“Cucuku yang manis,” ucap Aurora dengan senyum tipis, “kau sangat pintar memilih istri.”
Leon menatapnya tajam, sorot matanya gelap dan menahan amarah.
“Tenang saja,” lanjut Aurora sambil berbalik, langkahnya tenang namun penuh kuasa,
“sebentar lagi kau akan menjadi pewarisku… sialan.”
Aurora pun melangkah pergi, meninggalkan Leon berdiri kaku—
dengan satu kenyataan pahit.
Sedikit lagi ia menang, namun dengan harga yang tak pernah ia perhitungkan.
Begitu Aurora menghilang di balik pintu besar itu, Leon berdiri terpaku.
Ruangan terasa mendadak sunyi.
Tangannya mengepal keras.
Urat di pelipisnya menegang.
“Sial…” desisnya lirih.
Ia menghembuskan napas kasar, lalu menghantam meja di sampingnya sekali cukup keras hingga bunyinya menggema.
***
Di ruang rias, Diandra menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin.
Gaun pengantin kembali membalut tubuhnya—putih, indah, dan terasa asing.
Kemarin, ia mengenakan gaun serupa dengan penuh keyakinan.
Dengan hati yang percaya pada janji dan masa depan.
Dan semuanya berakhir hancur, setelah mengetahui sebuah kenyataan pahit.
Hari ini, ia kembali berdiri di depan cermin.
Bukan karena cinta.
Bukan karena pilihan.
Melainkan karena terpaksa.
Namun jauh di dalam dadanya, masih tersisa harapan kecil, harapan pernikahan ini akan batal.
“Nona, mari kita turun ke bawah. Penghulu sudah menunggu,” Ucap pelayan.
Penghulu?
Astaga.
Seketika itu Diandra mengingat ucapannya kemarin.
Siapapun tolong aku. Kalau dia laki-laki akan kujadikan suami, kalau perempuan akan kujadikan saudara…
Apakah mungkin ucapannya menjadi nyata?
Tapi Diandra juga ingat ada satu kata lagi.
Kalau dia anjing akan kujadikan peliharaan.
Menurut Diandra Leon lebih cocok kalimat yang terakhir.
Anjing itu harusnya dipelihara, kenapa jadi dinikahi?
“Tuhan apakah nasibku berakhir seperti dayang sumbi?
Tidak!”
“Nona,” Kata pelayan lagi menyadarkan isi pikiran Diandra.
“Mbak, itu jendela nembus kemana?” Tanya Diandra menunjuk jendela kaca yang terbuka lebar.
“Keluar, Nona.” Jawab pelayan.
“Bisa langsung nembus ke pintu keluar nggak?” Tanya Diandra lagi.
Pelayan pun tidak menjawab.
Tapi dari hati kecil Diandra ingin kembali melarikan diri, namun di luar sana siapa yang akan menjamin keselamatannya?
“Astaga, kenapa hidupku serumit ini,” Gumamnya.
“Mari, Nona.”
“Mbak, apa Oma sangat kejam?”
Pelayanan pun hanya tersenyum sebagai jawaban.
***
Ruang keluarga itu telah berubah.
Tak lagi seperti tempat berkumpul biasa.
Bunga-bunga putih dan krem menghiasi setiap sudut ruangan—mawar, lili, dan baby’s breath tersusun rapi, seolah dipilih dengan penuh perhitungan. Tidak berlebihan, namun cukup untuk menegaskan satu hal, hari ini ada pernikahan.
Di tengah ruangan, sebuah meja akad sederhana tertata menghadap sofa panjang khas keluarga itu. Karpet berwarna gading terbentang, menghubungkan pintu masuk hingga ke hadapan meja akad. Lilin-lilin kecil diletakkan di sisi-sisinya, menyala redup, menciptakan suasana hangat yang justru terasa menekan.
Tak ada tamu ramai.
Tak ada kerabat jauh.
Hanya keluarga inti yang duduk berjajar—wajah-wajah yang saling mengenal, namun menyimpan kepentingan masing-masing.
Suasananya hening.
Terlalu hening untuk sebuah pernikahan.
Bunga-bunga itu indah, tetapi tak satu pun membawa kebahagiaan.
Semuanya terasa resmi, tertutup, dan final—
seolah ruangan ini bukan disiapkan untuk merayakan cinta, melainkan untuk sebuah keputusan dan Leon duduk disana, di hadapan penghulu.
Dari arah tangga, langkah kaki mulai terdengar.
Pelan. Teratur.
Diandra melangkah turun.
Gaun putih itu sederhana, tak berlebihan, namun entah bagaimana membuatnya tampak berbeda. Rambutnya terurai rapi, wajahnya tenang meski matanya menyimpan kegelisahan.
Tanpa disadari, semua mata tertuju padanya.
Termasuk Leon.
Leon yang semula duduk dengan sikap santai mendadak terdiam. Pandangannya mengikuti setiap langkah Diandra menuruni tangga. Bukan karena rencana, bukan karena kewajiban—melainkan karena ia tak bisa mengalihkan pandangan.
Ada jeda singkat di dadanya.
Sebuah rasa asing yang bahkan tak dapat menyimpulkan.
Saat Diandra menapaki anak tangga terakhir, Leon baru tersadar. Ia mengalihkan pandangan cepat, seolah tak ingin ketahuan, seolah apa yang barusan terjadi hanyalah kebetulan.
Aurora duduk tenang di sofa, tongkatnya bertumpu di sisi kursi.
Namun matanya tak pernah lepas dari satu hal.
Dari tangga… ke Diandra…
lalu ke Leon.
Ia menangkap jeda singkat itu.
Tatapan Leon yang terlalu lama.
Bahunya yang menegang sepersekian detik.
Cara napasnya berubah tanpa ia sadari.
Aurora tersenyum tipis.
Menarik.
Tanpa berkata apa pun, ia menggeser pandangannya kembali ke Diandra, lalu pada bunga-bunga putih yang menghiasi ruangan—seolah semua ini memang sudah seharusnya terjadi.
“Bagus,” gumamnya lirih, hampir tak terdengar.
“Ini akan jauh lebih mudah dari yang kupikirkan.”
Tongkatnya diketukkan pelan ke lantai.
Satu ketukan.
Tanda bahwa permainan telah memasuki babak berikutnya.
Dan Leon tanpa sadar baru saja melangkah satu langkah lebih jauh ke dalam perangkap itu.
“Hari ini,” ucap Aurora lantang namun tenang,
“aku akan mengumumkan bahwa cucu pewaris tahta kerajaan bisnis Fernandez… akan menikah ulang. Setelah kemarin mereka menikah diam-diam.”
Tak ada satu pun suara yang menyela.
Tak ada keberatan.
Tak ada pertanyaan.
Ruangan itu tenggelam dalam diam, diam yang berat, seolah setiap orang paham keputusan ini bukan untuk didiskusikan.
Bahkan kedua orang tua Leon hanya terdiam di tempatnya.
Wajah mereka kaku, mata tertunduk.
Karena di keluarga ini, kehendak Aurora selalu menjadi keputusan akhir.
Dan pernikahan itu telah ditetapkan.
Diandra mengedarkan pandangannya menatap wajah-wajah di sana.
Hingga tanpa sengaja, mata Diandra tertumbuk pada seorang pria paruh baya yang duduk tak jauh dari Leon.
Wajahnya tenang, sorot matanya sulit ditebak.
Pria itu pun menatap balik ke arahnya.
Ikut terkejut melihat kehadiran Diandra.
Dan, seolah sudah mengenalnya.
Diandra menahan napas. Ada rasa asing yang membuat dadanya mengencang—bukan takut, melainkan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.
Leon menyadarinya.
Ia menangkap arah pandang Diandra.
Lalu mengikuti kemana tatapan itu tertuju.
Pandangan Leon mengeras saat matanya bertemu pria paruh baya itu.
Ada sesuatu yang salah.
Tapi apa?
“Apa wanita ini dan Papa punya hubungan?” Batin Leon.
“Silakan, duduk, Nona,” Kata pelayan.
Diandra masih diam seakan larut dalam pikiranya, tatapannya dan tatap pria paruh baya itu masih bertemu.
“Ehem,” Suara deheman Leon seakan sukses menjadi pemecah lamunan itu.
Diandra pun kini menatap Leon.
“Silakan duduk, Nona,” ulang pelayan.
Diandra pun duduk perlahan disamping Leon.
Tapi sedetik kemudian ia kembali menoleh ke arah pria paruh baya tadi.
Tangan Leon pun mencengkram lengannya.
“Aduh…” Ringisnya.
“Kau berhutang penjelasan!” Bisik Leon.
“Apa?” Diandra bingung.
“Silakan pernikahan ini dimulai,” Perintah Aurora.
Diandra menundukkan kepalanya, harapannya hanya satu, pernikahan ini batal.
Terlihat tangan Leon mulai terangkat, dan Diandra tidak siap untuk mendengarnya.
“Siapa pun tolong aku, aku nggak mau nikah dengan orang asing ini,” batin Diandra menjerit meminta tolong.