Tiba-tiba suara Tere yang sebelumnya sedang bercanda dengan Fanny mengalihkan obrolan mereka. “Nek, kalau nanti Tere mempunyai saudara, boleh tidak yang seperti Fanny. Cantik dan lucu?” tanya Tere polos. “Boleh, Sayang. Namun Tere harus mempunyai Mommy dulu, baru Tere bisa memiliki saudara seperti Fanny,” jawab Rachel sambil melirik Jonathan. Tere yang tidak mengerti dengan ucapan sang nenek pun hanya menatap bingung Rachel. “Coba tanyakan pada Daddy, Sayang. Mau tidak Daddy mencarikan Mommy untuk Tere?” pinta Rachel lagi kepada Tere saat menyadari kebingungan cucunya tersebut. Tere langsung mengangguk tanpa berpikir panjang. “Maukah, Dad?” tanyanya polos kepada Jonathan. Christy memerhatikan wajah kakak iparnya yang terlihat menegang karena ucapan ibu mertuanya. Dari tempat duduknya dia menunggu reaksi dan jawaban yang akan diberikan Jonathan kepada Tere.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD