“Ting.”
Suara bel kembali berbunyi.
Diandra meletakkan piring di atas meja, lalu melangkah menuju pintu. Ia mengira itu petugas housekeeping yang datang mengambil handuk dan seprai kotor.
Namun begitu pintu dibuka—
Hilda.
Tanpa sepatah kata pun, wanita itu langsung mendorong d**a Diandra dengan keras hingga tubuhnya terdorong ke belakang. Beruntung Diandra masih sempat menahan keseimbangan dan tidak sampai terjatuh.
Hilda tak peduli.
Tatapannya tajam menyapu setiap sudut kamar, seolah sedang memburu seseorang.
“Mana dia?” suaranya rendah, tapi penuh bara.
Udara mendadak terasa berat.
Diandra menatapnya tak kalah dingin. “Kamu masuk tanpa izin. Apa kamu nggak tahu etika?”
Hilda mendengus sinis, melangkah lebih jauh ke dalam kamar. “Aku nggak datang buat belajar sopan santun.”
Ia berhenti tepat di depan pintu kamar tidur, sorot matanya mengeras.
“Leon ada di sini, kan?”
Mata Hilda bergerak cepat, mencari seseorang di sekeliling kamar. Begitu ia melihat Leon, langkahnya semakin cepat, mendekat dengan senyum tipis yang menutupi ketegangan di matanya.
“Honey… ngapain kamu di sini?” tanyanya, suaranya manja, tapi ada nada tantangan yang samar di balik senyum itu.
Di sudut kamar, Diandra berdiri tenang, menahan reaksi, meskipun hatinya berdegup kencang. Seolah semua yang terjadi di depannya hanyalah angin lalu.
Leon perlahan bangkit dari duduknya. Begitu ia berdiri, Hilda segera memeluk lengannya, tersenyum manja tapi tetap menampilkan aura menantang. Mereka mulai berjalan keluar kamar, langkah mereka pasti dan penuh kepastian.
Saat mereka berpapasan dengan Diandra, waktu seakan melambat. Hilda menoleh sebentar, matanya menatap Diandra, lalu menghentikan langkahnya—senyumnya tetap menempel, tapi ada pesan terselubung yang membuat Diandra merasakan dingin di punggungnya.
Hilda berdiri angkuh, tubuhnya tegap di hadapan Diandra. Matanya menatap tajam dari atas ke bawah, berulang kali, seolah menilai dan menaklukkan.
“Kamu cuma lalat,” suaranya dingin, namun penuh kekuatan, “sekali tepuk mati. Jadi jangan coba-coba merayu Leon. Paham?”
Diandra menatapnya sejenak, tetap tenang di luar, tapi dadanya berdebar. Ada kemarahan yang berdesir di hatinya, bercampur dengan rasa dingin yang menusuk. Ia tidak bergerak, tidak mengangkat suara, tapi matanya sudah berbicara: dia tidak akan takut begitu saja.
Hilda mencondongkan tubuh sedikit, senyumnya penuh kemenangan, yakin bahwa ucapannya sudah cukup menakutkan.
Diandra mengedip pelan, lalu melangkah mundur satu langkah, tetap menjaga jarak. Suasana kamar seketika tegang, udara seolah menebal di antara mereka.
Dengan perasaan menang, Hilda mundur selangkah, masih menatap Diandra dengan tatapan penuh tantangan. Senyumnya tipis, tapi penuh kemenangan—seolah sudah menancapkan dominasinya.
Tanpa menunggu lama, ia berbalik, langkahnya mantap, dan berjalan keluar kamar, menyusul Leon yang lebih dulu meninggalkan ruangan.
*
Seharian Diandra menghabiskan waktu di kamar, namun ia sudah bosan luar biasa. Rasa penat bercampur kesal karena tidak bisa keluar membuat dadanya sesak.
Akhirnya, ia berdiri di depan jendela kamar hotel yang menghadap pemandangan Bali yang indah. Laut biru terbentang jauh, ombak bergulung perlahan di pantai, dan matahari mulai menurun di ufuk barat, memberi cahaya keemasan yang menenangkan.
Diandra menatap ke luar, namun matanya kosong. Keindahan pemandangan itu tidak mampu mengusir rasa bosan yang menumpuk—justru membuatnya semakin merasa terkurung.
Ia menggenggam tirai tipis di samping jendela, menahan keinginan untuk keluar. Hatinya ingin berjalan-jalan di tepi pantai, menghirup udara segar, tapi pikirannya terus kembali ke kejadian penculikan dirinya.
“Seharusnya aku bisa… pergi sebentar,” gumamnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh desiran angin yang masuk lewat jendela.
Matanya tertuju pada koper yang masih terbuka di kamar.
“Pakai bikini seru juga sih…” gumamnya pelan, senyum tipis muncul di bibirnya.
Tapi kemudian ia kembali ragu. “Tapi… sebentar aja nggak apa-apa, aku pakai masker aja,” tambahnya, menenangkan diri.
Diandra tersenyum, lalu mulai bersiap. Ia mengenakan bikini berwarna pink yang kontras dengan kulitnya yang sedikit putih. Kemudian ia kain tipis diikat di pinggangnya menjadi semacam pareo, menutupi bagian pinggang dan memberikan kesan elegan sekaligus santai.
Dengan satu tarikan napas dalam, ia menatap dirinya di cermin, memastikan semuanya rapi. Matahari sore yang masuk lewat jendela membuat siluetnya tampak hangat, sementara hati kecilnya berdebar—antara takut ketahuan, tapi juga ingin menikmati momen ini.
Diandra menyesap napas dalam, lalu melangkah keluar kamar hotel menuju balkon. Angin laut yang hangat langsung menyapa kulitnya, membawa aroma asin dan segar dari pantai di bawah.
Dengan hati-hati, ia menuruni tangga atau koridor hotel, memastikan tidak ada yang melihatnya terlalu dekat. Setiap langkah terasa membebaskan, membuat rasa bosan seharian di kamar perlahan memudar.
Sesampainya di pasir hangat, Diandra melepas sandal tipisnya. Butiran pasir menempel di kaki, tapi itu malah menambah sensasi menyenangkan. Ombak bergulung lembut, mengundang untuk mendekat, sementara matahari sore memancarkan cahaya keemasan di permukaan laut.
Ia menatap luasnya pantai yang sepi, tersenyum tipis, dan membiarkan dirinya menikmati kebebasan sesaat. Hanya desiran angin, suara ombak, dan hembusan napasnya yang terdengar.
“Ah… akhirnya,” gumamnya, membiarkan masker tipis menutupi wajahnya, tapi matanya tetap bersinar menikmati momen ini.
“Di… Diandra,” suara itu terdengar ragu, hampir tersendat.
Diandra menoleh seketika, tegang. Tapi begitu matanya menangkap sosok yang memanggil, wajahnya langsung berubah—mata berbinar dan senyum tipis muncul.
“Hay… apa kabar?” tanyanya, nada suaranya ceria, meski jantungnya berdetak lebih cepat.
“Baik,” jawab Kemal singkat, matanya menyapu Diandra dari kepala sampai kaki. “Kamu… ngapain di sini? Sama suami?” Nada suaranya penuh tanya, sedikit penasaran tapi ada sedikit curiga.
Diandra menegang sejenak. Ia tahu Kemal pasti mengira ia dan Ronal sudah menikah, dan bayangan itu membuat dadanya sedikit sesak.
“Aku… sama Ronal batal nikah,” jawab Diandra pelan, nadanya tenang tapi berat. Ia menatap Kemal, mencoba membaca reaksinya.
Kemal terdiam beberapa detik, matanya menatap Diandra dengan campuran kaget dan sedikit lega. “Batal…?” gumamnya, suaranya hampir tak terdengar.
Diandra mengangguk tipis. “Iya… semuanya berubah, ceritanya panjang. Yang pasti kamu benar, Tante Rima nggak sebaik itu.” tambahnya, mencoba tersenyum sambil menenangkan perasaannya sendiri.
Suasana di pantai seketika menjadi tegang, tapi juga hangat—hanya mereka berdua, ombak, dan matahari sore yang mulai condong ke barat.
“Syukurlah… kalau kamu tahu,” kata Kemal, suaranya terdengar lembut tapi ada getar emosional di dalamnya. “Aku sedih… kamu mutusin hubungan kita.”
Diandra terdiam sejenak, dadanya sesak. Ia menunduk, mencoba menenangkan diri, lalu tersenyum canggung. “Eh… maksudnya nggak gitu,” jawabnya terbata-bata, bingung sekaligus merasa bersalah.
“Aku paham kok,” kata Kemal, tersenyum tipis.
Diandra merasakan lega, bahu-bahunya yang semula tegang sedikit merosot. “Kamu… disini?” tanyanya, nada suaranya ringan, tapi ada rasa ingin tahu.
“Melarikan diri… ceritanya panjang,” jawab Diandra, matanya menatap jauh ke laut, mencoba menenangkan diri.
“Em,” gumam Kemal singkat, seolah memahami sepenuhnya.
Keduanya mulai berjalan menyusuri pantai, langkah kaki mereka menyisakan jejak di pasir yang basah. Percakapan mengalir dengan ringan, kadang diiringi tawa yang terdengar jelas di udara sore yang hangat. Ada rasa nyaman, seakan dunia hanya milik mereka berdua untuk beberapa saat.
Namun, dari kejauhan, Leon berdiri di tepi pantai lain, tatapannya dingin dan menusuk. Matanya mengikuti setiap gerak Diandra, melihatnya tertawa dan berbicara dengan Kemal. Hatinya bergejolak entah apa sebabnya.
Dan Hilda menyadarinya, ia mengepalkan tangannya. Cemburu.