Di lain tempat devan melempar handphone nya , wajahnya mengeras , nafasnya memburu dia benar-benar emosi
Devan tak pernah menyangka nita akan mengadu pada mamanya , dan bahkan memaksa tinggal di apartemen nya , apa sebenarnya yang nita katakan pada mamanya sampai devan di ancam keras bila menolak nita lagi.
" Kenapa lo ?" Alex menyentuh bahu devan , alex jelas tau sahabatnya ini sedang menahan emosi
" Cewek emang gitu , banyak maunya jangan lo pikirin" alex kembali bersuara karena devan yang ditanya hanya dia
"Kalo lo emang udah mutusin buat gak nikahin nita mending dari sekarang lo putusin , makin lama lo ulur makin sakit nanti nita nya " alex terus nyerocos meski tak mendapat tanggapan dari devan
" Diem lo lex , lo udah kayak mama bawelnya " akhirnya devan menyahut juga
" Oky kalo lo gak mau cerita pergi sana , gue mau lanjut kerja " alex mulai geram pada devan
" Lo gak tau posisi gue serba salah lex "
" Lo bingung milih antara nita dan bella?" Tanya alex
" Bukan masalah memilih lex , kondisinya tak sesederhana yang lo pikir "
" Terus? " Alex benar-benar bingung dengan sikap devan
" Nita tak akan mau melepas gue dan lo tau mama sayang banget sama nita sekalipun gue mau tolak dia itu tak akan mundur " jelas devan
" Dan lagi masalah bella gue masih bingung dia belum tentu mau sama gue juga , sementara ,,, aaahhhhh" devan men jeda kalimatnya dia benar-benar galau sekarang
Alex mulai mengerti kondisinya , nita yang tau devan impoten saja tetap mau menikahi devan entah alasan apa yang akan bisa membuat nita melepas devan .
Alex mulai bergidik ngeri membayangkan betapa mengerikannya cinta nita , alex yakin nita akan semakin nekat bila tak mendapatkan devan
" Awalnya gue iri karena lo mendapatkan cinta tulus dari nita , tapi sekarang gue mulai prihatin sama lo dev gue yakin cinta nita sudah menjadi obsesi dan itu sangat mengerikan " alex menepuk bahu sahabatnya
Devan hanya mengangguk mendengarkan alex jujur dalam hatinya pun semakin takut bila cinta nita berubah menjadi obsesi itu akan sangat mengerikan.
" Apa rencana lo sekarang? " Tanya alex
" Gue mau nemuin bella dan memastikan sesuatu "
"Apa?, Lo gak berpikir langsung menanyakan bella mencintai lo apa gak kan ? "
" Mungkin ini gila tapi gue mau mencoba ini , gue mau balas dendam kepada bella" terang devan
" Maksud lo balas dendam gimana ?"
" Gue akan lakukan hal yang sama pada bella , akan ku buat dia kali ini korbannya , gue yakin penyakit gue akan sembuh bila harga diri gue sudah pulih , jika itu berhasil gue akan coba bersama nita dan semua masalah akan beres " devan yakin dirinya hanya merasa di hina oleh bella hinga kondosi begini jika dia sudah balas dendam maka dia akan sembuh
" Lo benar-benar gila dev " alex hanya bisa geleng-geleng , dia tak bisa berkomentar banyak karena dia pun tak mengalami hal yang devan rasakan
" Oky gue pergi , sana lo lanjut kerja " devan beranjak meninggalkan kantor alex
" Hubungin gue bila perlu bantuan , gue ada di pihak lo , meski itu gila tapi gue tetep akan bantu semampu gue " teriak alex pada devan yang sudah di depan pintu ruangan nya
Devan hanya mengangguk dan melambaikan tangan pada alex , devan tau alex adalah teman terbaiknya ,
Devan tak pernah mengerti perasaanya , dia berkata akan membalas dendam pada bella untuk memulihkan harga diri nya , tapi nyatanya hatinya sakit bila membayangkan wajah cantik bella berubah sendu seperti tempo hari di butiknya bella , apa sungguh dia sanggup menyakiti bella
****
Di belahan dunia lain
Bella melangkahkan kakinya memasuki mansion keluarga smith, sebenarnya nama lengkap bella adalah arabella linsey smith, namun setelah bella memutuskan untuk tinggal sendiri dan membangun usahanya sendiri bella hanya memakai nama bella linsey tak lagi mengunakan nama smith .
keluarga bella telah pindah ke Amerika semua semenjak mama bella meninggal dunia , hanya bella yang tetap tinggal di Indonesia dengan alasan usaha bella di Indonesia sedang maju , dan papa bella juga menyerahkan perusahaanya yang ada di Indonesia untuk bella kelola , dan untuk sang kakak dia ikut papanya di Amerika karena istri sang kakak juga orang sini .
Tak ada yang berubah dari mansion ini selalu sepi dan hening terasa hambar tanpa nyawa , di jam segini hanya ada para pelayan dan kadang ada keponakan bella kalau tidak lagi nongkrong di luar , papa dan sang kakak pasti masih sibuk di kantor sedangkan sang kakak ipar selalu sibuk dengan para geng sosialitanya , iparnya bella hanya bisa menghamburkan uang saja
" Nona bella sudah tiba " sambut kepala pelayan di mansion ini
Bella hanya mengangguk dan menuju kamarnya , bella merebahkan tubuhnya di atas ranjang king setnya , inggin istirahat sejenak setelah perjalanan panjang , bela memandang foto keluarga yang tertempel di dinding kamarnya , bella rindu sang mama dalam kondisi seperti sekarang ini bella butuh sandaran , bella tak mungkin cerita pada teman-temannya .
Tanpa terasa bella terlelap entah karena capek perjalanan atau capek hati dan pikirannya entah lah .
Bella terbangun dengan perut yang berbunyi dia baru sadar ternyata dia melewatkan makan siangnya tadi , bella melihat di luar sana sudah gelap
" Jam berapa sekarang " bella menggeliat di atas ranjang nya
" Yah tuhan sudah jam 8 malam , lelap sekali tidurku " segera bella membersihkan diri dan turun keruang makan
" Hay sayang kamu kapan sampai " kakak bella langsung menghampiri bella dan mencium lembut dahi bella
" Masih saja seperti anak kecil" entah kenapa kakak ipar bella selalu sewot sama bella
" Mending seperti anak kecil dari pada seperti nenek-nenek" balas bella tak kalah sengit
Kakak bella hanya bisa geleng-geleng dan menuntun adik kesayangannya kekursi sebelah papanya , itu dulu kursi mamanya tapi setelah mamanya meninggal itu jadi kursi bella dengan kata lain bella lah ratunya di sini setelah sang mama tiada , mungkin ini pula yang membuat ipar bella tak suka .
" Bella papa mau kamu segera menikah nak " cetus papa bella yang sontak membuat bella terkejut
" Kenapa??" Tanya bella
" Tentu saja karena kamu sudah tua , tapi tetap saja suka bermain tak bertanggung jawab" sindir ipar bella
Ingin sekali rasanya bella melempar sendok kemuka datar iparnya itu , liat lah bella yang harus mengurus perusahaan keluarga dan usahanya sendiri sekaligus dibilang masih suka main-main bagaimana dengan dirinya yang hanya bisa menghabiskan uang saja
" Bella belum niat menikah pa " saut bella cepat
" Ini bukan permintaan tapi perintah " tegas papanya
"Terserah papa " saut bella pasrah
Senyum ipar bella mengembang tentu dia yang paling bahagia disini bila bella menikah , makan posisi ratu di rumah ini akan seutuhnya jadi miliknya .
" Bagus kamu akan menikah dengan deran " sahut papanya
" Terserah ! " Kembali bella pasrah dan meninggalkan meja makan tanpa menyentuh makannya , rasa laparnya telah menguap