Oma yang Licik

1079 Words
Oma tersenyum tipis, sorot matanya tajam namun penuh keyakinan. “Tentu. Aku tidak suka rahasia, apalagi soal keluarga.” Ia menatap Diandra lebih lama, seolah sedang menimbang sesuatu. “Lagipula, aku ingin melihat sendiri… perempuan seperti apa yang berhasil membuat cucuku menikah.” Diandra menelan ludah, jantungnya berdegup tak karuan. Leon melangkah setengah langkah ke depan. “Oma, persiapannya—” “Semua sudah diatur,” potong Oma tenang. “Kalian hanya perlu hadir.” Kursi goyang kembali bergerak pelan. Dan di saat itu, Diandra sadar—peran ‘istri pura-pura’ yang ia anggap sementara, kini berubah menjadi panggung besar… dengan penonton yang tak bisa ia hindari. Diandra menatap Leon dengan tangan gemetar. Ia hampir saja membuka mulut, hampir saja merusak semuanya. Namun akal sehatnya menang—untuk sementara. Ia menarik Leon ke sudut ruangan. “Kenapa kau menarikku, bodoh?!” bisik Leon sengit, sambil berpura-pura tenang di hadapan Oma. Diandra tak menjawab. Ia justru melirik ke belakang. Oma tersenyum, penuh arti. Diandra membalasnya dengan senyum yang sama palsunya. Kemudian ia kembali menghadap Leon. “Om… ini maksudnya apa? Aku nggak mau ya?!” desisnya tajam. “Pelayanan,” ucap Oma tanpa menunggu lebih lama. Diandra ikut menoleh, wajahnya jelas kebingungan. Oma memberi isyarat singkat. “Siap, Nyonya Besar,” jawab para pelayan serempak. Dua pelayan itu pun melangkah mendekati Diandra. Jantungnya berdegup semakin cepat—ia sama sekali tak tahu apa yang akan terjadi padanya. “Nona Muda, silakan ikut kami,” ucap salah satu pelayan sambil sedikit membungkuk sopan. Diandra menatap Leon, lalu beralih pada Oma. Oma tersenyum padanya, kemudian mengangguk ke arah para pelayan. “Ayo, ikuti mereka. Pernikahan kalian akan segera dilangsungkan,” ujar Oma tenang. Tubuh Diandra menegang seketika. “Oma, tapi sebenarnya—” Ucapan Diandra terhenti saat tangan Leon tiba-tiba menutup mulutnya. “Ada apa?” tanya Aurora, menunggu penjelasan Diandra dengan sorot mata penuh selidik. “Ingat, nyawamu terancam jika kau memutuskan kerja sama kita,” bisik Leon dingin di telinganya. Peluh Diandra langsung bercucuran. Dadanya sesak. Menikah dengan Leon—orang asing yang baru dikenalnya—atau mati konyol di tangan tantenya. Pilihan yang sama-sama terasa kejam. “Leon, lepaskan istrimu. Kenapa kau bersikap seperti itu?” tanya Oma, nada suaranya tajam. Leon perlahan melepaskan tangannya. Wajahnya kembali dingin. Ia memasukkan kedua tangannya ke saku celana, seolah tak terjadi apa-apa. “Diandra,” panggil Oma lembut, namun tatapannya menusuk, “apa dia sering berbuat kasar padamu?” Oma berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada penuh arti, “Kalau iya, katakan saja. Oma bisa menunda pembagian warisan… sampai anak kalian lahir.” Anak? Untuk pertama kalinya, Leon menegang. Kata itu tak pernah sekalipun terlintas di kepalanya. Diandra pun nyaris kehilangan keseimbangan. Dunia seakan berputar terlalu cepat untuknya. “Leon,” lanjut Oma, menatap cucunya dalam-dalam, “kamu sudah siap menjadi pewaris?” Pertanyaan itu menggantung di udara—berat, menekan, dan berbahaya. Mundur atau maju dan sebentar lagi semuanya akan selesai. “Oma, tapi Diandra dan Om Leon sudah menikah…” ucap Diandra cepat, berusaha menghindari pernikahan sungguhan itu. “Om?” Aurora langsung menatapnya penuh selidik. Diandra menegang seketika, baru menyadari kesalahannya sendiri. Leon di sampingnya mengepalkan tangan, rahangnya mengeras, menahan gejolak emosi. “Leon?” panggil Oma pelan, namun mengandung ancaman. “Jangan main-main denganku. Kau bisa jadi gembel,” ujarnya dingin. “Sial,” umpat Leon lirih, hampir tak terdengar. Ia seperti tidak punya harga diri di hadapan Oma dan Diandra benar-benar jalan untuk membawanya menjadi pewaris agar ia tak lagi dianggap kecil. Leon yang terbiasa hidup berkecukupan tahu betul—ucapan Omanya bukan sekadar gertakan. Jika Oma menghendaki, ia benar-benar bisa kehilangan segalanya. “Bukan begitu, Oma. Dia hanya sedang bercanda,” ucap Leon cepat. Tanpa memberi waktu Diandra bereaksi, Leon melingkarkan tangannya di pinggang ramping wanita itu. Tubuh Diandra menegang seketika. Panik menyeruak. Ia berusaha melepaskan diri, namun cengkeraman Leon terlalu kuat. Napas hangat pria itu menyentuh telinganya. “Jangan mempersulit,” bisik Leon rendah. Diandra berputar, memaksakan diri berhadapan dengannya. Jarak mereka begitu dekat hingga ia bisa melihat sorot mata Leon yang dingin namun menekan. Ia terdiam. Bingung. Tak tahu harus berkata apa atau berbuat apa selanjutnya. Saat itu tangan Leon kembali menarik pinggangnya. Diandra yang sama sekali tak siap langsung terseret dan membentur d**a Leon. “Jangan marah lagi, ya. Aku kan sudah minta maaf,” ucap Leon tiba-tiba, suaranya terdengar lembut—terlalu lembut. Diandra tahu. Pria ini hanya sedang berpura-pura. Belum sempat ia bereaksi, suara Oma memotong suasana. “Leon, kau punya pilihan.” Leon menoleh, sorot matanya berubah waspada. “Pergi dari sini, bawa dia,” lanjut Oma tenang namun mengandung ancaman, “atau menjadi pewarisku… setelah menikah di hadapanku.” Kata-kata itu menggantung berat di udara. Diandra menahan napas. Leon terdiam—untuk pertama kalinya benar-benar terpojok. Diandra menatap Leon sambil menggeleng pelan, matanya memohon tanpa suara. “Pelayan, bawa dia,” ucap Leon dingin. Deg. Mata Diandra melebar. Dadanya serasa runtuh. Ia tak mau menjadi istri Leon—bukan sungguhan. Namun bahkan untuk menolak pun ia tak diberi ruang. “Oma, tapi Diandra cuma wanita biasa,” ucapnya terburu-buru, berusaha menangkap celah terakhir. “Apa Oma tidak malu nanti di hadapan keluarga besar?” tanyanya lirih, penuh harap. Aurora tersenyum tipis menatapnya—senyum yang sama sekali tak mengandung simpati. “Diandra anak yatim piatu, dari keluarga miskin, dan tidak punya pendidikan,” katanya, seolah sedang membacakan data. Nada suaranya semakin meyakinkan. “Jangan terlalu merendahkan diri, Nak,” lanjut Aurora, seakan tahu betul seluruh hidup Diandra. Lalu ia menoleh ke arah para pelayan. “Bawa dia.” Perintah itu jatuh seperti palu. Diandra membeku, menyadari satu hal pahit— tak ada lagi jalan mundur. “Silakan ikut kami, Nona Muda,” ucap pelayan sambil memberi isyarat ke arah yang harus dituju Diandra. Namun Diandra tak langsung melangkah. Kakinya terasa berat, seolah tertanam di lantai. Ia menatap Leon—lama. Bukan marah, bukan benci. Melainkan harapan terakhir, sekecil apa pun itu, agar pria itu menghentikan semuanya… agar pernikahan sungguhan ini tak pernah terjadi. Tapi Leon tetap diam. Aurora menatap keduanya, seolah menunggu sesuatu—sebuah pengakuan, penolakan, atau keberanian terakhir. Namun tak satu pun keluar dari mulut mereka. Keheningan itu terlalu lama. Terlalu berat. “Pelayan!” panggil Oma akhirnya, suaranya menyadarkan Diandra. “Nona Muda, ayo,” ujar pelayan, kali ini tanpa ragu. Tangan itu pun meraih lengan Diandra dan benar-benar membawanya pergi. Diandra tak lagi menoleh. Karena ia tahu— tak ada lagi yang akan menghentikan langkahnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD