#Rasa simpati yang muncul dari dalam hati pria tinggi

1780 Words
Qisya bingung harus kemana, akhirnya dia memutuskan untuk meminta tolong pada pria tinggi itu.Dengan mengumpulkan keberaniannya,dia berjalan menghampiri pria tinggi itu yang hendak masuk kedalam rumahnya. "Hm ... Pria tinggi," panggil Qisya membuat pria tinggi itu menengok. "Lo masih disini? Sana pergi! Sebelum gue berubah pikiran!" ucap pria tinggi itu. "Hm ... Gue mau minta maaf atas apa yang gue lakuin tadi," ucap Qisya menatap pria tinggi itu. "Ya gue maafin," ucap pria tinggi itu sambil membuka pintu rumah,dan dia hendak masuk namun, langkahnya terhenti karena seseorang yang menarik hoodie nya itu. "Apa lagi?" tanya pria tinggi itu malas. "Hm ... Sebenernya gue terpaksa harus bilang ini ke lo.Boleh nggak gue ... Satu malam ini nginep di rumah lo dulu, nanti pag--" "gak!" ucap pria tinggi itu yang langsung masuk kedalam rumahnya, dan menutup pintu rumahnya. Qisya menghela nafas pasrah.Iya memang dia salah,mana bisa orang yang tidak di kenal tiba-tiba masuk kedalam rumah tanpa izin.pasti orang yang punya rumah itu marah,di tambah lagi orang itu membuatnya tak sadarkan diri.Wajar pria itu menolak membantu orang yang sudah membuatnya celaka. Qisya merogoh saku celananya,mengambil ponselnya.Qisya menekan tombol power namun, ponselnya tak menyala. "Yah ... Baterainya lowbat lagi,gue mesti gimana? Argh ... !" ucap Qisya prustasi sambil mengacak rambutnya. Qisya duduk di kursi rotan, yang berada di teras rumah pria tinggi itu.Karena dia bangun harus kemana, dia memutuskan untuk bermalam di depan teras rumah pria tinggi itu.Yah ... Walaupun pria tinggi itu tak mengijinkan. *** "Push ... Push!" ucap pria tinggi itu sambil mencari kucingnya di kolong meja. "Kemana lagi Ino? Baru aja gue keluar bentar.Udah ilang lagi," ucap pria tinggi itu. Seorang wanita tengah tertidur pulas dengan posisi terduduk, di kursi rotan. Hacih ... ! Dia tiba-tiba bersin,karena ada yang mengganggu pernafasannya.Dan dia pun terbangun. "Ah ... ! Ada kucing!Hush ... Hush!" ucap Qisya menutup hidungnya,sambil mengusir kucing itu. Hacih ... ! Mendengar suara gaduh dari luar rumahnya,pria tinggi itu berjalan menuju ruang tamu.Dan ia mengintip dari balik jendela. "Cewek itu lagi! Ngapain dia masih disini coba?!" ucap pria tinggi sambil membuka pintu. "Eh maling!Ngapain lo masih disini?! Sana pergi!" usir pria tinggi itu kepada Qisya. Mendengar suara itu, Qisya langsung menengok ke sumber suara.Yang dimana pria tinggi itu tengah berdiri di depan pintu. "Gue hacih ... ! Mau numpang tidur disini hacih ... !" ucap Qisya yang tak henti-hentinya bersin. "Gue tadi bilang apa?Nggak kan?!Ini lagi ngapain pake bersin-bersin segala, penyakitan lo?" tanya pria tinggi itu. "Gue alergi sama bulu kucing ha--cih ... !" ucap Qisya yang tak henti-hentinya bersin. Mendengar ucapan Qisya,pria tinggi itu menggendong kucingnya dan dia berjalan hendak masuk rumah.Qisya bangkit dari duduknya dan menarik hoodie pria tinggi itu. "Izinin gue buat ha--cih! Nginep satu malam ini