Tidak Sabar

1084 Words
Tok. Tok. Tok. Suara ketukan pintu membangunkan Diandra dari tidurnya. Perlahan matanya terbuka. Ia mengedip beberapa kali, mencoba menyesuaikan diri dengan cahaya kamar. Tubuhnya terasa kaku, otot-ototnya menegang. Diandra merentangkan tubuhnya pelan, menarik napas dalam, lalu mengembuskannya perlahan. Jantungnya masih berdetak sedikit lebih cepat, berharap yang terjadi kemarin hanya mimpi. Tapi itu nyata. Tok. Tok. Tok. Ketukan itu terdengar lagi, lebih tegas kali ini. Diandra mengusap wajahnya, bangkit dari ranjang, dan menoleh ke arah pintu. Diandra tersadar bahwa ia tertidur begitu lelap. Entah sejak kapan—mungkin karena kelelahan yang menumpuk, hingga tubuhnya menyerah begitu saja dan membawanya ke dalam tidur yang dalam. Pintu terbuka, Minah muncul dan melangkah masuk ke dalam kamar. “Nona, ini pakaian Anda,” ucapnya sambil meletakkan satu set pakaian rapi di atas permukaan ranjang yang kosong. Diandra hanya diam, matanya melirik sekilas tanpa benar-benar tertarik. “Kata Tuan Leon, Anda diminta segera bersiap. Tuan Leon sudah menunggu di ruang makan,” lanjut Minah dengan nada sopan. “Leon?” Tanya Diandra bingung, tapi sedetik kemudian ia ingat itu adalah nama pria asing yang baru ia kenal, “Ya,” jawab Diandra singkat. Minah mengangguk kecil, lalu keluar dan menutup pintu kembali. *** Sementara itu, di ruang makan utama mansion. Meja panjang berlapis marmer putih terhidang rapi. Piring-piring porselen mahal tersusun sempurna, ditemani aroma kopi hangat dan roti panggang yang baru keluar dari oven. Leon duduk di kursinya, tubuhnya tegap, satu tangan memegang cangkir kopi sementara yang lain sesekali mengaduk sarapan di hadapannya. Wajahnya tetap dingin, seolah pikirannya tidak sepenuhnya berada di ruangan itu. Di sampingnya, Hilda duduk santai. Wanita itu tampak begitu kontras—gaun rumah berpotongan sederhana namun melekat sempurna di tubuhnya, rambut panjangnya terurai rapi, dan senyum tipis menghiasi bibirnya saat matanya mencuri pandang ke arah Leon. “Kamu kelihatan nggak sabaran pagi ini,” ujar Hilda ringan, suaranya manja. Leon tidak langsung menjawab. Ia meneguk kopinya sekali lagi sebelum akhirnya melirik Hilda sekilas. “Aku tidak suka jadwal berantakan,” jawabnya singkat. Hilda terkekeh kecil, lalu menyilangkan kaki dengan anggun. “Atau karena wanita tamu kita belum muncul?” Leon kembali menatap ke depan, ekspresinya sulit dibaca. “Dia akan turun,” katanya datar. Nada suaranya terdengar yakin, meski di benaknya bayangan Diandra yang masih terlelap di kamar mulai melintas. Namun setelah tiga puluh menit berlalu dan Diandra tak juga menampakkan diri, kesabaran Leon akhirnya habis. Ia bangkit dari duduknya dengan gerakan kasar. Kursi di belakangnya bergeser hingga menimbulkan suara gesekan yang nyaring di lantai marmer. “Leon?” Hilda menoleh cepat. “Sayang, ada apa?” tanyanya lembut, meski ia tahu betul—kekasihnya itu bukan tipe pria yang pandai menunggu. Terlebih untuk seseorang yang tak dianggap penting. Leon tidak langsung menjawab. Rahangnya mengeras, tatapannya dingin menembus ruang makan. “Aku benci menunggu,” katanya datar. Leon melangkah menyusuri koridor mansion dengan langkah panjang dan mantap. Setiap hentakan sepatunya menggema di lantai marmer, seolah menegaskan siapa penguasa tempat itu. Para pelayan yang berpapasan spontan menunduk, tak satu pun berani menegurnya. Tatapannya lurus ke depan—tajam, dingin, dan penuh kendali. Begitu tiba di depan kamar Diandra, Leon sama sekali tidak melambat. Tidak ada ketukan. Tidak ada peringatan. Tangannya langsung meraih gagang pintu dan mendorongnya terbuka begitu saja. Pintu kamar terhempas ke dinding dengan suara berat. Leon masuk dengan langkah tegas, aura dinginnya memenuhi ruangan luas itu. Tirai jendela masih tertutup setengah, cahaya pagi menyelinap tipis dan jatuh ke atas ranjang besar di tengah kamar. Di sanalah Diandra. Masih terbaring, selimut menutup sebagian tubuhnya, napasnya teratur—jelas belum terbangun. Leon berhenti beberapa langkah dari ranjang, matanya menyapu sosok itu dengan emosi. Kemudian tangannya meraih gelas berisi mineral yang tersedia di atas meja, dengan cepat menyiramkan pada muka Diandra. Byur!! “Bangun,” katanya datar. Tak ada nada lembut. Tak ada kesabaran. Hanya perintah. Diandra seketika terbangun saat air dingin mengguyur tubuhnya. “Hey! Kamu itu benar-benar keterlaluan!” geramnya sambil bangkit setengah duduk. Matanya menatap Leon tajam, sorotnya penuh amarah, bahkan kedua tangannya sudah mengepal—siap mencakar wajah pria itu kapan saja. “Kamu cuma orang lain di sini,” ucap Leon dingin. “Jangan pernah berpikir kau pemilik tempat ini.” Diandra turun dari ranjang. Berhadapan dengan Leon, menantangnya tanpa gentar. “Oh, tentu saja, Tuan Leon yang terhormat,” balasnya sinis. “Aku tahu itu. Semua orang di rumah ini juga tahu. Tapi nggak usah sombong, harta juga ngga dibawa mati!” Sorot mata Leon mengeras. Ia menatap Diandra semakin tajam, rahangnya mengatup kuat. Sejauh ini, tak pernah ada satu pun orang yang berani membentaknya—apalagi menantangnya—tepat di depan wajahnya seperti itu. Dan entah kenapa, keberanian Diandra justru membuat suasana di antara mereka semakin menegang. Tiba-tiba Diandra mengangkat tangannya, jari telunjuknya mengarah ke mata Leon. “Biasa aja lihatnya. Aku colok nanti mata kamu!” ancamnya sengit. Leon belum sempat membalas ketika— Dreett… Suara ponselnya berdering. Leon melirik layar sekilas sebelum mengangkatnya. “Ya, Oma.” Suara seorang wanita tua terdengar ceria dari seberang sana. “Cucuku yang tampan, kapan kamu datang membawa istrimu ke rumah Oma?” Leon menatap Diandra yang masih berdiri di hadapannya dengan wajah sinis dan napas memburu. “Kami akan segera berangkat, Aurora,” jawab Leon tenang. Panggilan berakhir. Leon menarik napas pelan, jelas sedang menahan diri agar tidak melenyapkan wanita menjengkelkan di hadapannya itu. Bukan karena ia tak mampu—melainkan karena, untuk saat ini, Diandra masih ia butuhkan. “Siap-siap sekarang. Kita akan ke rumah Oma,” perintahnya dingin, tanpa ruang untuk dibantah. “Oke… aku mandi dulu,” balas Diandra malas sambil memutar bola mata. “Lima menit.” Diandra langsung menoleh tajam. “Hey! Kamu pikir aku apa? Lima menit buat cebok aja belum tentu selesai!” Tatapan Leon mengeras, sementara sudut bibirnya berkedut tipis—antara kesal dan tak percaya dengan mulut Diandra. “Sedangkan princess butuh mandi, gosok gigi, dan dandan!” sambung Diandra dengan nada sok angkuh. Leon menatapnya datar, jelas makin tipis kesabarannya. “Kamu punya sepuluh menit,” katanya akhirnya, suaranya rendah dan tegas. Diandra menyipitkan mata. “Satu jam juga belum tentu cukup Leon!” Leon mendengus pelan. “Jangan uji batas kesabaranku, Diandra.” “Tenang aja,” balas Diandra santai sambil melangkah menuju kamar mandi. “Aku cuma mau tampil layak. Masa istri cucu Oma datang ke rumahnya kayak zombie?” Pintu kamar mandi ditutup cukup keras di belakangnya. Leon berdiri di tempat, menatap pintu itu beberapa detik lebih lama lalu menghembuskan napas berat. “Wanita ini…” gumamnya pelan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD