Diculik

1130 Words
Diandra terbangun perlahan. Pandangannya menatap langit-langit kamar, buram dan berputar. Kepalanya berdenyut hebat, menyisakan rasa nyeri tumpul—ingatannya terhenti tepat setelah balok kayu itu menghantamnya hingga gelap menelan segalanya. Setelah itu, samar-samar Diandra menangkap bayangan seorang wanita paruh baya yang berdiri di depan pintu kamar. Wanita itu berbicara dengan suara rendah sambil menyelipkan sejumlah uang ke tangan tiga pria yang telah membawanya ke tempat itu. “Sesuai janji yang sudah aku buat, kalian boleh pergi,” ucap wanita paruh baya itu dingin, tanpa menoleh sedikit pun. “Tidak sia-sia idemu, sayang. Dia sudah kembali ke tangan kita,” ucap wanita itu pelan, dengan senyum tipis yang menyimpan kemenangan. “Siapa dulu,” Jawab pria seusia Diandra. Ronal, lelaki yang seharusnya menikah dengan Diandra ternyata memiliki hubungan dengan Rima, tak lain tantenya sendiri. “Sedikit lagi, semuanya akan jadi milik kita,” ucap Rima manja, bahkan nyaris seperti desahan. “Ya, kau benar. Kita akan menang,” balas Ronal. Keduanya b******u mesra, sama sekali tak menyadari sepasang mata yang telah terbuka dan menyaksikan pemandangan menjijikkan itu. Keduanya begitu menikmati setiap kebersamaan mereka, cembuan demi cembuan turun ke tengkuk leher Rima dan menciptakan desahan. “Menjijikkan,” gumam Diandra. Rima dan Ronal tersentak. Keduanya menoleh bersamaan. “Gadis nakal ini sudah sadar,” kata Rima, suaranya berubah dingin saat ia melangkah mendekat ke arah Diandra. Diandra bergerak pelan turun dari ranjang, tubuhnya menegang, matanya waspada. “Dia sudah sadar?” tanya seorang pria paruh baya. “Sudah, sayang. Gadis nakal ini tak bisa lagi kita biarkan bermain-main terlalu lama,” sahut Rima dengan senyum beracun. Diandra menggeleng panik. “Om, mereka berdua bukan hanya mengkhianati Diandra… tapi juga Om!” serunya putus asa, mencoba menggugah Om Beno. Sejenak Rima menegang. Ronal pun demikian. Namun detik berikutnya, ekspresi mereka kembali tenang—terlalu tenang. Beno menatap Rima dan Ronal sekilas, lalu kembali memandang Diandra dengan sorot dingin. “Kau bicara apa? Mau mencoba mengadu domba kami?” tanya Rima tajam, penuh intimidasi. Diandra menggeleng cepat. “Sudah dua kali aku melihat pemandangan menjijikkan itu. Jangan menyangkal!” teriak Diandra. Rima terkekeh pelan. “Anak ini,” ucapnya mendekat, suaranya rendah namun mengancam. “Karena kau sudah tau rencana kami, sebentar lagi pernikahanmu dan Ronal akan dilangsungkan.” “Aku nggak mau!” seru Diandra panik. Ia berbalik dan mencoba berlari. Namun belum sempat melangkah jauh, Beno dan Ronal sudah lebih dulu mencengkeram lengannya. “Lepasin aku!” Diandra meronta keras, kukunya mencakar udara, tubuhnya memberontak sekuat tenaga. Percuma. Dalam hitungan detik, pergelangan tangan dan kakinya sudah terikat erat. Tarikan kasar membuat tubuhnya terhuyung, lalu— Brak! Dengan satu dorongan kejam, Diandra dihempaskan ke atas ranjang. Pegas ranjang berdecit nyaring, seolah ikut menjerit bersamanya. Beno menunduk, tatapannya dingin dan penuh kemenangan. “Kali ini,” ucapnya pelan namun mengancam, “kau tidak akan pernah bisa lolos.” Diandra tertawa, tawa lucu dan sekaligus memprihatinkan. “Om, sebenarnya yang paling sakit itu, Om sendiri! Karena istri Om berkhianat!” “Dia sedang berusaha untuk memprovokasi kita, ayo kita pergi” Rima merangkul tangan Beno lalu pergi. Ronal tersenyum. Tatapannya menyapu Diandra dengan niat tersembunyi yang membuat perutnya mual. Ia menarik tubuh Diandra agar duduk di atas ranjang, lalu menunduk sedikit, terlalu dekat. Jarinya mencengkeram dagu Diandra, memaksanya menatap wajahnya. “Sayang, sebenarnya aku nggak tega bikin kamu menderita,” ucap Ronal lembut, berlawanan dengan senyum licik yang tak pernah pudar. “Tapi mau gimana lagi? Kamu sudah tahu terlalu banyak.” “Jangan sentuh aku. Menjijikkan!” seru Diandra, suaranya bergetar. Ronal hanya tersenyum. Tangannya menyusuri sisi wajah Diandra, mengikuti garis rahangnya seolah sedang menilai sesuatu yang ia anggap miliknya. Diandra menepis sebisanya, meski gerakannya terhambat. “Tenang saja,” lanjut Ronal rendah dan penuh maksud. “Setelah semuanya sah, aku tidak akan langsung menyingkirkanmu. Masih ada hal-hal yang harus kau jalani… sebelum itu. Malam pertama kita.” Cuihh Diandra langsung meludah di wajah Ronal. “Seujung kukupun aku nggak akan sudi disentuh b******n sepertimu!” Balas Diandra tajam. Plak! Satu tamparan langsung mendarat di pipi Diandra. Seketika tubuhnya kemudian terhempas ke ranjang. Rambutnya berantakan, nafasnya tak beraturan. Sedetik kemudian rambutnya ditarik. “Kau tidak tahu apa itu takut? Mau aku beri contoh?” Diandra menahan sakit seiring dengan tarikan rambutnya yang semakin kuat. Detik itu pintu pun terbuka. Rima dan seorang perias masuk. Ronal pun mundur. “Segera persiapkan dia, karena satu jam lagi pernikahan akan dimulai!” Perintah Rima. Perias pun mengangguk cepat. Ronal dan Rima pun melangkah ke luar. Sebenarnya perias itu tidak tega melihat Diandra, tapi dia juga dibawah tekanan. “Nona, saya mohon bantu saya. Mereka menyandera anak saya, jika saya tidak berhasil meriah anda. Mereka akan melenyapkan anak saya.” “Licik!” Umpat Diandra. Meski dalam keadaan terdesak ia tetap harus memiliki perasaan. Diandra tak mau ada korban lain, ia pun memilih untuk menurut. Meskipun perasaannya sedang tidak baik saja. Akhirnya tiga puluh menit berlalu, Diandra sudah mengenakan kebaya. Ia berdiri di depan cermin, hiasan terlihat sederhana. Namun pada dasarnya Diandra adalah seorang wanita cantik, sehingga apapun yang ia kenakan akan terlihat bagus. Pintu kembali terbuka, Rima kembali. “Ah, gadis manis. Kau sangat cantik,” Ucap Rima setengah mengejek. “Dan kau jelek, seperti hatimu,” sindir Diandra. “Wanita sialan!” tangan Rima terangkat nyaris menampar wajah Diandra. Tapi dihentikan oleh Beno, “Jangan dulu, riasanya bisa rusak.” Rima pun terpaksa menurunkan tangannya. “Kalian nggak bisa menikahkan aku!” Kata Diandra. “Banyak bicara, ikut aku!” Rima langsung menarik tangan Diandra tak ingin mendengar basa-basi. Jika kemarin ada Leon yang ia temui secara tidak sengaja, lalu bagaimana dengan sekarang siapa yang akan menolongnya? “Tante, tapi Diandra udah menikah,” Katanya. “Wanita sinting!” Ucap Rima tak percaya sambil terus menarik tangan Diandra. Hingga kemudian dipaksa duduk di samping Royal. Seorang penghulu duduk di hadapan mereka. “Pak penghulu, saya sudah menikah. Tidak mungkin saya menikah lagi,” kata Diandra mencoba menjelaskan. Karena apapun alasannya Leon sudah menikahinya. Mana mungkin ia memiliki dua suami, ini gila. “Jangan mengarang cerita!” Sahut Rima. “Pak penghulu, aku berani bersumpah. Aku sudah punya suami,” Kata Diandra semakin tegas. “Bagaimana mungkin seorang wanita yang bersuami akan menikah lagi?” Tanya penghulu bingung. “Dia berbohong, Pak penghulu,” Kata Rima. “Aku nggak bohong.” Penghulu bingung kemudian dia berkata, “Perempuan tidak bisa memiliki dua suami.” Diandra mengangguk cepat, berharap akan selamat dari rencana pernikahan gila ini. Tapi detik itu Beno mengeluarkan pistol dan mengarahkan ke kepala Penghulu. “Nikahkan mereka, atau…” Ucapnya penuh ancaman. Seketika suasana menegang, penghulu terlihat takut. Rima tersenyum puas. Ronal langsung menarik tangan penghulu agar segera menikahkan mereka. Sedangkan Diandra yang duduk disamping Ronal semakin gemetaran dengan peluh yang mengalir deras di pelipisnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD