Tanda Tangan Kematian

1186 Words
Terdengar suara keributan dari luar, memecah suasana dan mengusik seseorang yang tengah duduk di ruang tamu. Hari ini seharusnya menjadi hari pernikahan—hari yang sakral dan penuh harap. Brak! Pintu terhempas keras. Seorang pria berdiri di ambang pintu. Tubuhnya tegap, bahunya lurus, wajahnya dingin tanpa senyum sedikit pun. Tatapannya tajam, nyaris membekukan udara di sekitarnya. Leon. Sekejap, seluruh mata di ruangan itu tertuju padanya. Tak lama kemudian, seorang satpam menyusul masuk dengan langkah tertatih. Napasnya terengah, salah satu kakinya pincang setelah menghadapi Leon. “Maaf, Tuan,” ucapnya tergesa, menundukkan kepala. “Kami sudah berusaha menahannya, tapi pria ini memaksa masuk.” Mata Leon menyapu mereka satu per satu, tajam dan tanpa ekspresi. Hingga akhirnya tatapan itu berhenti pada Diandra—hanya sesaat, namun cukup membuat udara terasa menekan. Diandra berdiri di sana mengenakan kebaya. Tubuhnya bergetar halus, jemarinya mengepal, jelas berusaha menahan rasa takut yang menggerogoti dadanya. Namun ketika Diandra hendak melangkah ke arah Leon, tangan Ronal lebih dulu mencengkeram pergelangan tangannya. “Lepas!” seru Diandra, meronta dengan napas memburu. “Diam. Kau calon istriku!” bentak Ronal. “Lepaskan istriku.” Suara Leon terdengar datar—dingin—namun justru itulah yang membuatnya mengguncang seisi ruangan. “Hei, hati-hati kalau berbicara. Dia calon istriku!” balas Ronal, tak mau kalah. “Lepaskan istriku,” ulang Leon, nadanya tetap rendah, namun mengandung ancaman yang jelas. “Hei, kamu siapa? Kenapa datang-datang mengaku suami Diandra?!” geram Rima. “Tante, aku sudah bilang dari tadi. Aku sudah menikah!” sahut Diandra dengan suara bergetar namun tegas. “Diam!” bentak Ronal. “Menikah?” gumam Rima, nadanya sarat ketidakpercayaan. “Dia istriku,” ucap Leon lagi, tenang—seolah fakta itu tak perlu diperdebatkan. Rima tersenyum miring. Tatapannya meremehkan, jelas tak percaya pada ucapan pria asing di hadapannya. “Ahahaha…” Rima tertawa, geli. “Rupanya mereka sedang membuat skenario.” “Dan siapa pula yang akan percaya pada skenario murahan seperti itu?” tambah Beno, mengejek. Namun tawa mereka mendadak terhenti. Leon mengangkat ponselnya, memperlihatkan sebuah video di layar. Rekaman itu menampilkan dirinya—Leon—mengucapkan janji suci pernikahan. Dan tepat setelahnya, terdengar satu suara yang menyambut di ruangan itu. “Sah.” Sekejap, udara seolah membeku. Ruang tamu itu menegang. Pendingin ruangan mendadak terasa tak berguna, tak mampu mendinginkan panas yang perlahan merambat di antara mereka. Rima menatap layar itu dengan mata membelalak, tak percaya. Beno terdiam, rahangnya mengeras, sementara Ronal tampak membeku di tempatnya. “Buktinya sudah jelas,” ucap Leon lagi, suaranya rendah namun tegas. Ia menggerakkan tangannya pelan—sebuah isyarat sederhana, tapi sarat peringatan. “Lepaskan istriku.” “Lepas!” Diandra kembali meronta, berusaha melepaskan diri dari cengkeraman itu. Namun alih-alih dilepaskan, Ronal justru mendorong tubuhnya kasar ke arah Beno. “Tidak ada yang bisa menikahkan dia selain aku. Aku adalah adik ibunya!” seru Rima, suaranya meninggi. “Siapa bilang?” balas Leon tegas. “Dia istriku. Pernikahan kami sah.” “Tidak!” Rima hampir berteriak. “Kalian semua, pergi dari sini,” perintah Leon dingin. “Tidak ada yang boleh pergi dari sini kecuali dia!” potong Beno tajam. “Atau—” Beno tiba-tiba mengangkat benda tajam, moncongnya tepat mengarah ke leher Diandra. Sekejap, napas seisi ruangan tertahan. Tubuh Diandra bergetar hebat. Ketakutan itu tak lagi bisa ia sembunyikan. Air matanya menetes tanpa suara, jatuh membasahi kebayanya. “Maaf, Pak…” suara penghulu terdengar gemetar. “Tapi seorang perempuan tidak boleh memiliki suami lebih dari satu.” “Kalau begitu, ceraikan dia!” bentak Beno. “Kami tidak pernah merestui pernikahan kalian!” “Apa urusanmu memintaku menceraikan istriku?” balas Leon tajam, tak bergeming sedikit pun. “Tante… kenapa Tante jahat sama aku?” suara Diandra bergetar, ia menahan isak yang nyaris pecah. “Padahal Mama baik sekali sama Tante. Mama sayang Tante…” “Diam!” bentak Rima kasar. “Mama yang nemuin Tante waktu dibuang di jalan,” lanjut Diandra, air matanya jatuh satu per satu. “Mama yang membesarkan Tante…” Kalimat itu menghantam tepat sasaran. Rima menegang seketika. Wajahnya berubah kaku—jelas ia tak menyangka Diandra mengetahui fakta itu. “Oh, jadi ternyata kau perempuan tak tahu diri,” ucap Leon dingin, menusuk. “Kurang ajar! Beraninya kau!” teriak Rima kalap. Tangannya terangkat, siap melayangkan tamparan. Namun sebelum menyentuh sasaran, tangan Leon bergerak cepat—menangkap pergelangan Rima di udara. Sejenak, keduanya saling menatap. Tatapan Leon dingin, tanpa emosi. Sementara mata Rima menyala penuh amarah—dan ketakutan yang mulai merayap. “Satu tamparan,” ucap Leon rendah namun mengancam, “artinya nyawamu yang jadi bayarannya.” Glek. Rima terdiam. Tenggorokannya tercekat. Sekujur tubuhnya menegang sempurna. Detik berikutnya, Leon menghempaskan tangan Rima menjauh. “Kurang ajar!” Rima merebut benda tajam dengan cepat dari tangan Beno, tanganya bergetar. Ia tak terima sudah dipermalukan. “Rima, jangan—” suara Beno, sebab mungkin sadar Diandra adalah harta karun mereka. Diandra boleh mati setelah semuanya jatuh ketangan mereka. “Kau harus mati, beraninya kau berkata seperti itu padaku!! “Jangan main-main!” Kata Leon. “Rima, ini bukan rencana kita!” Beno mengingatkan. “Aku nggak trima dipermalukan!” “Tante,” Ronal juga bersuara. Namun tatapan Rima sudah gelap. Amarah, rasa malu, dan ketakutan bercampur jadi satu. “Kalau begitu… semuanya selesai sekarang,” desisnya. “Jangan!” Leon melangkah lebih dekat, sedikit lagi ia bisa menarik Diandra. “Sekarang kau punya pilihan, menceraikan Diandra, atau…dia mati!” ancam Rima. “Tante, jangan, aku mohon,” Mohon Diandra ketakutan. “Diam! Kamu sudah menghinaku! Sekalipun aku diambil dari jalanan, aku tidak pernah memintanya pada ibumu!” Balasnya angkuh. “Tante…” Mohon Diandra. “Kau, aku beri pilihan,” Rima menjeda ucapanya sejenak,”pergi dari sini atau dia mati!” ancam Rima. “Sebaiknya kau pergi dari sini!” kata Beno. “Ya, lagi pula kau hanya orang asing!” Lanjut Ronal. “Aku suaminya, aku bukan orang asing!” Tegas Leon. “Kurang ajar!” heram Rima, “jadi, kau benar-benar mau dia mati!” Sebelah tangan Rima mencengkram rambut bagian belakang Diandra, sebelahnya lagi memegang senjata tajam tepat dileher Diandra. “Tante, lepaskan aku. Aku berjanji nggak akan memperpanjang masalah ini. Asalkan Tante mau jadi orang baik,” Kata Diandra dengan suara pelan. “Apa? Kamu menghinaku?!” “Engga, Tante. Diandra serius…” “Sialan, kau dan ibumu sama saja!” Geram Rima dengan tangan bergetar. Leon bergerak secepat kilat, mencengkram tangsang Rima, lalu sebelah lagi menarik Diandra ke dadanya. "Rupanya kau mau mati!" Srekk Diandra menjerit singkat—. Tangan Leon berdarah, benda tajam itu menggoreng tangannya. Ruangan langsung chaos. Orang-orang berteriak, sebagian berhamburan mencari perlindungan. Rima terpaku. Matanya melebar menatap senjatanya sendiri. Darah pun menetes di lantai. “A-aku… aku nggak—” Leon mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan itu… dingin. Kosong. Mematikan. “Kurang ajar,” ucap Leon pelan, suaranya nyaris berbisik namun mengiris, “dan kau baru saja menandatangani kematianmu sendiri.” Satu langkah. Dua langkah. Rima mundur panik, senjatanya gemetar. “Leon, tunggu—!” Terlambat. Leon mengeluarkan senjata api dari dalam jaketnya dan mengarahkan pada Rima.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD