"A--nu, ini bukan seperti yang lo pikir," ucap wanita itu.
"Oh gue inget, jangan bilang lo komplotan maling tadi? Wah nggak bener nih, gue bakal laporin lo kepolisi," ucap pria tinggi itu sambil merogoh saku celananya.
"Maling? Gue bukan maling! Lo udah salah paham.Plis ... Jangan laporin gue kepolisi," ucap wanita mungil itu memohon.
Pria tinggi itu menghiraukan ucapan wanita yang merengek dihadapannya itu.Dia masih sibuk mencari ponselnya di saku celananya dan kantong hoodienya.
"Ck, kemana lagi hp gue? Oh iya gue tinggalin di kamar," ucap pria tinggi itu sambil memegangi tangan wanita mungil itu, dan dia hendak berjalan menuju kamarnya.
Tuk ... !
Sebuah vas bunga yang mendarat mulus di kepala pria tinggi itu, menyebabkan pria itu terjatuh dan tak sadarkan diri.
"Aduh Qisya lo b*go banget si! Ngapain lo mukul cowok itu?! Jadi pingsan kan! Maaf nih Bang gue nggak sengaja.Habisnya lo mau ngelaporin gue kepolisi, kan gue nggak salah," dumel Qisya
"Bangun oyy ... ! Bangun!" Teriak Qisya sambil menepuk-nepuk tangan pria tinggi itu.
"Oyy ... ! Bangun ... !" teriak Qisya di telinga pria tinggi itu namun, pria tinggi itu tak kunjung sadar juga.
"Jangan-Jangan ... dia meninggoy! Ah ... !gimana nih?!" ucap Qisya panik.
***
"Bu, air mineral dua," ucap pria kekar itu.
Tut ... ! Tut ... !
suara ponsel berdering, pria kekar itu mengambil ponselnya di saku celananya.
"Halo Bos,"
"Gimana? Qisya bayar nggak?"
"Dia belum bayar."
"Kok bisa? Kalian kan gue suruh buat nangkep Qisya dan bawa dia ke gue,"
"Maaf bos, tadi gue sama Eko ngejar dia.Terus dia kabur dan masuk kedalam rumah itu, gara-gara pria itu jadi, kita kehilangan dia bos,"
"Emang ya kalian itu nggak bec*s kalo kerja!" ucap wanita itu menutup sambungan teleponnya.
"Halo ... Halo bos,"
"yah malah di tutup lagi," ucap pria kekar itu.
"Gimana?" tanya Eko.
"Ya gitu," ucap pria kekar itu.
***
Qisya menempelkan telinganya pada d**a bidang milik pria tinggi itu, dia memastikan detak jantung pria itu masih ada.
"Uh ... Syukurlah dia masih hidup," ucap Qisya itu bernafas lega.
"Apa gue pergi aja, mumpung pria ini pingsan? Ah iya," ucap Qisya bangkit dan berjalan menuju pintu rumah itu.
Dan Qisya hendak pergi namun, langkahnya terhenti.Qisya menatap ke arah pria tinggi yang masih belum sadar.
"Bentar ... Gue jahat banget ninggalin orang sendirian dengan kondisi pingsan.Gimana pun juga dia pingsan itu gara-gara gue, mending gue bikin dia sadar dulu.Tapi jangan ... ! Kalau dia sadar pasti dia laporin gue kepolisi.Duh Qisya ayo lo harus berpikir," ucap Qisya sambil mengetuk-ngetuk bibirnya dengan jarinya.
"Iya gue nolongin dia dulu, urusan itu nanti belakangan.Yang penting orang itu sadar dulu," ucap Qisya berjalan kembali menuju pria itu.
"Eh bangun ... ! Plis bangun dong!" ucap Qisya sambil menggoyang-goyangkan tubuhnya pria itu.
"Gue baru inget, kalau orang pingsan di kasih minyak k*** p***h,pasti bakal sadar.Tapi gue nggak punya, mungkin cowok ini punya.Gue cari dulu," ucap Qisya bangkit dan berjalan, mencari minyak yang ia cari.
" Maaf nih bang, gue nggak sopan geratakin rumah lo," ucap Qisya sambil mencari di laci lemari.
Dengan usahanya,akhirnya dia menemukan salah satu dari minyak oles tersebut.
"Ah ... ketemu!" ucap Qisya senang, dan dia berjalan kembali menuju pria tinggi itu.
"Tapi ini bukan yang gue cari si,tapi adanya ini.Yaudahlah yang penting dia sadar," ucap Qisya sambil memegangi minyak oles fresh c**e.Kemudian ia mengoleskannya pada hidung milik pria tinggi tersebut.
Qisya berteriak sambil menepuk-nepuk lengan pria tinggi itu, untuk bangun.
"Akh ... ! Panas ... !" teriak pria itu kelabakan sambil mengusapi bawah hidungnya.
"Alhamdulillah, dia sadar," ucap Qisya senang, dan pria itu menatap ke arah Qisya.
" Hey maling! Lo kasih gue apaan?!" tanya pria tinggi itu dengan tatapan mata yang tajam.
"ini," ucap Qisya polos, menunjukan minyak oleh fresh c**e itu.
"Maaf ... !" ucap Qisya yang langsung berlari keluar dari rumah itu.
"Maling jangan lari lo!" teriak pria tinggi itu keluar mengejar Qisya.
Pria tinggi itu melihat Qisya yang tengah kesusahan, membuka pintu gerbang yang di gembok.
"Butuh ini nggak?" ucap pria tinggi itu dengan senyum smrik,sambil menunjukan kunci gembok itu.Dan kemudian ia berjalan menghampiri Qisya.
"Dengerin gue dulu, gue bukan maling! Lo udah salah paham.Tadi gue di kejar-kejar sama pria jahat, dan gue nggak sengaja masuk kedalam rumah lo.Karena gue takut ketangkap pria jahat itu.Tolong ... Biarin gue pergi," ucap Qisya memelas.
"Terus, gue harus percaya gitu? Alah mana ada maling ngaku!" bentak pria itu sambil menarik tangan Qisya.
"Awh ... Sakit! Lepasin!" teriak Qisya sambil memberontak dan berusaha untuk melepaskan tangannya.
"Gue berani sumpah ,kalo gue bukan maling!" ucap Qisya yang ketakutan.
" Huwa ... ! Hiks ... Hiks ... Udah gue bilang kalau gue hiks ... Nggak salah," tangis Qisya yang pecah.
"Diem nggak!" bentak pria tinggi itu, membuat Qisya menangis semakin keras.
"Huwa ... ! Tolong lepasin gue," ucap Qisya yang menangis sambil memohon.
Pria tinggi itu menghela nafas, dia melepaskan tangannya.
"Udah ... Puas? Sekarang lo pergi!" ucap pria tinggi itu,membalikan badannya dan berjalan menuju pintu depan rumah meninggalkan Qisya.
Qisya bernafas lega,karena dirinya tak jadi di laporkan ke polisi.Disisi lain dia bingung harus kemana,karena yah ... Dia baru saja di usir dari kost-kostsannya,karena telat membayar sewa.Yang kedua, dia tidak punya uang saat ini.Karena dia baru saja di pecat dari pekerjaannya,naasnya lagi dia tidak di berikan uang pesangon.