aja,nggak papa gue tidur di luar juga.Yang penting lo izinin gue hacih ... !" ucap Qisya memohon. Melihat kondisi Qisya yang tak berdaya,pria tinggi itu tak tega.Akhirnya dia meng-iyakan keinginan Qisya. "Lo beruntung,karena hari ini mood gue lagi baik.Iya gue izinin,"ucap pria tinggi itu. "Makasih ha--cih ... !" ucap Qisya yang senang dan dia kembali duduk di kursi rotan itu. "Gini-gini juga gue masih punya rasa simpati,lo boleh tidur di dalem," ucap pria tinggi itu yang masuk kedalam rumah,sambil menggendong kucing Oren miliknya dan diikuti Qisya yang juga masuk. Qisya hanya berdiri saja di dekat pintu, dia bingung harus gimana.Qisya hanya melihat pria tinggi itu yang memasukan kucing peliharaannya ke kandang. "Duduk di situ," ucap pria tinggi,menaikan dagunya menunjuk sofa yang ada di hadapan Qisya. Qisya menuruti perkataan pria tinggi itu,dan dia mendudukan tubuhnya di sofa.Qisya duduk sambil mengamati isi rumah pria tinggi itu.Banyak buku-buku rapih yang berbaris di rak-rak buku,disitu juga ada meja yang sederhana yang di atasnya terletak televisi berukuran sedang.Rumah itu sangatlah sederhana namun, terkesan modern.Ditambah suasana rumah yang sunyi, karena hanya ada satu penghuni yaitu, pria tinggi itu. "Nih selimut sama bantal," ucap pria tinggi yang tiba-tiba datang,memberikan satu buah selimut beserta bantal kepada Qisya. Qisya mengambil selimut dan bantal yang di berikan pria tinggi itu.Kemudian pria tinggi itu berjalan menuju kamarnya. "Pria tinggi," ucap Qisya,membuat pria tinggi itu menghentikan langkahnya. "Apa?"tanya pria tinggi itu menoleh. "Gue ... Boleh nggak pinjem baju lo? Soalnya baju gue udah kotor.Gue nggak bisa tidur dengan kondisi kaya gini," ucap Qisya menatap pria tinggi itu. Pria itu berjalan menuju kamarnya dan masuk kedalam.Membuat Qisya bingung,apakah pria tinggi itu tak mau meminjamkan pakaiannya? Entahlah ... Qisya membaringkan tubuhnya di sofa,dan mencoba untuk tidur.Jam dinding menunjukkan pukul 20:30 WIB. "Nih baju," ucap pria tinggi itu sambil membawa hoodie dan celana training panjang.Membuat Qisya membuka kembali matanya. Qisya mengambil hoodie dan celana training yang di berikan pria tinggi itu.Qisya bangkit dari duduknya dan berjalan hendak mengganti pakaiannya. "Kamar mandinya dimana?" tanya Qisya menengok ke arah pria tinggi itu,yang duduk di sofa sambil membaca buku. "Lurus belok kanan," ucap pria tinggi itu tanpa menatap Qisya. Qisya mengangguk paham,dan ia berjalan menuju kamar mandi sesuai arahan dari pria tinggi itu. Di kamar mandi ... "G*la, hoodie nya besar banget! Lengannya juga,panjang banget.Berasa kaya bebegig sawah gue," ucap Qisya bercermin sambil mengangkat-angkat tangannya. " Celananya juga, ya Tuhan ... Panjang banget! Mesti gue gulung nih," ucap Qisya menggulung celananya. "Satu sentuhan lagi, ini dia yang bikin gue semangat buat jalanin hidup," ucap Qisya sembari memakai kalung dengan bandul bulan sabit. Qisya keluar dari kamar mandi sambil membawa bajunya.Ia memasukan bajunya itu kedalam mesin cuci,ia ingin mencuci pakaiannya itu.Supaya besok pagi dia bisa langsung mengenakannya. "Deterjen nya habis, kira-kira dia punya deterjen lagi gak ya?" ucap Qisya berbicara sendiri ,sambil melihat seisi ruangan kamar mandi dan dapur. Qisya mencari deterjen itu di rak-rak yang tergantung di dinding.Dan matanya tertuju pada rak yang paling atas,dimana ada beberapa deterjen yang berjajar rapi disitu.Qisya mengulurkan tangannya untuk mengambil deterjen itu namun,dia tidak bisa menggapainya.Karena tubuh mungil yang ia miliki,dia terpaksa harus melompat-lompat untuk mengambil sebuah detergen. "Ayo Qisya lo pasti bisa!" ucap Qisya menyemangati dirinya sendiri,sambil terus melompat-lompat. Prang ! Sebuah gelas kaca yang terjatuh mengenai lantai,yang tak sengaja tersenggol oleh tangan Qisya.Membuat pecahan kaca itu berceceran kemana-mana. "Ya tuhan ... !" ucap pria tinggi itu yang tiba-tiba datang. Pria itu melihat pecahan gelas kaca yang berserakan dimana-mana,dan ia menatap Qisya. "Maaf gue nggak sengaja," ucap Qisya ,sambil memunguti pecahan gelas kaca tersebut. "Emangnya lo ngapain sampe mecahin gelas segala?!" tanya pria tinggi itu. "Gue mau ambil itu," ucap Qisya menunjuk ke arah rak paling atas, yang dimana terdapat deterjen. "itu? Ngambil kek gitu aja nggak bisa," ucap pria tinggi itu, sambil mengambil deterjen dengan mudahnya. Pria tinggi itu meletakan deterjen di atas meja makan.Qisya berdiri dan mendekatkan dirinya kepada pria tinggi itu. "Lo lagi ngapain?!" tanya pria tinggi itu,saat Qisya menempelkan kepalanya pada d**a bidang milik pria itu. "Tuh kan, tinggian lo.Tinggi gue cuman sampe d**a lo doang, pantas lo mudah banget ambil tuh barang," ucap Qisya. "Makanya tumbuh tuh ke atas,bukan ke bawah," ucap pria tinggi itu,dan kemudian ia berjalan meninggalkan Qisya. "Ya lo nya aja yang kaya tiang," ucap Qisya, sambil memasukan deterjen itu kedalam mesin cuci. "Gue denger!" teriak pria tinggi itu. "kok dia bisa denger si? Padahal gue ngomongnya pelan," ucap Qisya. *** Selesai mencuci, Qisya berjalan ke ruang tamu plus ruangan tempat nonton televisi.Dia melihat pria tinggi itu yang masih duduk di sofa,sambil membaca buku.Qisya berjalan sambil melihat koleksi buku-buku milik pria tinggi itu,yang tersusun rapi di rak buku.Qisya hendak mengambil buku yang menarik perhatiannya. "Eh! taro balik!" ucap pria tinggi, itu sambil menatap Qisya sinis.Dan Qisya pun tak jadi mengambil buku itu. "Jangan pernah sekali-kali,lo nyentuh barang-barang gue!Gue nggak mau barang-barang gue rusak karena lo!" ucap pria tinggi itu. "Pelit amat," dengus Qisya. "Pria tinggi,bajunya nggak ada yang kecil?" tanya Qisya,yang mengeluh dengan hoodie yang ia kenakan. "Hoodie itu udah lama gak gue pake,karena udah kecil.Lo nya aja yang kaya kurcaci," ucap pria tinggi itu. "Gue nggak kaya kurcaci yah! Gue tuh mungil dan imut," ucap Qisya sambil menyatukan kedua tangannya di dagu,pose ala-ala cewek imut. "Tadi lo bilang apa?" tanya pria tinggi itu. "Imut," ucap Qisya polos. "Mau meledak telinga gue dengernya," ucap pria tinggi itu bangkit dari duduknya,dan melemparkan buku yang ia pegang ke arah Qisya.Dan kemudian ia berjalan menuju kamarnya. "Ada juga lo lagi ,yang ngerusak!" ucap Qisya yang menangkap buku itu. Pria tinggi itu menengok ke arah Qisya,yang masih berdiri di samping rak dan memegang buku itu. "Suka-suka gue dong,ini rumah gue.Taro tuh buku!" ucap pria tinggi itu,masuk kedalam kamarnya dan menutup pintu kamarnya. "Das*r cowok aneh!" umpat Qisya yang sebal. "Lo bilang apa barusan?!" ucap pria tinggi itu membuka pintu kamarnya. "Nggak ,gue nggak ngomong apa-apa," ucap Qisya berbohong,sambil meletakan buku itu ke rak. "Lo denger ya! Besok pagi lo harus langsung cabut dari rumah gue!" ucap pria tinggi itu sambil menutup pintu kamarnya. "Lo tenang aja, pagi-pagi gue langsung pergi dari rumah lo!" teriak Qisya. Qisya menghempaskan tubuhnya ke sofa,ia merogoh kantong hoodienya,mengambil ponselnya. "Oh iya gue lupa, hp gue kan lowbat.Gue harus cas nih," ucap Qisya. Qisya berjalan mendekat meja televisi,yang tak jauh dari sofa.Dia mencari carger di laci. "Emangnya dia naruh cargernya disini? Ah ... Semoga saja iya," ucap Qisya terus mencari di laci-laci. "Ketemu," ucap Qisya senang,kemudian ia mengisi daya ponselnya di samping colokan televisi. Kruyuk ... ! Kruyuk ... ! "Uh ... Laper, " ucap Qisya memegang perutnya yang keroncongan. Dia melihat ke arah pintu kamar pria tinggi itu,dan ia berjalan mengendap-endap menuju sesampainya di dapur,Qisya membuka rak penyimpanan makanan.Dia melihat makanan yang berbaris rapi di rak.Qisya melihat ke arah belakang,takutnya pria tinggi itu tiba-tiba muncul.Melihat kondisi aman, Qisya mengambil dua bungkus mie instan kuah. "Pria tinggi ... Boleh gak gue minta ini?Oh iya boleh, silakan ambil aja yang lo mau.Makasih,gue minta dua boleh gak?Eh nggak jadi,tiga aja.Soalnya gue laper banget nih.Boleh,selama lo laper,lo boleh ambil apa yang lo mau.Makasih pria tinggi,lo baik banget," ucap Qisya berbisik berbicara sendiri. Qisya membuka kulkas,dia melihat banyak berbagai macam minuman botol.Dia mengambil satu botol teh puc*k,kemudian ia memasak tiga bungkus mie instan tersebut. *** Meja yang terletak di depan sofa,yang di atasnya sudah tersaji satu mangkuk besar yang berisikan mie instan kuah, yang sangat menggugah selera.Di temani dengan satu botol teh puc*k ,membuat Qisya tak sabar untuk melahapnya.Tak pakai lama Qisya langsung menyantap mie tersebut. "Hm ... Enak! Siapa dulu dong yang masak? Qisya gitu loh," ucap Qisya memuji dirinya sendiri. Dia mengambil ponselnya yang sedang mengisi daya. "Baru lima puluh, dahlah nggak papa," ucap Qisya mencabut ponselnya dari carger. Qisya membuka kontak di ponselnya, dan kemudian ia menekan salah satu nomor telepon yang ada di ponselnya. "Halo,Mia," "Iya Qisya," "Lo sekarang kerja dimana?" "Gue belum dapet kerjaan baru," "Terus lo gimana sama Abil?" "Jangan sebut-sebut nama itu lagi, gara-gara dia gue jadi di pecat!" " Ya itu salah lo,karena kebiasaan aneh lo.Yang bikin lo di pecat,"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD