SAUDADE #Chapter 9

898 Words
Matahari kini tepat berada di atas kepala, jam menunjukan pukul 1 siang, Aria berjalan di tepi jalan yang cukup sepi menuju rumahnya. "Nyonya Lari!!" suara teriakan seseorang yang sangat keras membuat Aria sedikit tertarik untuk mencari tahu asal suara itu. Kakinya berlari kencang namun hati-hati. Hingga ia sampai di ujung gang yang lumayan kecil, dia mengintip dan menyaksikan hal yang belum pernah ia saksikan secara langsung. Yaitu aksi tembak menembak seperti di sebuah film aksi, dimana para Bodyguard melindungi seorang perempuan yang terlihat begitu penting, mungkin dia adalah wanita boss dari sang Bodyguard. Dan beberapa pria yang seperti mencoba membunuh si wanita. Tunggu, membunuh?! Oh Sial, Aria mengutuk dirinya sendiri, bagaimana bisa ia ingin melibatkan diri pada suatu hal yang jelas sangat berbahaya. Melihat wajah wanita itu mengingatkan dirinya pada sosok ibunya, begitu cantik, anggun dan elegan. Hingga "DORR!" "DORR!" suara tembakan dilepaskan, seperti tak ada hentinya bersaut-sautan, bersamaan dengan pertumpahan darah yang tak terelakan, Aria membulatkan matanya begitu melihat si wanita dengan gegabah berlari keluar dari perlindungan para Bodyguard. Tidak ingin melewatkan kesempatan, salah satu pria yang nampaknya ingin membunuh wanita itu langsung membidiknya. Hal itu tidak lepas dari penglihatan Aria, secara refleks Aria berlari kearah wanita yang dibidik itu. Mendorongnya hingga mereka berdua terjatuh bersamaan, berbarengan dengan suara tembakan di luncurkan. "DOR!" wanita itu selamat, hanya mengalami luka ringan, tapi sayangnya peluru itu mengenai pinggang Aria. "Akh!!" Aria meringis merasakan perih, sakit dan panas di daerah terkena tembakan. "NYONYA!!" teriak para Bodyguard wanita itu begitu melihat bahwa nyonya-nya terjatuh dan hampir saja mati. Setelah musuh mundur, kini mereka dengan leluasa menghampiri wanita itu, dan memeriksa keadaanya. Wanita itu bangun kembali, matanya memperhatikan luka yang berada di pinggang Aria. Aria masih terduduk sambil memegangi lukanya sedikit meringis menahan rasa sakit. Wanita itu menjulurkan tangannya pada Aria, "oh.. Astaga, ini semua salahku. Biar aku mengantarmu kerumah sakit dear! " kata wanita itu. Aria menggelengkan kepalanya, "it's okay, I'll take care of myself" tolaknya. "itu terlihat sangat menyakitkan, maafkan aku. Dan terimakasih telah menolongku."balas si wanita. "bukan masalah besar, lagipula ini hanya luka ringan." "tetap saja aku harus bertanggung jawab dengan mengobati mu!" "Aku benar-benar tidak masalah, dan sepertinya aku harus pergi. Aku memiliki urusan penting." jawab Aria. Wanita itu terlihat sedih, kemudian dia mengeluarkan setumpuk uang yang begitu banyak dan menyodorkannya pada Aria. "Ambil ini, sebagai ucapan terimakasih ku." katanya. "tidak, tidak, aku tidak bisa menerimanya." tolak Aria lagi. "tidak masalah, ini tidak seberapa dengan jasa mu yang telah menyelamatkan ku. " "Maaf nyonya, tapi aku tidak bisa menerimanya." "ah... Begitu ya, kalau begitu ambil ini, hubungi aku jika kau butuh bantuan" kata wanita itu menyodorkan secarik kertas kecil, yaitu kartu nama. Aria menerimanya tanpa ragu, "baiklah nyonya, aku akan pergi sekarang." kata Aria meninggalkan wanita itu bersama dengan para Bodyguardnya. "gadis yang baik" gumam wanita itu masih memperhatikan kepergian Aria. Hingga seseorang menegur, "Nyonya, tuan Logan pasti sangat khawatir sekarang ini, lebih baik kita segera bergegas." "kau benar, aku hampir saja lupa." Wanita itupun naik kedalam mobil yang terlihat begitu mewah beserta mobil antek-anteknya yang mengelilingi mobil si wanita. *** Saat ini Aria sedang mencuci piring di dalam rumahnya, sudah 2 minggu sejak dia meninggalkan Miami, kehidupannya pun berjalan seperti semula. Dan walau sudah 2 minggu meninggalkan miami, kenangan di kota itu sama sekali tidak terlupakan dihatinya. Menemukan pengalaman baru yang mustahil ia dapatkan di Boston. Saat sedang asiknya mencuci piring sambil bersenandung kecil tiba-tiba saja kepalanya dihantam oleh sebuah benda yang lumayan tebal. Dia membalikan tubuhnya kebelakang saat ingin memeriksa, dan dikejutkan dengan kehadiran Anggi adik tirinya dan juga elenor ibu tirinya. Dengan kedua tangan yang di dekapkan ke pinggang, Elenor berjalan dengan angkuhnya. Tatapan Aria setelah melihat kedua orang itu tertuju pada sebuah majalah yang berada dibawah kakinya, Aria berjongkok untuk memungut majalah itu. Terpatri di cover depan majalah itu, foto dirinya saat berada di Miami, dengan judul "star from Shindig magic City". "Bisa jelaskan?" tuntut Anggi, ada rasa kesal dan iri di hati wanita itu, hell... She is that star now! Entah bagaimana caranya Aria bisa masuk kedalam majalah bergengsi itu. "Em... Ah... Sepertinya wanita ini begitu mirip dengan ku" "kau fikir kami Bodoh? Beraninya gadis d***u ini membohongi kami!" Elenor berjalan cepat kearah Aria dan langsung menjambak rambut wanita itu dan menyeretmnya keluar dari rumah. "Jangan pernah kembali lagi Aria! Kau hanya gadis sampah peliharaan kami, dan kami sekarang telah membuangmu." teriak Anggi yang mengekori Elenor. "Apa?! Ini rumah ibu dan ayahku! Kalian yang tidak berhak ada disini! " katanya berusaha melawan. "Siapa yang akan percaya pada gadis lusuh seperti dirimu?"balas Anggi sengit. Aria masih bergeming ditempatnya, dia menatap Elenor dan Anggi nyalang. "BRAK!!" pintu tertutup rapat, Aria sedikit tersentak mendengar gebrakan pintu tersebut. Wajahnya yang tadi terlihat berani lama kelamaan berubah terisak-isak dengan bulir air mata yang jatuh dari kelopaknya. "Dasar wanita-wanita tidak tahu diri!" umpatnya pada Anggi dan Elenor. Walau percuma karena Elenor dan Anggi tidak mungkin mendengarkannya, tapi hal itu berhasil mencurangi rasa kesal di hatinya. Kini dia berjalan meninggalkan rumah tak tentu arah, satu-satunya orang yang ia kenal baik di adalah Angeline tapi ia tidak mungkin menganggu perempuan yang tengah berbahagia itu dengan masalahnya. Dia bingung. Hingga ia putuskan untuk mencari pekerjaan sampingan lagi untuknya, kini biaya hidupnya akan bertambah dengan membayar uang sewa kamar, dia tidak bisa mengandalkan pekerjaannya yang hanya sebagai barista. Dia berjalan menelusuri kota mencari lowongan pekerjaan yang Kira-kira dapat menerima dirinya. To Be Conitune
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD