Ting.
Suara bel memecah sunyi pagi.
Leon mengerjapkan mata, samar-samar menyadari cahaya matahari yang menembus celah tirai. Di sampingnya, Hilda masih terlelap, wajahnya tenang seolah dunia tak menyimpan ancaman apa pun.
Ting!
Bel itu berbunyi lagi—lebih tegas, lebih mendesak.
Leon menghela napas pelan, lalu bangkit dari ranjang. Ia menyampirkan kemeja seadanya sebelum melangkah ke pintu. Saat dibuka, Rafli sudah berdiri di sana dengan ekspresi tak biasa. Di belakangnya, seorang kurir tampak gelisah.
“Bos… Anda pesan barang?” tanya Rafli ragu, namun tatapannya tajam. Fakta bahwa ia membawa kurir langsung ke hadapan Leon menandakan satu hal—ia mencurigai sesuatu.
Leon mengamati sekilas paket di tangan kurir. Instingnya ikut menegang.
“Tidak,” jawabnya singkat.
“Tapi, Pak, alamatnya sudah benar,” sahut kurir itu, suaranya terdengar gugup.
Rafli melangkah sedikit maju. “Apa kau orang suruhan, hah?”
Kurir itu langsung menggeleng cepat. “Bukan, Pak! Saya cuma pengantar paket.”
Leon menyipitkan mata. “Buka paketnya.”
Rafli spontan menoleh. “Bos… bagaimana kalau isinya bom?”
“Buka,” ulang Leon, lebih tegas.
Kurir itu tampak makin pucat. “Tapi paket ini belum dibayar, Pak…”
“Berapa?”
“Tiga juta, Pak.”
Tanpa banyak bicara, Leon merogoh dompetnya, mengeluarkan uang tunai dan menyerahkannya. “Ambil. Sekarang buka.”
Udara di lorong hotel mendadak terasa berat. Rafli mundur setengah langkah, tetap siaga. Kurir itu menelan ludah sebelum perlahan merobek lakban dan membuka kardus tersebut.
Semua menahan nafas.
Setelah kardus itu benar-benar terbuka, tampaklah isinya.
Sebuah stetoskop terlipat rapi di bagian atas. Di bawahnya ada tensimeter—alat pengukur tekanan darah—lengkap dengan manset dan pompanya. Beberapa gulung perban, kasa steril, plester medis, cairan antiseptik, hingga beberapa kotak obat-obatan tersusun cukup profesional, seolah ini bukan paket sembarangan.
Rafli mengembuskan napas panjang. “Bukan bom, Pak…”
Kurir itu bahkan tampak lebih lega daripada siapa pun di sana. “Saya bilang, Pak… saya cuma pengantar.”
Leon tidak menjawab. Tatapannya menelusuri isi kotak satu per satu, sorot matanya berubah—bukan lagi waspada, melainkan heran.
Rafli mengambil kardus itu dari tangan kurir, memeriksa ulang label pengiriman yang tertempel di sampingnya. Ia membaca pelan, memastikan tidak ada kesalahan.
“Saya permisi, Pak,” ucap kurir sopan, sedikit membungkuk sebelum pergi.
Leon hanya mengangguk singkat.
Lorong kembali sunyi.
“Tapi semua alamatnya jelas ke sini, Bos,” lanjut Rafli pelan. “Nama, alamat hotel, nomor kamar, bahkan nomor telepon… hanya saja ini nomor lama yang sudah tidak Anda pakai.”
Leon terdiam.
Nomor lama.
Nomor yang hanya diketahui orang-orang tertentu.
Rafli mengangkat wajahnya perlahan. “Siapa yang masih simpan nomor itu?”
Leon menatap kosong pada tensimeter di dalam kotak. Alat medis. Obat-obatan. Perban.
Bukan ancaman.
Tapi juga bukan kebetulan.
“Diandra…” gumamnya lirih.
Nama itu meluncur seperti bisikan masa lalu yang belum benar-benar selesai.
“Berikan,” perintah Leon singkat.
Rafli menyerahkan kardus itu tanpa banyak tanya. “Saya kembali ke kamar, Bos,” pamitnya, mengerti bahwa ini bukan lagi urusannya.
Leon hanya mengangguk.
Lorong kembali sunyi. Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar samar. Tatapannya perlahan bergeser ke pintu kamar di sebelah kamarnya—pintu yang sejak semalam tertutup rapat.
Tanpa ragu, Leon melangkah mendekat.
Ia mengeluarkan kartu akses dari saku celananya. Sejenak ia terdiam, menatap gagang pintu itu, seolah sedang mempertimbangkan sesuatu. Lalu kartu itu ditempelkan.
Bip.
Lampu kecil berubah hijau.
Leon memutar gagang dan mendorong pintu perlahan.
Cahaya pagi menyelinap masuk lebih dulu. Ruangan itu tenang, terlalu tenang.
Kakinya melangkah pelan. Namun saat pandangannya jatuh ke ranjang, Leon tak menemukan siapa pun di sana.
Kosong.
Alisnya langsung berkerut. Kardus di tangannya masih tergenggam erat.
Ia mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan—kursi dekat jendela, meja kecil di samping tempat tidur, tirai yang setengah terbuka.
Klik..
Suara gagang pintu terdengar pelan.
Leon menoleh bersamaan dengan pintu kamar mandi yang perlahan terbuka.
Diandra muncul dari baliknya.
Ia baru saja selesai mandi. Handuk putih melilit tubuhnya, menutupi hingga atas d**a. Rambutnya terurai basah, ujung-ujungnya masih meneteskan air yang jatuh ke lantai marmer. Wajahnya tampak lebih segar.
Keduanya terdiam.
Diandra berhenti melangkah saat menyadari siapa yang berdiri di sana.
Tatapan mereka bertemu.
Dingin.
Canggung.
Dan penuh pertanyaan yang belum terucap.
Leon menurunkan pandangannya sekilas, lalu kembali menatap wajah wanita itu. “Kamu pesan ini?” tanyanya datar, mengangkat sedikit kardus di tangannya.
Diandra melirik kotak itu. Ada kilat tipis di matanya—antara terkejut dan tertangkap basah.
Ruangan mendadak terasa sempit. Hanya suara tetesan air dari rambut Diandra yang terdengar, satu per satu, memecah sunyi.
Diandra refleks menahan handuk di dadanya ketika Leon berdiri hanya beberapa langkah darinya.
“Kamu bisa masuk?” tanyanya, gugup sekaligus kesal.
Leon tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru mengangkat kardus di tangannya. “Kamu pesan ini?”
Tatapan Diandra langsung berubah saat melihat isi kotak yang sudah terbuka. “Kamu sudah membayarnya?”
“Jawab dulu,” ucap Leon datar. “Kenapa kirim ke sini? Pakai nomorku yang lama.”
Diandra menghela napas, berusaha tetap tenang meski posisinya sangat tidak nyaman. Rambut basahnya menetes ke bahu, sementara jemarinya masih mencengkeram kuat ujung handuk.
“Biar kamu yang bayar,” katanya akhirnya.
Leon menyipitkan mata. “Bayar?”
Diandra menatap tangan kanan Leon—yang sejak semalam terluka karena insiden menyelamatkan dirinya. Luka itu belum dirawat dengan benar.
“Aku mau rawat tanganmu,” ucapnya jujur.
Leon terdiam.
“Kemarin lukanya belum dibersihkan sempurna. Aku cuma balut asal,” lanjut Diandra, nadanya kini lebih profesional daripada emosional. “Aku takut, infeksi.”
Ada jeda singkat.
“O, begitu?” tanya Leon pelan. Seolah masih bingung melihat ketulusan Diandra.
Diandra mengangguk pelan.
Suasana mendadak berbeda. Bukan lagi tegang karena curiga—melainkan canggung karena perhatian yang tak diucapkan secara langsung.
Leon menatapnya lama.
“Sekarang keluar dulu. Biarkan aku berpakaian. Setelah itu duduk yang manis. Aku akan bersihkan lukanya.”
Nada suaranya tegas—dokter, bukan wanita yang sedang gugup setengah telanjang di hadapannya.
Dan entah kenapa, kali ini Leon menurut. Tanpa ada perlawanan seperti biasanya.
Namun, Leon tidak langsung bergerak.
Tubuhnya memang menghadap pintu, tetapi langkahnya tertahan. Rahangnya mengeras, seolah sedang menahan sesuatu—atau mungkin mengendalikan dirinya sendiri.
Tanpa sadar, tatapannya kembali meluncur.
Ke arah Diandra.
Wanita itu masih berdiri dengan handuk melilit tubuhnya, jemarinya mencengkeram bagian atas kain putih itu erat-erat. Rambutnya yang basah jatuh berantakan di bahu, beberapa helai menempel di lehernya yang jenjang. Tetesan air masih turun perlahan, menciptakan jejak tipis di kulitnya.
Leon menegang.
Ia tahu seharusnya ia segera keluar.
Tapi matanya—seolah punya kehendak sendiri—mencuri satu detik… dua detik… terlalu lama.
“Leon.”
Suara Diandra membuatnya tersentak.
Tatapan mereka bertemu.
Diandra menyadari arah pandangnya barusan. Pipinya memerah tipis—antara malu dan kesal.
Diandra mendengus pelan. “Keluar.”
Kali ini Leon benar-benar melangkah. Tangannya meraih gagang pintu, namun sebelum membukanya, ia sempat berhenti sepersekian detik.
“Jangan lama,” ucapnya tanpa menoleh.
Pintu tertutup.
Begitu Leon pergi, Diandra akhirnya mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ia tahan. Tangannya masih memegang handuk erat.
Sementara di luar kamar, Leon berdiri beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya.
Pandangannya kosong ke depan.
Namun bayangan rambut basah dan tatapan kesal itu masih jelas di kepalanya. Handuk itu, benda bulat dan padat setengah menyembul keluar.
“Sial.”