Leon duduk di ruang tamu, matanya sesekali melirik ke jam tangan mewah di pergelangan tangannya—sebuah Rolex Daytona berlapis emas, kristal safir memantulkan cahaya pagi. Hampir satu jam ia menunggu, tapi Diandra tak kunjung muncul.
“Sialan… kurcaci itu,” gumamnya, rahangnya mengatup kuat.
Di sampingnya, Hilda duduk bersandar pada lengannya, sesekali mengusap lengan Leon dengan lembut, seakan menenangkan pria itu.
“Sayang, sepertinya wanita butuh pelajaran,” ucap Hilda manja.
Leon menatapnya sekilas, menimbang kata-kata itu. Ia menarik napas pelan, suaranya rendah.
“Kalau saja tidak ada keuntungan… aku sudah membuangnya.”
Tiba-tiba, suara Diandra terdengar di belakangnya.
“Kamu ngomong apa?”
Leon bangkit seketika, tubuhnya tegap. Matanya menatap Diandra dari atas sampai bawah.
Kaki jenjangnya, dress yang menempel pas di tubuhnya, rambutnya yang tertata rapi—semua menyatu membentuk sosok yang tak bisa diabaikan.
Seketika, dingin dan kesabaran Leon bergeser sedikit, terganggu oleh keberanian dan pesona gadis itu.
“Lama sekali! Kau pikir kau siapa?” Leon memutar langkahnya pergi, suara dan gerak tubuhnya penuh wibawa, tanpa memberi ruang untuk pembelaan.
Diandra mendengus kesal, tak mau kalah. Ia segera menyusul, langkahnya cepat tapi mantap, mata menatap tajam ke arah Leon.
“Hei! Tunggu dulu, Tuan Leon!” teriaknya, setengah marah, setengah menantang.
Setelah Leon masuk ke dalam mobil, Diandra langsung menyusul, pintu ditutup dengan sedikit keras di belakangnya.
“Om Leon, apakah Anda tahu aku belum makan? Aku lapar!” ujar Diandra kesal, nada suaranya bergetar antara marah dan frustrasi.
Leon menoleh sekilas, matanya dingin, tapi tidak ada tanda ia akan menanggapi keluhan itu. Tanpa kata lagi, ia menyalakan mesin dan segera melajukan mobil.
“Sialan…,” gumamnya pelan, menatap jalan di luar jendela sambil menahan rasa kesalnya.
Mobil meluncur di jalan raya, keheningan di dalamnya hanya terpecahkan oleh deru mesin—Leon fokus pada tujuannya, Diandra fokus pada rasa lapar dan kemarahannya sendiri.
***
Tiga puluh menit berlalu.
Kecepatan mobil perlahan menurun sebelum akhirnya berhenti di depan sebuah mansion megah yang berdiri anggun di balik gerbang besi tempa berukir klasik.
Gerbang itu terbuka perlahan, memperlihatkan halaman luas dengan jalan berbatu yang tertata rapi, diapit taman hijau dengan patung-patung marmer bergaya Eropa kuno.
Mansion itu sendiri menjulang dengan arsitektur klasik—pilar-pilar tinggi berwarna krem menopang balkon berornamen ukiran halus. Jendela-jendela besar berbingkai kayu gelap memantulkan cahaya, sementara lampu-lampu dinding bergaya vintage mulai menyala, menambah kesan hangat sekaligus berkelas.
Atapnya tinggi dengan detail cornice yang rumit, seolah setiap sudut bangunan dirancang untuk menunjukkan kemewahan tanpa perlu berlebihan. Air mancur di tengah halaman memercikkan air dengan suara lembut, menciptakan nuansa tenang namun penuh wibawa.
Mobil berhenti tepat di depan tangga lebar yang dilapisi karpet merah tua.
Diandra menatap pemandangan itu sejenak.
“Ingat, Diandra,” ucap Leon dingin. “Kita punya kontrak kerja sama. Kalau kau tidak memainkan peranmu dengan baik, aku akan menyerahkanmu kembali pada Tante-mu yang serakah itu.”
Leon hendak membuka pintu dan turun dari mobil, namun tiba-tiba tangan Diandra menahan lengannya.
Gerakannya spontan—dan terlalu lancang.
Leon berhenti. Ia menoleh perlahan, tatapannya jatuh pada tangan yang mencengkeram lengannya. Aura dingin langsung menyelimuti wajahnya.
“Aku nggak bermaksud apa-apa,” kata Diandra cepat, lalu menarik napas. “Oke, kita punya kerja sama. Tiga bulan. Tapi setelah itu gimana? Kamu bakal pergi gitu aja?”
“Apa maksudmu?” tanya Leon singkat, tanpa basa-basi.
“Kamu dapat keuntungan,” lanjut Diandra, suaranya menegang. “Aku? Kamu juga harus bantu aku mencari bukti kalau Tante dan Om-ku yang membunuh kedua orang tuaku.”
“Hey, ak—”
“Kalau kamu nggak mau,” potong Diandra cepat, “aku juga nggak mau jadi istri pura-pura kamu di hadapan Oma-mu. Aku permisi.”
Ia membuka pintu dan mulai bergerak turun.
“Oke!” ujar Leon cepat.
Gerakan Diandra terhenti.
Leon menghela napas kasar.
Diandra berbalik dan mengulurkan tangannya, senyum tipis terbit di bibirnya.
“Deal?”
Leon menatap tangan itu beberapa detik terlalu lama. “Mmm.”
Tak mendapat balasan, Diandra langsung meraih tangan Leon sendiri dan menggenggamnya erat.
Senyumnya melebar. “Ck. Suami yang baik,” celetuknya ringan, lalu ia melangkah turun dari mobil seolah baru saja memenangkan pertempuran kecil.
Leon tetap di tempatnya beberapa saat, mematung.
Ia menggeleng pelan, tak percaya.
Gadis aneh ini… baru saja membalikkan keadaannya.
“Wanita sialan!” umpatnya.
Mereka melangkah masuk ke dalam mansion.
Begitu pintu utama terbuka, nuansa klasik langsung menyambut dengan kemewahan yang tenang. Lantai marmer mengilap berwarna krem berpola geometris membentang luas, memantulkan cahaya lampu gantung kristal besar yang menjuntai anggun dari langit-langit tinggi. Setiap butir kristalnya berkilau lembut, menciptakan suasana megah tanpa terasa berlebihan.
Dinding-dinding berlapis panel kayu tua dipadukan dengan ukiran emas tipis, memberi kesan hangat sekaligus berwibawa. Lukisan-lukisan keluarga berbingkai ukir klasik tergantung rapi di sepanjang lorong, seolah mengawasi setiap langkah yang masuk ke dalam rumah itu.
Aroma khas—perpaduan bunga segar dan kayu cendana—mengisi udara.
Beberapa pelayan berdiri berjajar tak jauh dari pintu, membungkuk hormat saat Leon masuk.
“Selamat datang, Tuan,” ucap mereka serempak.
Diandra melangkah di samping Leon, matanya bergerak ke segala arah, tak bisa menyembunyikan rasa takjubnya. Meski berusaha bersikap santai, jantungnya berdegup lebih cepat.
Tempat ini… berbeda.
Leon berjalan dengan langkah mantap, seolah mansion itu adalah wilayah kekuasaannya. Tanpa menoleh, ia berkata rendah, “Ingat peranmu.”
Diandra mendengus pelan. “Tenang aja. Aku bisa akting.”
Dan di ruang keluarga, Oma tengah duduk di kursi goyang kayu tua berukir halus. Gerakannya pelan dan ritmis, seolah menandakan waktu yang berlalu sambil menunggu. Tongkat berkepala perak terletak di sisi kursi, sementara selendang sutra melingkar anggun di bahunya.
Tatapannya tertuju ke arah pintu masuk, tenang namun penuh wibawa—seolah sejak tadi ia memang telah menanti kedatangan cucunya.
Begitu langkah kaki terdengar mendekat, senyum tipis terbit di wajah keriput itu.
“Leon…” ucapnya pelan.
Mata Oma kemudian bergeser ke sosok di samping Leon. Tatapannya menelusuri Diandra dari kepala hingga kaki—bukan dengan sinis, melainkan penuh penilaian dan rasa ingin tahu yang tajam.
“Ooh,” gumamnya lirih. “Jadi ini… istrimu.”
Diandra menelan ludah, entah kenapa sorot mata Oma terasa lebih menusuk daripada tatapan Leon.
Dan di detik itu, Diandra sadar—wanita tua di hadapannya ini adalah sosok yang memegang kendali sebenarnya di mansion ini.
“Karena kalian menikah diam-diam tanpa sepengetahuan keluarga,” katanya enteng, namun nadanya tak memberi ruang bantahan, “maka hari ini pernikahan kalian akan dilakukan lagi. Kali ini di hadapan keluarga besar.”
Leon menegang sesaat.
Diandra refleks menoleh ke arahnya, matanya membulat. “Ha—hari ini?” gumamnya pelan, hampir tak terdengar.