Tok… tok… tok.
Pintu terbuka, Leon dan Diandra menoleh ke arah suara.
“Nona muda, ini pakaian Anda,” ucap pelayan sambil meletakkan pakaian di atas ranjang.
“Dan Nyonya Besar menunggu Anda di meja makan untuk makan siang bersama keluarga.”
Diandra mengangguk singkat, lalu pelayan menutup pintu dengan rapi.
“Makan? Aku sudah lapar banget sih,” kata Diandra sambil menepuk perutnya.
Kemudian ia menatap Leon dan tersenyum nakal.
“Om… bisa keluar sebentar? Aku mau ganti baju,” katanya sambil cengengesan.
“Kenapa kamu memerintahiku?” tanya Leon, setengah heran, setengah kesal.
“Kita kan kerja sama, bukan aku merintahmu,” jawab Diandra dengan santai, sambil menyandarkan punggung.
“Aku cuma takut kamu tergoda sama… kecantikan dan keseksian aku,” ucapnya dengan nada percaya diri, sedikit menyindir, sambil menatap Leon penuh tantangan.
“Dasar suntel kenyut!” ejek Leon sambil melangkah keluar, meninggalkan Diandra yang hanya bisa menatapnya sambil menahan senyum.
***
Diandra menarik napas dalam, lalu melangkah turun tangga dengan anggun, gaunnya bergoyang lembut mengikuti tiap langkah. Mata setiap anggota keluarga menatapnya—ada penuh rasa ingin tahu, beberapa tersenyum penuh perhitungan.
Leon duduk di ujung meja, menatapnya dengan alis mengerut, setengah kesal, setengah penasaran.
Diandra hanya tersenyum tipis, tak terganggu, lalu menapaki kursinya di sisi meja yang telah ditunjukkan pelayan. Ia menata gaunnya, duduk dengan tegak, namun napasnya masih sedikit cepat—antara gugup, lapar, dan waspada.
Aurora duduk di kepala meja, menatap Diandra dengan senyum tipis tapi penuh arti.
“Selamat datang, Nona Diandra,” ucapnya lembut, namun matanya seperti menilai setiap gerak-gerik Diandra.
Diandra membalas dengan senyum sopan, tapi matanya tetap tajam, menandakan bahwa ia tidak akan mudah dikendalikan.
Leon menghela napas, menahan diri agar tidak tersenyum—walau ada sedikit rasa kagum terhadap kecantikan wanita ini.
Pelayan mulai menyajikan hidangan, aroma masakan mengisi ruangan. Suasana sedikit hangat, tapi ketegangan antara Diandra dan Leon tetap terasa, seperti magnet yang saling tarik-menarik, siap meledak kapan saja.
“Sebelum makan siang dimulai, Oma terlebih dahulu memperkenalkan anggota keluarga.”
“Haldy,” ucapnya sambil menatap seorang pria paruh baya yang duduk tegap di kursi, “Papa Leon.”
Haldy tersenyum.
“Indah,” lanjutnya, menunjuk seorang wanita anggun di sebelah Haldy, “Mama Leon.”
Indah hanya biasa saja, wajahnya datar.
Aurora menoleh sebentar ke Leon.
“Dan Leon masih punya adik laki-laki, seorang dokter, tapi saat ini sedang berada di luar negeri.”
Diandra mencatat semuanya dalam benaknya, mencoba mengingat wajah dan nama setiap anggota keluarga, sekaligus menilai dinamika yang ada.
Leon duduk di kursi, matanya mengamati reaksinya, dengan datar.
“Silakan, makan bisa dimulai. Dan satu lagi… Oma sudah menyiapkan rencana honeymoon untuk kalian,” ucap Aurora sambil tersenyum penuh arti.
Diandra terkejut, langsung terbatuk-batuk keras.
Leon cepat-cepat meraih botol mineral dan memberikannya kepadanya.
Dengan sigap, Diandra meneguk airnya, masih menahan batuk, sambil menatap Leon dengan mata sedikit menantang.
“Oma, Leon sedang banyak pekerjaan,” kata Leon cepat, mencoba menenangkan situasi.
“Ya, tapi kamu akan berangkat ke Bali dua hari lagi. Untuk itu, berangkat lebih awal dan bawa istrimu,” ucap Oma dengan tenang, matanya menatap mereka berdua penuh arti.
Diandra menatap Leon secepat kilat, sungguh syok mendengar rencana itu. Dalam hati ia bergumam,
“Apa… keperawakanku akan hilang kalau aku ikut?”
Leon menatapnya datar, tak menjawab, tapi jelas hatinya ikut kesal.
“Tidak mungkin kan pengantin baru berjauhan,” goda Oma lagi, senyum tipis terukir di wajahnya.
Diandra hanya menghela napas panjang, menahan diri agar tidak tersedak air minum, sementara Leon menatap Oma dengan ekspresi campur kesal dan tak berdaya.
“Ayo, Diandra, silakan makan,” kata Aurora sambil menatapnya lembut, memberi isyarat agar Diandra kembali menikmati hidangan.
Diandra mencoba mengunyah, tapi nafsu makannya mendadak hilang begitu mendengar rencana honeymoon.
Bagaimanapun juga, ia masih perawan dan takut kehilangan sesuatu yang berharga baginya.
“Setelah makan selesai, kalian akan berangkat dengan jet pribadi,” ucap Oma lagi, tenang tapi tegas.
Diandra melirik Leon, berharap ada cara untuk membatalkan rencana Oma. Tapi Leon hanya diam, fokus pada makanannya seolah dunia di sekitarnya tidak ada.
Diandra menahan kesal, matanya hampir menembakkan api—dan saat mereka berdua nanti sendiri, sendalnya yang pertama kali melayang ke arah Leon.
“Dan… Oma minta oleh-oleh cucu,” kata Aurora, tersenyum tipis.
Mendengar itu, Diandra benar-benar syok. Ia menatap Leon seolah berkata dalam hati, “Tolong hentikan ini sebelum aku kehilangan akal sehatku!”
Leon tetap terlihat datar, mengunyah makanannya tanpa ekspresi.
Sementara itu, Diandra nyaris pingsan lagi, napasnya tertahan karena syok mendengar rencana perjalanan dan permintaan Aurora.
“Papa juga setuju,” sahut Haldy dengan tenang, menegaskan dukungannya terhadap rencana Aurora.
“Papa, apasih…” gumam Indah, nada suaranya seolah tidak setuju, menatap Diandra dengan tatapan sinis.
Diandra menelan ludah, mencoba menenangkan diri. Matanya menatap Leon kembali dengan penuh harap—namun dia hanya menerima tatapan datar yang sama, membuatnya semakin kesal dan bingung.
“Oma, tapi… kalau berangkat kan butuh sesuatu, kan? Pakaian misalnya,” kata Diandra ragu, menatap Oma dengan cemas.
“Diandra harus packing dulu,” tambahnya, suaranya sedikit gemetar karena syok.
Aurora tersenyum lembut, lalu menatap Leon sambil menyindir,
“Sayang… kamu tidak perlu memikirkan apa pun. Itulah gunanya suamimu.”
Leon mengangkat alis, menatap Aurora dengan serius, menunggu kelanjutan ucapannya.
Aurora terus tersenyum tipis.
“Leon akan membeli pakaian… baru… semuanya dia yang akan belikan,” ujarnya, nada lembut tapi penuh arti.
Diandra menatap Leon, syok bercampur kesal, sementara Leon hanya diam, sedikit terkejut tapi menahan diri agar tidak menunjukkan ekspresi apa pun.
“Tapi… tidak perlu khawatir. Untuk saat ini, semua pakaianmu sudah disiapkan,” tambah Aurora, senyumannya semakin merekah, penuh arti.
“Kamu hanya perlu ikut… dan tersenyum manis,” ujarnya, menatap Diandra seolah menantang.
Diandra menelan ludah, mata membelalak, hampir kehilangan kata-kata. Ia menatap Leon, berharap ada tanda pertolongan… tapi Leon tetap datar, menatapnya hanya dengan ekspresi tak tergoyahkan.
Diandra menahan napas, rasanya dunia di sekelilingnya semakin mendesak—antara syok, kesal, dan sedikit panik.
Ia takut kehilangan keperawanannya.
“Lagi pula… Oma pikir suami lebih suka istrinya tidak pakai pakaian,” celetuk Aurora, nada santai tapi penuh sindiran.
Leon dan Diandra langsung menatapnya reflek, mata mereka membelalak sekaligus terkejut.
Aurora tersenyum puas. Dua anak muda ini sedang menantangnya…mencoba memainkan peran suami-istri, tapi tanpa mereka sadari, justru mereka yang mulai terjebak dalam permainannya sendiri.
Diandra menahan napas, hampir tersedak makanan, sementara Leon hanya menatap Aurora, campur marah dan bingung, mencoba mencari cara untuk mengalihkan perhatian situasi.
“Namanya sudah kawin, ya main kawin-kawinan dong,” kata Aurora sambil tersenyum, seolah menikmati reaksi Diandra dan Leon sekaligus.
Ia mengangkat gelasnya dan meneguknya dengan angkuh.