Diandra melangkahkan kakinya menaiki jet pribadi keluarga Fernandez.
Namun, bukannya langsung duduk, ia malah membuka sendalnya dengan cepat.
Sebelum Leon sempat bereaksi, sendal itu melayang—dan plak! tepat mengenai kepala Leon.
Leon menatapnya dengan mata terbelalak, setengah marah, setengah tak percaya.
“Diandra Aprilia… apa-apaan ini?!” gumamnya dingin, tangannya menahan kepala dari hantaman kedua.
“Kamu senangkan rencana honeymoon ini?!” kesal Diandra, matanya menatap Leon penuh tuduhan.
“Apa kau tidak waras?” balas Leon datar, nada suaranya tetap tenang tapi tegas.
“Aku waras! Kamu yang gila! Kenapa nggak nolak rencana ini?” Diandra menekankan kata-katanya sambil menatapnya penuh curiga.
Leon menatapnya cepat. “Kondisikan isi pikiranmu itu!” sergahnya sebelum Diandra sempat bilang hal yang bisa bikin suasana makin panas.
“Mana aku tahu sebenarnya kamu suka sama aku!” gumam Diandra, sedikit tersinggung.
Leon menoleh, cepat menyentil kepala Diandra, ekspresinya jelas sedikit kesal.
“Hey! Sakit!” keluh Diandra sambil menahan tangan yang menyentuh kepalanya.
“Berhenti berpikir macam-macam!” tegas Leon, suaranya datar tapi penuh otoritas.
Diandra menatapnya kesal.
Kemudian ia duduk.
***
Jet pribadi mendarat mulus di bandara Bali, dan tak lama kemudian, Diandra dan Leon tiba di hotel mewah yang menghadap laut biru luas.
Bangunan hotel menjulang dengan arsitektur modern berpadu sentuhan tropis, kolam infinity yang memantulkan cahaya matahari, serta taman hijau rimbun yang mengelilingi setiap sudut. Aroma bunga frangipani dan melati menyambut mereka begitu memasuki lobi.
Pelayan hotel yang rapi menyambut mereka dengan senyum hangat, sambil membawa koper mereka.
Diandra menatap sekeliling, tetap elegan dan percaya diri, tapi matanya bersinar sedikit penasaran—ini jelas bukan tempat sembarangan.
Begitu sampai di kamar honeymoon, Diandra nyaris terpesona.
Kamar luas dengan lantai kayu halus dan jendela besar yang memamerkan panorama laut lepas.
Tempat tidur king-size berlapis linen putih lembut, dihiasi kelopak bunga mawar merah yang membentuk hati.
Lampu-lampu hangat menebar cahaya romantis, sementara tirai transparan berkibar pelan karena angin laut.
Di sudut kamar, ada sofa empuk dan minibar mewah, lengkap dengan buah segar dan cokelat praline.
Diandra berjalan perlahan di kamar, merasakan nuansa mewah tapi intim. Ia menatap Leon, matanya penuh campuran kekaguman dan kesal karena… semua ini terjadi karena rencana Oma.
Leon duduk di tepi tempat tidur, tetap tenang, satu tangan memegang gelas minuman, menatap Diandra dengan ekspresi datar tapi diam-diam… sedikit menikmati reaksinya.
“Andai saja aku benar-benar menikah dengan orang yang kucintai, mungkin liburan kali ini akan terasa jauh lebih bahagia,” katanya lirih.
“Honey.”
Suara itu datang dari pintu yang masih terbuka lebar.
Leon menoleh. Diandra ikut menatap ke arah yang sama.
Hilda berdiri di sana.
Menyusul? Atau memang sengaja datang untuk mengacau?
Dengan tatapan sinis, wanita itu melangkah masuk lalu duduk tepat di samping Leon.
“Hei, jangan lupa diri. Walaupun kalian menikah, tetap hanya aku yang berhak atas Leon!”
Diandra terlihat jenuh mendengarnya.
“Ambil saja, ambil. Kami kan cuma kerja sama,” ejeknya, sengaja menekankan kata terakhir.
“Kamu berani kurang ajar sama aku?!” bentak Hilda.
“Ya ampun…” Diandra mendengus malas.
“Sudahlah, apa yang dia katakan benar,” sahut Leon singkat.
“Honey, kamu membela dia?”
“Bukan membela. Udah, cukup.”
“Kamu juga harus menikahi aku!” pinta Hilda dengan nada kesal.
“Astaga… aku bakal dimadu?” Diandra berlagak sedih, tapi sedetik kemudian sorot matanya berubah sinis.
“Ah, bodo amat.”
“Diandra, keluar,” perintah Leon.
“Kok aku?” Diandra menuding dirinya sendiri, tak percaya.
“Kami mau menikmati bulan madu. Kamu mau nonton?” sindir Hilda.
“Dasar gila!”
Tanpa menunggu balasan, Diandra pun melenggang keluar.
Sebelum benar-benar melangkah keluar, Diandra sempat menoleh.
Leon dan Hilda sudah saling merapat, b******u mesra seolah menumpahkan rindu yang lama tertahan.
Pemandangan itu singgah sekilas di matanya—lalu lewat.
Tak ada perih yang menetap.
Tak ada cemburu yang layak diperjuangkan.
Yang pasti bukan dengannya, batinnya tenang.
Bahkan, di sudut hatinya, Diandra justru bersyukur. Setidaknya satu hal masih utuh dan tak ternodai—keperawanannya.
Ia melangkah keluar dari kamar hotel, menyusuri koridor panjang yang berkilau oleh lampu-lampu hangat. Gaun tipisnya berkibar pelan mengikuti langkahnya. Udara Bali yang lembap menyentuh kulit, membawa aroma laut yang samar.
Di luar, ia memilih berjalan tanpa tujuan. Melewati taman hotel dengan pepohonan tropis, suara air kolam yang mengalir pelan, dan cahaya senja yang mulai jatuh malas di ufuk barat.
Tak lama, langkahnya membawanya keluar dari area hotel.
Hamparan alam Bali menyambut—langit jingga, angin laut yang bebas, dan debur ombak yang memecah sunyi. Diandra berdiri sejenak, menghirup udara dalam-dalam.
Di tempat sejauh ini, ia merasa lebih hidup.
Lebih merdeka.
Seketika, rasa sesak menghantam dadanya.
Ingatan itu datang tanpa aba-aba—tentang Tante dan Om yang telah melenyapkan kedua orang tuanya. Kenangan pahit yang selama ini ia kubur rapat, kini mencuat begitu saja.
Namun di balik sesak itu, sesuatu justru tumbuh.
Sebuah tekad.
Kuat.
Dingin.
Dan berbau balas dendam.
Siapa pun yang telah melenyapkan kedua orang tuanya… harus bertanggung jawab.
Sekalipun adalah Om dan Tantenya sendiri.
Diandra mengepalkan tangan tanpa sadar. Napasnya memburu, matanya menajam, seolah dunia dendam itu akan segera terjadi.
Sampai akhirnya ia menyadari satu hal.
Tatapan.
Orang-orang di sekitarnya menatapnya. Beberapa dengan wajah heran, sebagian lain berbisik pelan. Diandra menoleh ke kanan dan kiri, bingung. Apa ada sesuatu di wajahnya?
Belum sempat ia berpikir lebih jauh, beberapa pemuda mendekat. Langkah mereka cepat namun tidak kasar.
“Mbak, mbak… tenang dulu,” ujar salah satu dari mereka sambil mengangkat tangan, berusaha menenangkan.
“Kalian siapa?”
“Kamu harus ikut kami,” Ucap salah satu dari mereka.
Saat itu, tangan Diandra sudah lebih dulu dicekal.
“Benar. Dia gadis yang ada di foto ini,” ujar salah satu dari mereka dengan nada yakin.
“Kita bisa kaya,” sahut yang lain, tertawa pelan.
Diandra tidak mengerti apa yang sebenarnya mereka bicarakan. Namun satu hal ia tangkap dengan jelas—ini berbahaya.
Jantungnya berdegup keras. Napasnya tercekat, tapi kepalanya tetap bekerja. Diandra mengumpulkan seluruh tenaga yang tersisa, lalu tanpa ragu mengayunkan kakinya.
Satu per satu.
Tepat di bagian paling vital.
“Argh—!”
Pegangan mereka mengendur seketika. Diandra tak menunggu kesempatan kedua. Ia berbalik dan berlari secepat yang ia bisa, menembus kerumunan orang-orang yang terkejut.
“Kejar!” teriak salah satu dari mereka.
Langkah kaki menggema di belakangnya.
Diandra pun berhenti sejenak, mengedarkan pandangannya dengan panik, mencari tempat untuk bersembunyi.
Matanya menangkap sebuah gapura rumah adat Bali—pintu masuk khas dengan ukiran batu padas, diapit tembok tinggi dan rimbunan tanaman kamboja. Di baliknya tampak halaman kecil yang gelap, hanya diterangi lampu minyak yang redup.
Tanpa berpikir panjang, Diandra membelokkan langkahnya. Ia menyelinap masuk, menempelkan punggung ke dinding dingin, menahan napas sekuat tenaga.
Suara langkah kaki itu semakin dekat.
Ia menutup mulutnya dengan tangan sendiri, menahan isak yang nyaris lolos. Jantungnya berdentum keras, seolah bisa mengkhianatinya kapan saja.
Satu detik.
Dua detik.
Bayangan beberapa pria melewati gapura itu, suara mereka terdengar kesal dan terputus-putus.
“Dia ke mana?”
Diandra memejamkan mata.
Berdoa.
“Sepertinya dia tidak ada di sini,” Kata teman lainnya.
“Benar, ayo kita pergi,” Kata laki-laki sebelumnya.
Diandra mendengar langkah kaki yang menjauh, kemudian ia pun keluar.
Dan.
Bruk!
Sebuah balok menghantam punggungnya, penglihatan mengabur dan ia tak sadarkan diri.