7

1731 Words
Ruang tamu kecil itu terasa lebih dingin dari biasanya, meski angin malam hampir tak bergerak. Faten berbaring miring di sofa dengan selimut tipis menutupi tubuhnya. Namun, matanya enggan terpejam. Semua pikirannya berputar ke satu titik: Taran. Bagaimana wajah mungil itu menangis sesenggukan di d**a Faten tadi siang. Bagaimana jemari Taran bergetar panik ketika ia kesulitan bernapas. Dan,sialnya, betapa cepatnya pipi itu memerah ketika Faten menciumnya. Faten menutup mata. "Apa yang sudah kulakukan? Kenapa aku harus terbawa perasaan sampai mencium dia seperti itu? Dia ketakutan… tentu saja dia ketakutan. Imut seperti itu… dan aku malah…" Faten menghentikan pikirannya sendiri. Ia mengusap wajah, kedua telapak menekan mata, menahan campuran malu dan sesal yang menggigit dalam dadanya. “Aku benar-benar bodoh,” gumamnya. “Dia belum mengenaliku. Dia masih terjebak jadi anak remaja yang ketakutan. Dan aku… bertindak seperti suami yang lupa batas.” Ia membalikkan posisi, menatap langit-langit. Taran tadi tidak memukul, tidak mendorong kasar, tidak menatap jijik. Justru wajah Taran berubah merah seluruhnya. Gemetar malu dan…kebingungan yang begitu manis hingga membuat jantung Faten kembali berdebar. “Aku… harus sabar,” desahnya pelan. “Kalau ini harus kujalani dari awal, maka aku akan mulai dari awal.” Ia akhirnya memejamkan mata. --- Taran meringkuk di balik selimut, tubuh kecilnya bergetar… Jantungnya belum mau kalem sejak beberapa jam yang lalu. "Gila… gila… gila… Kenapa sih jantung gue begini?! Ini nggak normal! Serius, ini udah kayak mau ikut lomba lari tapi gue nggak daftar!"Ia menutup wajah dengan bantal, berguling ke kanan, lalu ke kiri. Selimut terseret-seret, kakinya menendang-nendang tanpa arah. Telinganya panas, pipinya panas, bahkan bagian d**a sampai perutnya terasa kayak direbus. Setiap kali ia ingat wajah Faten mendekat… jantungnya langsung dug-dug-dug sampai mau meledak. "Itu tuh… ciuman? Iya kan? Itu ciuman kan?! Kenapa rasanya beda banget?! Harusnya gue jijik! Harusnya gue tampar dia! Tapi kok gue malah…" Taran menggeram kecil sambil membenamkan wajah ke bantal. “Aduh, kenapa sih gue… malu banget, sumpah! Kenapa dia bisa lembut gitu sih?! Kenapa suara dia halus banget?!” Ia mengibaskan selimut, tubuhnya memanas seperti demam. Deg-degannya makin kacau setiap kali mengingat tangan Faten menyentuh pipinya. Tanpa sadar, ia berbisik, “Apa… dulu gue sayang banget sama dia ya?” Ia langsung menutup mulut sendiri dengan kedua tangan. "Apaan sih, Tar! Baru kenal sehari juga! Jangan halu!" Tapi dadanya itu tetap berdebar keras. --- Matahari baru menyelinap lewat sela gorden ketika Taran keluar dari kamar. Rambutnya masih berantakan, pipinya merah muda. Ia berjalan terlalu cepat. Di ruang tamu, Faten sudah berdiri rapi dengan kemeja kerja, merapikan lengan panjang sambil memeriksa jam. Wajahnya tenang, profesional, seperti biasa. Taran berhenti di ambang pintu. “…Morning,” ucapnya lirih, suaranya pecah seperti anak SMP yang ketahuan suka seseorang. Faten menoleh. Senyum hangat terbit di wajahnya,sangat lembut. “Pagi, Taran,” jawabnya dengan nada tenang. “Kamu semalam tidur nyenyak?” Ia meletakkan segelas s**u di meja dan menarikkan kursi. Taran langsung menunduk. "Ngah… kok dia biasa aja sih? Kemarin… itu… bukan ciuman penting ya? Ciuman cuma… kayak salam? Kayak dadah?" Pipinya makin panas, gumamnya. “I...Iya,” jawab Taran cepat. “Tidur…” Faten mengangguk tanpa curiga. Ia mengambil kunci mobilnya, memasukkan ke saku celana. “Aku harus berangkat sekarang." Hati Taran ngilu sedikit. Ia berharap Faten akan setidaknya membahas apa yang terjadi semalam. Tapi tidak. Tidak sama sekali. Faten mendekat. Taran refleks mundur setengah langkah, namun tubuhnya berhenti ketika tangan Faten menyentuh ujung kepalanya dan mengusap rambutnya dengan lembut. Lalu, tanpa memberi Taran waktu untuk memproses… Faten menunduk. Sebuah kecupan ringan mendarat di pipinya. “Jaga diri, ya,” ucap Faten sambil tersenyum kecil. “Kalau butuh apa-apa, telepon aku.” Taran membeku, kepalanya kosong. Jantungnya langsung naik ke tenggorokan. "Wahhh?? Ini apa lagi?! Ini juga ciuman?! Dia… dia biasa aja?? Kenapa gue doang yang deg-deg-an?!" gumamnya. Faten tidak melihat kekacauan mental Taran. Ia sibuk meraih tas kerjanya. “Ah iya,” lanjut Faten. Ia mengambil amplop kecil dari meja, lalu meletakkannya di tangan Taran. “Ini uang jajan. Kalau kamu mau keluar beli camilan atau makan siang. Jangan kebanyakan makanan pedas, ya.” Taran menatap amplop itu seperti menatap benda asing. “Uang… jajan?” “Hmm.” Faten tersenyum hangat. “Kan kamu belum kerja. Dan kamu suka makanan manis. Beli aja yang kamu mau.” Faten menepuk lembut kepala Taran sekali lagi sebelum berjalan ke pintu. “Aku pulang agak malam. Jangan takut, rumah aman. Kamu bisa tidur lagi kalau masih ngantuk.” Taran membuka mulut, ingin bicara, ingin bertanya apa ciuman kemarin penting atau bukan, tapi kata-katanya tersangkut. Faten sudah berdiri di depan pintu, menatap istrinya dengan embusan napas kecil yang penuh kasih sayang. “Sampai nanti, istriku.” Dan Taran berdiri di ruang tamu, memeluk amplop uang jajan, wajahnya merah sampai telinga. “…Dia biasa aja,” gumamnya murung tapi malu. “Dia… nggak anggap itu penting.” --- Mobil melewati jalanan kota yang masih setengah macet, lampu-lampu toko baru menyala. Faten menyandarkan tubuh, mencoba merapikan napas yang sejak tadi tidak tenang. Sisa rasa hangat di bibirnya masih mengganggu fokusnya. “Fokus, Faten. Kamu pegang nyawa orang,” gumamnya pelan. Ia menyalakan radio rendah, hanya agar tidak terjebak dalam pikiran sendiri. Hanya butuh beberapa menit sebelum gedung rumah sakit besar terlihat, tempat ia bekerja sejak internship, tempat yang sudah seperti rumah kedua. Setelah parkir, ia bergegas masuk lewat pintu staf, mengenakan ID card, dan aura profesional langsung menempel pada dirinya begitu telapak kaki menyentuh lantai rumah sakit. Ruang rapat kecil penuh dokter. Dr. Suryo (dokter bedah senior) membuka pembicaraan. “Faten,kasus pertama hari ini hernia strangulata. Pasien punya riwayat asma. Kamu pakai protokol yang nyaman jalan napas?” “Ya, Dok. Saya sudah siapkan rencana induksinya. Saya hindari pemicu bronkospasme,” jawab Faten sambil membuka berkas digital. Residen anestesi, Dina, mengangkat tangan. “Dok,pasien kedua tensinya semalam turun terus…” Faten menanggapi, “Saya sudah titipkan instruksi cairan. Kita cek ulang pagi ini. Kalau masih rendah, operasi bisa mundur sejam.” Perawat OK mencatat cepat. “Operasi elektif terakhir di-blok spinal,Dok?” “Betul. Usia pasien memungkinkan, dan risiko kecil.” Semua mengangguk. Rapat berakhir, semua langsung bergerak. --- Pasien laki-laki paruh baya tampak tegang. “Dok… saya bakal tidur total, kan?” Suara pasien bergetar. “Betul, Pak,” jawab Faten lembut sambil mengecek tekanan darah pasien. “Bapak akan tertidur tanpa rasa sakit.Saya yang jaga Bapak dari mulai tidur sampai bangun.” Istrinya memegang tangan suami erat. “Dokternya baik kok,Pak… tenang ya.” Faten tersenyum sopan. “Saya berusaha sebaik mungkin.Percayakan pada kami.” --- Perawat ruangan melapor, “Dok, pasien ini alergi cefazolin.” Faten menatap rekam medis. “Baik,ganti dengan clindamycin. Tolong catat besar-besarnya di papan pasien.” Pasien muda itu mengangkat tangan lemah. “Dok…saya takut mati…” Faten tersenyum dan menepuk lembut tangan pasien. Perawat OK menyapa, “Pagi,Dok Faten! Kita mulai?” “Mulai,” jawab Faten sambil memeriksa monitor. Ia memasang oksigen dan memberi obat induksi. “Pak,tarik napas dalam… bagus… sebentar lagi Bapak akan terasa mengantuk…” Pasien mulai tertidur. Dina (residen) bertanya gugup, “Dok,saya yang intubasi?” “Coba,” kata Faten. “Saya awasi.” Residen berhasil setengah, tapi agak meleset. “Tenang,” ujar Faten sambil memegang laringoskop. “Sudutnya kurang. Begini.” Ia memperbaiki posisi, memasukkan pipa dengan halus. Perawat mengumumkan, “Tekanan darah sedikit turun.” “Drip cairan cepat. Naikkan sedikit vasopressor,” perintah Faten cepat tapi stabil. Semua bergerak gesit. Pasien stabil kembali. --- Bari tiga sendok nasi masuk… BRIITTT— Pager berbunyi. Emergency IGD masuk. Faten menutup bungkusan makanan. “Baik.Saya turun sekarang.” Perawat kantin tersenyum iba. “Dokter Faten nggak pernah makan tenang,ya?” Faten balas senyum lelah. “Nyawa orang nggak bisa diajak makan siang,hehehe....” --- Di ruang operasi, dokter IGD menjelaskan cepat. “Dok,laki-laki 24 tahun, luka tusuk abdomen. Tekanan drop.” “Baik. Induksi cepat. Siapkan intubasi RSI,” ujar Faten tegas. Perawat memasang alat, residen mengambil posisi. “Dina, jangan panik. Kamu bisa,” kata Faten. Operasi berjalan intens. Setiap menit tergantung pada stabilitas anestesi. “Tekanan 75/40, Dok!” teriak perawat monitor. Faten langsung, “Berikan norepinephrine.Buka cairan penuh. Ventilasi naikkan sedikit.” Setengah jam kemudian, tekanan stabil. Dokter bedah berkata sambil menghela napas, “Bagus,Faten. Pasien selamat karena respons cepatmu.” Faten hanya mengangguk. “Semua karena kerja tim.” Di Recovery Room, “Bagaimana rasa nyerinya?” tanya Faten pada pasien perempuan yang baru selesai operasi. “Sedikit… mual, Dok.” “Baik. Saya kasih ondansetron. Nanti hilang.” Perawat RR bertanya, “Dok,pasien spinal tadi mengeluh panas.” “Itu normal. Pantau saja. Kalau pusing, baru panggil saya.” Faten memeriksa pasien satu per satu sambil menulis laporan. Di ruangan staf, Faten mengetik tanpa henti. Perawat lewat sambil tertawa kecil. “Dokter,Anda kalau ngetik kayak dikejar setan.” “Laporan anestesi lebih galak dari setan,” jawab Faten datar, membuat semua staf tertawa. Di ICU, dokter jaga melapor. “Dok,sedasi pasien ventilator perlu adjustment.” Faten memeriksa monitor, lalu berkata, “Kurangi propofol.Tinggi banget. Nanti tekanan darah turun.” Perawat ICU mencatat cepat. “Baik,Dok.” Setelah itu, Faten ke ruang anestesi untuk briefing residen malam. “Kalau ada kasus emergensi,telepon saya. Saya masih di RS sampai sembilan.” Faten melepas masker, berjalan ke pintu keluar. Di parkiran, ia bersandar sebentar pada mobil, menutup mata. Lelah yang menghimpit dadanya pelan-pelan tergantikan oleh bayangan wajah merah-merona seorang gadis mungil yang memintanya bernapas semalam. “…Taran,” gumamnya lembut. Ia masuk mobil dan menyalakan mesin. “Semoga kamu nggak takut sendirian.”Dan ia pun pulang. Pintu mobil tertutup pelan. Faten mematikan mesin, merasakan dengung kelelahan yang masih tertinggal di telinganya setelah seharian di rumah sakit. Lampu teras rumah redup seharusnya Taran sudah menyalakannya kalau dia ada di dekat ruang depan. Faten merapikan jas kerjanya dan masuk. “Sayang?” panggilnya pelan. Tak ada sahutan. Ia menelusuri ruang tamu kosong. Dapur sunyi. Kamar mandi tidak ada siapa-siapa.Kamar tidur, ranjang rapi, selimut tersusun, tidak ada jejak istrinya. Alisnya perlahan mengerut. “Ke mana dia…?” Baru di ruang kerja kecilnya ia sadar bahwa ponselnya seharian sudah mati. Faten menepuk kantong jasnya, menemukan ponsel itu, dan menyalakannya. Layar menyala notifikasi masuk bertubi-tubi. Telepon tak terjawab dari beberapa nomor asing. Pesan panjang dari Taran. Faten menghela napas dalam. Ia langsung meraih kunci mobil lagi. Kelelahan yang sejak tadi menggantung di bahunya seperti lenyap,digantikan sesuatu yang jauh lebih mendesak menemukan istrinya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD