Kamu Seorang Dokter?

1245 Words
Diandra membuka koper di atas ranjang, lalu mulai mencari pakaian ganti. Namun semakin lama ia membongkar isinya, semakin dalam kerutan di dahinya. Tak satu pun terasa tepat. Beberapa dress yang tersusun rapi itu potongannya terlalu terbuka—belahan d**a rendah, punggung nyaris tanpa kain, atau bahan yang terlalu tipis untuk dipakai santai di pagi hari. Di sisi lain hanya ada lingerie dengan renda-renda halus dan bikini berbagai warna yang jelas lebih cocok untuk tepi pantai daripada berjalan keluar kamar. Diandra terdiam, menatap isi koper itu dengan tatapan tidak percaya. “Serius…” gumamnya pelan. Baru sekarang ia sadar—semua ini bukan ia yang menyiapkan. Aurora. Oma yang dengan penuh semangat mengatakan sudah menyiapkan seluruh pakaian untuknya selama honeymoon di Bali. Honeymoon. Diandra mendengus pelan. “Oma benar-benar…” Ia memungut salah satu dress berwarna merah dengan potongan terbuka di punggung, lalu segera melemparkannya kembali ke dalam koper. “Ini bukan bulan madu, aku nggak mau,” keluhnya setengah kesal. Tak ada satu pun pakaian yang terlihat sederhana. Semuanya seolah sengaja dipilih untuk satu tujuan—membuatnya terlihat menggoda. Dan entah kenapa, mengingat tatapan Leon tadi, Diandra justru merasa situasi ini semakin tidak aman. “Tapi, itu nggak mungkin sih. Diakan begitu mencintai kekasihnya, buktinya dia rela melakukan hal sejauh ini,” Katanya lagi dengan yakin. *** Kini Diandra sudah berpakaian rapi. Ia akhirnya memilih sebuah dress berpotongan berani—belahan dadanya cukup rendah dan bagian punggungnya terbuka lebih lebar dari yang biasa ia kenakan. Potongannya membentuk siluet tubuhnya dengan jelas, memberi kesan elegan sekaligus sensual tanpa terlihat berlebihan. Tak ada pilihan lain, mungkin itulah yang lebih baik dari yang lainnya. Rambutnya yang tadi basah kini setengah kering, terurai alami melewati bahu. Beberapa helai masih sedikit lembap, memberi kesan segar setelah mandi. Namun berbeda dengan penampilannya yang mencuri perhatian, wajah Diandra kembali tenang—profesional, terkendali. Tatapannya tajam, ekspresinya datar, seolah ia sudah sepenuhnya baik-baik saja. Padahal berulangkali menarik nafas untuk bisa tenang. Diandra meraih ponselnya dari atas meja rias. Jar-jarinya bergerak cepat di layar. Diandra: Bisa kembali ke sini lagi? Ia menatap pesan itu sepersekian detik, lalu menekan kirim. Terkirim. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat, meski wajahnya tetap tenang. Diandra lalu duduk di depan cermin. Ia menyisir rambutnya perlahan dengan jemari, merapikan helai-helai yang masih setengah lembap. Pantulan dirinya di kaca terlihat berbeda pagi ini—dress dengan potongan rendah itu membingkai tubuhnya tegas, garis lehernya terekspos lebih jelas dari biasanya. Ia menegakkan bahu. Tatapannya di cermin berubah fokus. Bukan lagi gugup. Bukan ragu. Lebih seperti… menyiapkan diri. Beberapa detik terasa lebih panjang dari biasanya. Diandra melirik layar ponselnya. Belum ada balasan. Namun ia tahu satu hal—Leon sudah membaca pesannya. Ting. Suara bel berbunyi, Diantara bangkit dan membuka pintu. Leon berdiri di sana. Tatapan keduanya kembali bertemu, tapi beberapa detik kemudian Diandra mempersilahkan masuk. Leon duduk bersandar, menatap Diandra yang kini sudah berpakaian rapi di hadapannya. Sesaat kemudian Diandra ikut duduk disampingnya. Kotak medis terbuka. Perlengkapan tertata. “Ulurkan tangan,” ucap Diandra singkat. Leon menurut. Saat Diandra mulai membuka perban lama, alisnya sedikit berkerut. “Ini kena air.” “Sedikit,” jawab Leon tenang. Gerakan Diandra terhenti sepersekian detik. Ada rasa bersalah karena Leon terluka karena menyelamatkan dirinya. “Kamu mau dibawa ke rumah sakit, dirawat lebih baik,” katanya datar, mencoba terdengar profesional. Leon menatapnya. “Kalau kamu sudah melakukannya, kenapa harus orang lain?” Jawaban itu membuat jemari Diandra sedikit mengencang saat memegang kapas antiseptik. Ia kembali fokus. “Ini bukan soal siapa. Luka harus dibersihkan ulang.” Kapas menyentuh kulit Leon. Kali ini pria itu benar-benar menegang, meski tetap memasang wajah tanpa ekspresi. “Sakit?” tanya Diandra, masih tanpa menatapnya. “Tidak.” “Kebiasaanmu jelek,” gumam Diandra. “Kalau sakit, bilang.” Leon terdiam. Tangannya berada dalam genggaman Diandra—hangat, kokoh, terkendali. Tidak ada sentuhan ragu seperti wanita yang tadi berdiri hanya berbalut handuk. Yang ada sekarang adalah seorang dokter. Namun justru itu yang membuat Leon sulit mengalihkan pandangan. Ia memperhatikan wajah Diandra dari jarak dekat. Garis rahangnya. Bulu matanya yang bergerak halus setiap kali ia berkedip. Konsentrasi di wajahnya. Ketika itu beberapa helai rambut terjatuh di depan muka Diandra. Dengan gerakan pelan Leon kembali menyelipkan ditelinganya. Diandra menegang untuk sesaat, tapi detik berikutnya ia kembali melanjutkan pekerjaannya. Tapi detik berikutnya rambut Diandra kembali terjatuh, akhirnya tangan Leon pun kembali melakukan hal yang sama. Hanya saja kali ini ia tak melepaskan, ia memegang rambut Diandra agar tak lagi terjatuh di wajahnya wanita itu yang mengganggu pekerjaannya. “Maaf,” ucap Leon tiba-tiba. Diandra akhirnya mengangkat wajah dan mengangguk pelan. “Lukanya harus dirawat dengan benar, kalau nggak, lukamu bisa infeksi.” Kemudian Diandra melilitkan perban, “Selesai.” “Terimakasih.” Diandra mengangkat kepalanya, menatap Leon. Ada jeda kecil. Hening yang terasa lebih panjang dari seharusnya. Diandra lebih dulu memutus kontak mata. Ia melepas tangannya perlahan. Tapi entah kenapa, saat jemari mereka terpisah, terasa ada sesuatu yang ikut tertarik—halus, tak terlihat, tapi nyata. “Benar, kamu seorang dokter?” tanya Leon, menatapnya dari ujung kepala hingga kaki—tatapan yang sulit diartikan, antara serius dan menyelidik. Diandra mengangguk pelan. “Ya.” “Kenapa aku ragu,” lanjut Leon datar. “Itu masalahmu,” jawab Diandra tanpa ambil pusing. Ia bahkan tak repot-repot menoleh, masih sibuk merapikan meja kecil tempat alat medis tadi. Ting. Suara bel kembali terdengar. Keduanya sama-sama menoleh ke arah pintu. Diandra berjalan dan membukanya. Seorang petugas room service berdiri di depan, mendorong troli kecil berisi sarapan yang tertata rapi—piring tertutup cloche perak, teko kopi, jus segar, dan keranjang roti hangat. “Selamat pagi, Nona. Sarapan Anda,” ucap petugas itu sopan. Diandra mengangguk dan mempersilakan masuk. Leon memperhatikan dari dalam ruangan, tatapannya kembali berubah ketika melihat bagaimana Diandra dengan tenang menerima layanan itu—anggun, percaya diri, seolah dress yang ia kenakan memang dibuat untuk suasana seperti ini. Setelah petugas room service itu keluar dan pintu kembali tertutup, suasana menjadi hening. Hanya mereka berdua. Diandra mendorong troli kecil itu mendekati meja di depan Leon. Ia membuka penutup saji satu per satu—aroma roti hangat dan kopi langsung memenuhi ruangan. Ia lalu memindahkan piring ke meja, menyusunnya rapi. “Kamu belum sarapan, kan?” tanyanya tanpa menatap langsung. Leon bersandar di sofa, memperhatikannya. “Belum.” Diandra mendorong satu piring ke arahnya. “Sini, makan.” Nada suaranya terdengar biasa saja. Tidak manja, tidak juga memaksa. Lebih seperti instruksi halus yang tak memberi ruang untuk ditolak. Leon mengangkat alis tipis. Diandra akhirnya menatapnya. “Aku cuma tidak mau pasienku pingsan sebelum lukanya sembuh.” Leon terkekeh pelan. “Jadi sekarang aku pasien?” “Kamu terluka. Itu cukup. Dan, aku berhutang budi padamu.” Ia duduk di sebelahnya, menuangkan kopi ke dalam cangkir tanpa bertanya. Leon hendak mengambil piring dari tangan Diandra. Namun wanita itu sedikit menjauhkan piring tersebut. “Aku saja yang menyuapi kamu, nggak apa-apa kan?” tanyanya tenang. Leon terdiam sejenak, menimbang. Tatapannya menelusuri wajah Diandra yang tampak serius—bukan menggoda, bukan main-main. Akhirnya ia mengangguk pelan. “Aku tahu kamu masih kesulitan makan,” lanjut Diandra lembut. “Tanganmu belum nyaman digerakkan.” Tanpa menunggu bantahan, ia menyendokkan makanan dengan hati-hati, lalu mengangkatnya ke depan Leon. Leon membuka mulutnya perlahan dan menerima suapan itu. Hening. Tak ada suara selain denting kecil sendok yang menyentuh piring dan napas mereka yang terasa lebih jelas dari biasanya. Jarak di antara mereka tidak terlalu dekat—namun cukup untuk membuat udara terasa lebih berat.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD