"Nona Dion memiliki penyakit jantung, dan darah rendah. saya sarankan untuk segera memeriksanya lebih lanjut dan melakukan pengobatan rutin." jelas si dokter, Maggie yang mendengar penjelasan dokter sedikit terkejut, merasa kasihan pada Aria.
Maggie melirik kearah Aria yang masih terbaring pingsan di tempat tidur pasien, "saya harap nona Dion mau melakukan rawat jalan, sebelum kondisinya semakin parah. Jika tidak ditangani dengan cepat penyakit ini bisa menyebabkan kematian mendadak."
"saya sarankan agar nona Dion tidak terlalu stress dan lelah, serta menjaga pola makannya" Maggie mengangguk menyimak penjelasan dokter.
"Baik, terimakasih dokter." balas Maggie.
Setelah kepergian dokter itu dari ruang rawat Aria, Maggie pun kembali menghampiri wanita itu, duduk disampingnya. Menemani Aria hingga dia terbangun.
Stella, gadis itu sudah pergi lebih dulu. Saat ini Maggie hanya ditemani oleh beberapa bodyguard nya yang sejak awal mengikutinya sambil mengumpat dan menjaga jarak mereka, karena Maggie merasa tidak nyaman.
***
Di dalam sebuah ruangan yang begitu sunyi, hanya terdengar suara ketikan laptop yang memenuhi ruangan itu, Hingga suara pintu terbuka menghentikan gerakan jari Louis.
Munculah seorang wanita dari balik pintu dengan kulit pucat yang seperti menjadi ciri khasnya.
Wanita itu berjalan menghampiri Louis yang sedang duduk di kursi besar. "Honey... Aku merindukan mu!" katanya dengan manja.
Louis sedikit menyunggingkan senyumannya. Dia beranjak dari kursi tempatnya duduk dan membiarkan Stella memeluk dirinya.
"tadi aku baru saja bertemu dengan tante Maggie, dia bertanya tentang acara pertunangan kita." katanya berbohong.
Walau menyadari kebohongan Stella, Louis tetap menampilkan senyumannya, Dia mengelus puncak kepala Stella.
"aku masih memiliki banyak pekerjaan Stella." kata Louis. Dia mengerti keinginan gadis itu saat ini.
Tapi entah mengapa dia seperti kehilangan selera untuk melakukan hubungan tubuh sejak bersama dengan si wanita Miami.
"Ayolah Elo, ini sudah hampir satu bulan, siapa wanita lain itu? Sudah berapa kali kau bersamanya?" tanya Stella menuntut.
Louis tanpa sadar menghembuskan nafas jengah, dia lelah menghadapi sikap Stella yang manja dan berlebihan seperti ini.
Apalagi wanita itu suka berbuat seenaknya, ingin rasanya Louis menendang wanita itu dari hidupnya. Untung saja dia memiliki tingkat kesabaran tinggi.
"Aku mengizinkanmu bermalam dengan pria lain malam ini, bersenang-senanglah!" kata Louis pada akhirnya.
Stella mendesah kecewa, tangannya ia kalungkan pada leher Louis, wajah mereka saling berdekatan.
"Aku sudah bosan dengan mereka, yang kuinginkan saat ini hanya dirimu Louis."
Louis melepaskan tangan Stella dari tubuhnya dan mulai berjalan kembali menuju kursi lalu duduk, dia mulai mengerjakan pekerjaan yang belum ia selesaikan itu.
"Kalau begitu sayang sekali." balasnya acuh.
Stella merenggut, "kenapa hari ini kalian semua menyebalkan sih?!" gerutunya, Louis hanya mendengarkan sambil menaikan alisnya mendengar reaksi aneh Stella.
"Bertemu dengan Maggie yang arogan, dan berurusan lagi dengan si jelek wanita Miami!!" begitu menyelesaikan kalimatnya dengan cepat Stela menutup mulutnya dengan kedua tangan, ia keceplosan.
Harusnya semua itu tidak ia katakan, apalagi ia tahu jika saat ini Louis sedang mencari-cari wanita Miami itu.
Louis mulai tertarik kembali pada perkataan Stella, dia kembali menatap Stella. "Ceritakan bagaimana harimu, sayang!"
Manik mata Stela melebar, "Tidak! Hariku berjalan baik seperti biasanya." elaknya.
Louis kembali bangkit dari kursinya dan menghampiri Stella lagi. Dia menyusupkan jari jemarinya di belakang rambut Stella.
Louis menatapnya intens dan tajam, bertanda ia tidak ingin mendengar basa basi atau kebohongan Stella lainnya.
Tapi Setelah yang telah pongah malah bersikap seakan-akan Louis memang miliknya, dia kembali menggoda Louis dengan memainkan jari-jarinya ditubuh Louis.
"Jadi.. Dimana kita akan bermalam hari ini?" katanya sambil berusaha menempelkan diri di tubuh Louis.
Brak!
Stella menatap Louis tidak percaya, pantatnya sakit karena mencium lantai dengan keras.
"Kau mendorongku sayang?" tanyanya tak percaya dengan perlakuan Louis padanya.
Louis memutar bola matanya jengah, kemudian tersenyum merendahkan. Dia berjalan pelan menghampiri Stella yang jatuh.
"Sayangku, aku ingin bertanya lagi, dimana wanita Miami itu?" tanyanya dengan senyuman manis namun penuh ancaman.
"Jadi kau mendorongku karena si jalang itu?!" Stella berteriak tidak terima.
Plak!
Sebuah tamparan dengan mulus mengenai pipi wanita itu. Stella membelalakkan matanya. Dia merasa begitu asing dengan sosok Louis yang sekarang berada di hadapannya.
"jangan bicara yang tidak perlu, Karena jalang yang sebenarnya adalah kau." Louis menatap tajam kearah Stella. Dia kemudian bangun membelakangi Stella.
"Kau hanyalah wanita sewaan pemuas nafsuku. Jangan bertindak melewati batas hanya karena aku bersikap baik padamu."
"Kau tidaklah lebih baik daripada para jalang di tempat hiburan malam." desisnya tajam.
Ingin rasanya Stella menangis, tapi dia tidak ingin terlihat kalah di hadapan Louis. Mau dibandingkan pun Stella merasa lebih unggul dari Aria.
"Aku bertemu dengannya di butik langganan ku Dan Maggie. Dia menjadi pelayan disana." jelas Stella mau tidak mau mengatakannya pada Louis.
Louis sedikit menoleh kearah Stella, dia menaikan alisnya, "Sudah? Aku tahu betul dirimu Stela, kau tidak mungkin tidak berulah. Apa yang kau lakukan saat melihat Aria" tuduh Louis.
Stella menatap Louis tidak terima, dia berdiri dan merapihkan pakaiannya. "Aku akan pergi karena kau tidak ingin memberikannya padaku, maka aku akan mencari pria lain."
Mendengarnya Louis tersenyum miring, tidak memperdulikan Stella yang telah keluar dari ruangannya. Louis lebih memilih melanjutkan pekerjaannya.
Namun suara deringan telepon pribadi Louis kembali menganggu pekerjaannya.
"saya sudah mendapatkan informasi tentang tempat tinggalnya tuan."
Louis tersenyum puas, "kerja bagus. Kirim padaku lewat Email!"
"baik tuan muda"
To Be Continue