Ribet

1137 Words
Diandra kembali ke kamar dengan perasaan lega. Hari itu terasa lebih ringan dibandingkan kemarin, ketika adegan penculikan yang menegangkan masih membekas di pikirannya. Bertemu Kemal secara tidak sengaja di pantai, lalu menemaninya berjalan-jalan di bibir pantai walaupun hanya sekitar lima puluh menit, memberi Diandra perasaan nyaman yang jarang ia rasakan akhir-akhir ini. Langkahnya pelan saat menapaki koridor hotel, tapi hatinya terasa lebih ringan. Meski masih ada bayangan Leon di kejauhan, momen singkat dengan Kemal berhasil memberi Diandra napas lega—sebuah jeda dari segala drama dan ketegangan yang membelitnya. Di kamar, ia menatap jendela dan tersenyum tipis, membiarkan cahaya senja menembus tirai. Entah mengapa pertemuan singkat dengan mantan kekasihnya itu membuat Diandra merasa penuh semangat. Hatinya hangat, seakan ada getaran manis yang belum pernah ia rasakan beberapa hari terakhir. “Ting.” Ponselnya berbunyi. Diandra segera membuka pesan itu. Kemal: Kamu udah di kamar? Jari lentiknya bergerak cepat membalas. Diandra: Udah, kamu? Kemal: Aku? Diandra: Ya. Kemal: Di kamar… tapi jujur, aku pengennya ada di hati kamu. Jleb. Diandra menggigit bibir bawahnya, jantungnya berdetak kencang. Balasan Kemal itu benar-benar membuatnya berbunga-bunga. Rasa hangat memenuhi dadanya, senyum tipis tak bisa ia sembunyikan, dan pandangannya tertuju pada ponsel seolah menunggu kata-kata manis berikutnya. Ia menarik napas pelan, mencoba menenangkan detak jantungnya yang cepat, tapi hatinya tahu—perasaan itu sulit dibendung. Tepat saat Diandra masih menatap ponsel, senyum tipis menghiasi bibirnya, terdengar suara pintu terbuka. Leon masuk, langkahnya mantap dan tatapannya dingin. Ruangan seketika terasa berat. Detak jantung Diandra langsung melompat, senyum yang tadi ia pasang mendadak membeku di wajahnya. Leon menutup pintu di belakangnya dengan satu tarikan, pandangannya langsung tertuju pada Diandra. Suasana kamar yang hangat dan nyaman karena pesan Kemal kini berubah menjadi tegang, seperti ombak yang tiba-tiba pecah di tengah ketenangan. Diandra menelan ludah, jari-jarinya masih menggenggam ponsel, tapi kini terasa seperti beban. “L-Leon…” gumamnya pelan, nadanya setengah kaget, setengah takut. Leon tidak langsung bicara. Ia berdiri di tempatnya, menatap Diandra dengan campuran emosi—dingin, marah, dan sedikit penasaran—seolah ingin membaca perasaannya dari tatapan mata itu. Detik-detik itu terasa lambat, hanya suara detak jantung Diandra dan desiran angin dari jendela yang terdengar di kamar. “Kenapa keluar?” tanya Leon dingin, suaranya rendah dan tajam. Diandra hanya menghela napas, lalu menjatuhkan tubuhnya di ranjang dengan santai. “Aku bosan di kamar terus,” jawabnya ringan, sambil tersenyum tipis. “Tapi aku pakai masker, jadi aman kok.” Leon tetap berdiri, menatapnya tanpa berkata-kata. Tatapannya tertuju pada tubuh Diandra—bikini merah muda yang dikenakannya membuat dadanya sedikit menegang, meski ia berusaha menahan diri. “Jangan pernah keluar dari kamar ini!” tegas Leon, suaranya dingin tapi penuh otoritas. Diandra menatapnya, sedikit menahan napas. “Leon… tapi aku bosan di sini terus. Aku butuh udara segar untuk menenangkan pikiran. Aku stress kalau cuma di kamar, mikirin jalan hidupku,” jawabnya, suaranya ringan tapi tegas, mencoba mempertahankan ketenangannya. Leon menatapnya dengan mata yang sulit dibaca. “Orang-orang di luar sana sudah banyak yang tahu kau istriku,” ujar Leon, nadanya dingin tapi tegas, matanya menatap Diandra tanpa berkedip. “Aku tidak mau menjadi masalah. Dan kalau terjadi sesuatu… aku juga yang repot.” Diandra menelan ludah, hatinya berdebar. “Ya, aku mintak maaf. Aku nggak bermaksud merepotkan siapapun.” “Ingat, jangan ulangi lagi!” Dianda mengangguk. “Leon, kamu beneran mau bantu akukan?” Tanya Diandra lagi memastikan. “Sesuai perjanjian kita!” Diandra mengangguk mengerti. “Tangan kamu gimana?” Diandra langsung meraih tangan Leon dan melihatnya secara langsung. Ting. Terdengar suara bel. Diandra menebak yang datang adalah Hilda dan benar, ketika pintu terbuka Hilda berdiri disana. “Honey, kenapa kamu selalu tiba-tiba menghilang dan ada disini?!” Geram Hilda. “Aku hanya memastikan Diandra ada dikamarnya,” Jawab Leon. “Yaudah, kita pergi yuk.” Leon akhirnya pergi, langkahnya mantap meninggalkan kamar, meninggalkan ketegangan yang perlahan sedikit mereda. Namun, Hilda masih berdiri di sana, tubuhnya tegap, mata tajam menatap Diandra dari ujung ke ujung. Aura dingin dan dominannya memenuhi ruangan, membuat Diandra langsung menegang kembali. “Hey,” suara Hilda tajam, penuh nada mengintimidasi, “ingat… jangan melunjak. Kau itu bukan siapa-siapa. Jangan menyusahkan kami, paham? Nggak usah sok cari perhatian!” Diandra hanya diam, karena tak pernah cari perhatian pada Leon padaa sekali. “Satu lagi, kami akan menikah. Nggak usah mikir kamu bakal menikah selamanya dengan Leon!” Hilda melangkah pergi. Diandra kembali menutup pintu, ia benar-benar tak peduli. Justru ia ingin masalahnya segera selesai lalu kembali menjalani hidup dengan normal. Tidak seperti sekarang. Ia tak punya kesalahan, tapi hidup layaknya buronan. Diandra duduk di sofa, pandangannya kosong ke arah lantai. Pikirannya mulai menerawang jauh, kembali ke masa lalu—waktu kedua orang tuanya masih hidup. Saat itu, hidupnya begitu bahagia. Segalanya terasa damai, tanpa beban. “Hay, prinses,” suara lembut dan hangat terdengar di ingatannya—suara mamanya. “Mama,” balasnya, mata berbinar senang. “Main yuk,” ajak mamanya. “Iya,” jawab Diandra riang. “Papa juga ikut, dong,” sela suara papanya, penuh semangat. “Ayo, Diandra yang jaga dulu ya. Ayo tutup mata,” kata mamanya sambil tertawa. Diandra mengangguk dan langsung menutup matanya, mengikuti permainan itu. “Satu… dua… tiga…” Ia membuka mata, matanya berkeliling mencari—di mana kedua orang tuanya bersembunyi? Ruangan yang dulu terasa hangat kini hidup kembali dalam ingatannya: tawa, suara langkah kaki, dan senyum orang tua yang membuatnya merasa aman di dunia ini. Hati Diandra berdebar hangat, senyum tipis terbentuk di bibirnya, meski hanya sekadar kenangan. Rindu itu terasa tajam, tapi juga mengingatkannya pada masa-masa sederhana yang penuh cinta. Kini semuanya tinggal kenangan, kenapa terindah yang tak dapat terlupakan. Air matanya menetes ia usap pelan. Sekarang ia hidup dengan orang asing dan entah sampai kapan. Diandra menggenggam bantal di sofa, menekannya ke dadanya. “Aku harus kuat… nggak bisa larut terus dalam kenangan,” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Meski begitu, hatinya masih berdebar cepat, teringat tatapan dingin Leon dan ucapan Hilda. Perasaan lega dan nostalgia bertabrakan dengan ketegangan yang nyata di sekitarnya—membuatnya sadar bahwa kebebasan sesaat di pantai hanyalah jeda, bukan akhir dari drama yang terus mengejarnya. Dengan perlahan, Diandra menepuk pipinya sendiri, mencoba menenangkan diri. Ia tahu, meski rindu pada masa lalu itu membuncah, ia harus kembali menghadapi kenyataan—dan menghadapi orang-orang yang bisa membuat hidupnya semakin rumit. Ting Ponselnya kembali berbunyi. Diandra membukanya ia yakin yang mengirim pesan Kemal. Tapi bukan, yang mengirim pesan Leon. Leon: Jangan keluar kamar dengan laki-laki! Diandra tahu artinya Leon tahu ia bertemu dengan Kemal. Jarinya pun kembali menekan balasan pesan. Diandra: kita cuma kerja sama, nggak usah segitunya banget! Leon: di luar sana mereka tau kau istriku. “Ya ampun, ribet banget ya hidupku sekarang!” Gumamnya kesal. "cintanya kesiapa, nikahnya dengan siapa? Belum lagi kehidupan ini nggak normal!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD