Sudah seminggu lamanya Aria tinggal disebuah kontrakan kecil yang harganya cukup sesuai dengan keuangannya, yaitu sekitar 620 dollar perbulannya.
Letaknya cukup strategis, hanya beberapa puluh meter dari tempatnya bekerja, hingga dirinya bisa menghemat biaya transportasi.
Kini sudah hari ketiga ia sebuah butik yang lumayan terkenal, gajinya pun cukup besar bagi Aria. Yaitu sekitar 1,400 dollar.
Ditambah dengan penghasilannya bekerja sebagai Barista, total pendapatannya perbulan 2,936 dollar.
Dikurang dengan uang makannya selama sebulan yang berkisar 1,440 dollar dan uang sewa. Sisa uang Aria 876 dollar, cukup untuk ia tabung sebagian dan untuk keperluan hidup lainnya.
Sebenarnya Aria merasa gajinya begitu pas-pas an karena tidak cukup jika sisa uangnya itu ia pakai untuk pengobatannya.
Tapi tidak masalah, Aria bisa mengesampingkan hal itu, dia lebih fokus pada cara bertahan hidup di negara yang serba mahal ini.
dia harus bekerja 18 jam dan istirahat 6 jam dalam sehari demi mendapatkan uang penghasilannya itu.
Jika bisa memilih, Aria tidak ingin hidup seperti ini, dengan kedua orang tua yang telah tiada, serta tidak memiliki saudara dan ditinggalkan bersama anak dan ibu yang bersikap seenaknya padanya.
Ditambah lagi dengan kondisi fisiknya yang lemah, tapi ia tidak bisa terus menerus mengeluh, memangnya jika ia terus mengeluh takdir hidupnya akan berubah begitu saja? Aria akan berusaha dengan bekerja keras untuk merubah garis takdirnya itu, agar bisa hidup dengan lebih baik.
Dia tidak ingin nanti anaknya akan merasakan hal yang sama seperti yang ia alami, tapi jika dia masih hidup dan memiliki anak.
Seperti saat ini kini dirinya sedang berada di butik tempatnya bekerja. Melayani para pelanggan dengan ramah.
"Selamat datang.." sapa nya setiap kali seorang pelanggan masuk.
"Kau wanita yang waktu itukan?" tanya seseorang, Aria menoleh kearah sumber suara
Dan suara itu berasal dari seorang wanita yang tidak ingin ia temui lagi seumur hidupnya, tapi sepertinya takdir berkata lain.
Dunia tampak sempit bagi kedua orang itu, wanita itu menatap Aria dengan tatapan sengit.
Aria hanya diam membalas tatapan wanita itu, "Jangan terlalu berharap dengan Elo. Kau itu hanya wanita sekilas yang lewat dalam hidupnya, karena wanita yang akan menjadi pendamping hidupnya adalah aku."kata wanita itu begitu percaya diri.
Aria menganga tidak percaya mendengar perkataan wanita itu yang terlalu membanggakan dirinya.
"Selamat berbelanja nona." balas Aria dengan senyuman hangat yang dibuat-buat.
Dia tidak ingin meladeni 'kucing liar' disaat jam kerjanya, bisa-bisa dia terkena suspend dan dipecat. Ah... Sungguh Aria sangat membutuhkan pekerjaan ini.
Wanita itu tersenyum mengejek lalu masuk kedalam butik dan memilih pakaiannya.
Aria memejamkan matanya menahan rasa sakit hati karena perkataan wanita itu, wanita itu benar. Bagaimana mungkin ia bisa bermimpi jika Elo menyukainya yang biasa-biasa saja ini.
***
Aroma makanan khas negara Italia menyeruak memenuhi sebagian ruangan yang cukup besar, diantara para pelanggan lain, ada dua orang pelanggan yang cukup mencuri perhatian karena paras cantik dan gaya glamour mereka.
Dan mereka tidak lain adalah wanita paruh baya yang Aria selamatkan dan wanita yang menjadi pengganggu kisah asmara Aria.
Yang kedua orang itu lakukan hanya makan di salah satu bangku disana, tapi semua orang merasa seperti ada panggung dan lampu sorot yang menyorot kedua orang itu.
Tidak terkecuali Aria yang bekerja di butik yang tak jauh dari keberadaan tempat makan kedua orang itu.
Sempat kaget, awalnya dia bertanya-tanya bagaimana bisa ia kebetulan membantu dan bertemu kembali dengan orang yang tampaknya dekat dengan si wanita menyebalkan.
Merasa diperhatikan dengan begitu intens, wanita paruh baya itu menoleh kearah Aria. Aria yang tertangkap basah pun menjadi salah tingkah.
Wanita paruh baya itu bangkit dari kursinya lalu menghampiri Aria, senyuman tidak luntur dari bibir wanita itu.
"Hey.. Kita berjumpa lagi, menurut ku ini adalah takdir. Tuhan menginginkanku bertemu dengan wanita baik yang menolongku untuk membantunya." kata wanita paruh baya itu.
Aria sedikit tidak mengerti dengan maksud perkataan wanita paruh baya itu, "Membantuku?"
Wanita itu mengangguk, "ah.. Kita belum berkenalan, namaku Maggie."
"Alexandria, kau bisa memanggilku Aria."
Wanita yang bernama Maggie itu mengangguk, "aku bisa menebaknya, di mataku kau terlihat seperti gadis yang ingin meminta pertolongan."
"Apa?" apa dia bergurau? Bagaimana mungkin Aria terlihat seperti itu.
Lagi-lagi wanita itu malah tersenyum, namun secara tiba-tiba tubuh Aria terhuyung ingin jatuh akibat di dorong seseorang, siapa lagi jika bukan wanita menyebalkan itu?
Dia menatap Aria yang hampir saja terjatuh dengan tatapan tajam tanpa merasa bersalah.
Untung saja Maggie memegangi tangan Aria menahannya agar tidak terjatuh.
Maggie menatap wanita itu dengan tatapan bertanya, "Apa yang kau lakukan Stella? Kau hampir saja membuatnya terjatuh."
Nama wanita itu Stella Recilo, dia menatap Maggie dengan tatapan datarnya, "aku tidak menyukainya, Itu saja" jawabnya enteng.
Aria masih diam tidak percaya dengan kelakuan kekanakan Wanita itu, sebenernya apa yang ada dipikirannya?
"Apa kau gila? Dasar Wanita sinting!" geram Aria.
Mendengar u*****n Aria sontak kedua wanita itu menoleh kearah Aria.
Tatapan yang mereka tunjukan tidak sesuai prediksi Aria. Maggie menatapnya dengan tatapan terkejut dan juga khawatir, sedangkan Stella menatapnya seakan bertanya 'Apa aku tadi mendorongnya begitu Keras?'
Dan di detik berikutnya pandangan Aria menjadi gelap.
To Be Continue