Hampir satu minggu berlalu. Selama itu, Diandra hampir tak pernah meninggalkan kamar. Rasa bosan dan muak menumpuk, tapi ia terpaksa menurut. Setiap harinya terasa monoton, membosankan, dan membuatnya bertanya-tanya sendiri: Bagaimana kelanjutan hidupku? Aku tak bisa terus seperti ini…
Tiba-tiba, pintu kamar terbuka. Diandra menoleh, jantungnya langsung berdegup kencang. Leon muncul, wajahnya dingin seperti es, dan di sampingnya berdiri Hilda, tatapannya tajam dan penuh d******i.
“Kita akan kembali pulang,” ujar Leon, nadanya dingin, tegas, dan tanpa kompromi.
Diandra mengangguk pasrah.
Hilda melangkah sedikit lebih dekat, senyumnya tipis tapi menantang, seolah ingin menegaskan bahwa apapun yang terjadi, Diandra tetap di bawah pengaruh mereka.
Tapi Diandra tak peduli.
Bahkan saat berada dalam jet pribadi, mereka berdua—Leon dan Hilda—terlihat sangat mesra. Gerak-gerik mereka santai, penuh kemesraan, dan tak segan memperlihatkan itu tepat di depan mata Diandra.
“Honey, kita menikah besokkan?” Tanya Hilda manja.
“Iya,” Jawab Leon sambil mengelus lembut pipi Hilda.
Diandra memilih untuk menutup mata dan terlelap.
Karena mual melihat kemesraan itu.
***
Hueekkkk
Hilda tiba-tiba menahan tubuhnya, wajahnya berubah pucat. Rasa mual menyerangnya begitu cepat, membuatnya terpaksa berlari ke kamar mandi.
Diandra, yang sedang menatap sekeliling mansion, hanya mengamati dari kejauhan, rasa penasaran bercampur sedikit lega karena perhatian Hilda teralihkan.
Hilda membungkuk di depan wastafel, muntah. Yang keluar hanya cairan, membuatnya sedikit lemas. Ia mengusap mulutnya dengan tisu, menatap cermin, dan menahan napas pelan.
Suasana mansion yang megah seketika terasa hening di bagian itu, hanya suara air yang menetes di wastafel dan desahan pelan Hilda yang terdengar.
Diandra menunduk sedikit, menahan senyum tipis—bukan karena ia ingin menyakiti, tapi karena Hilda, yang biasanya dominan dan menakutkan, kini terlihat rapuh dan manusiawi.
“Leon, kamarku masih yang sebelumnya?” Tanyanya.
Leon pun mengangguk singkat.
Lalu Diandra pergi menuju kamarnya.
“Honey, aku mual banget,” Kata Hilda.
“Kita ke kamar,” Kata Leon.
Hilda pun mengangguk, setelah masuk ia langsung berbaring di atas ranjang.
“Pelayanan, panggil Diandra,” perintah Leon.
“Buat apa?” Tanya Hilda bingung.
“Dia dokter, jadi bisa memeriksa keadaan kamu,” Katanya.
“Engga usah, aku juga nggak yakin dia dokter beneran. Kalaupun beneran pasti waktu kuliah dia sangat bodoh!” Ucap Hilda.
Yang jelas Hilda sangat membenci Diandra.
“Aku membutuhkanmu,” Kata Hilda tersenyum manja.
“Kau sedang sakit,” Tolak Leon.
“Ck!”
“Aku panggil Diandra, tunggu sebentar.”
“Nggak mau!”
“Babe, ayolah…aku hanya khawatir padamu, besok kita akan menikah,” Ucap Leon meyakinkan.
Sejenak Hilda diam, menimbang dengan gerakan malas ia pun setuju.
“Oke, honey, semua karena kamu.”
Tanpa menunggu lama Leon langsung memerintah pelayanan memanggil Diandra.
Tapi Leon tak suka menunggu, lima belas menit berlalu Diandra tak juga datang.
“Dia itu melunjak, ingin sekali aku mencekiknya!” Ucap Hilda.
“Kita membutuhkannya sekarang,” Ucap Leon menyadarkan Hilda, “tunggu disini!”
Dengan langkah lebar Leon pun menuju kamar Diandra.
Dia benci wanita yang tidak tunduk pada perintahnya.
Tak ada ketukan pintu, bahkan ia bebas masuk ke setiap ruangan.
Begitu juga dengan kamar yang ditempati Diandra.
Namun ia tak melihat beradaan Diandra di sana.
Hingga matanya menatap pintu kamar mandi yang setengah terbuka.
Ia pun melangkah pelan dan dia melihat Diandra tengah mengguyur tubuhnya di bawah shower.
Gadis itu mandi tanpa sehelai benang pun, tubuhnya tinggi, kulitnya putih dan sangat mulus.
Leon meneguk ludah dibuatnya.
Bahkan ada sesuatu yang mendadak berdiri, dan tiba-tiba saat itu Diandra berbalik.
Melihatnya.
Diandra tidak pergi, ia melangkah ke arahnya dengan percaya diri seakan tengah menunjukkan pesonanya.
Tubuh Leon semakin menegang, seperti ada aliran listrik yang menjalar.
Krang.
Tanpa sengaja kaki Leon menyenggol guci.
Diandra pun tersadar, kemudian ia segera meraih handuk lalu keluar untuk memastikan bahwa tak ada yang melihatnya.
Tidak ada siapapun.
Diandra pun kembali masuk ke dalam kamar mandi dan melanjutkan mandinya.
Leon keluar dari balik gorden, hampir saja ia ketahuan.
Ia merutuki kebodohannya, padahal Diandra hanya sedang mandi disana. Bagaimana bisa membayangkan Diandra menghampiri dalam keadaan seperti itu.
Tapi satu hal yang tak bisa ia hilangkan dari pikiranya, bentuk tubuh Diandra yang begitu indah.
Dan sebelum Diandra tahu ia disana, Leon pun memutuskan untuk pergi.
Kembali ke kamarnya dengan perasaan kacau sendiri.
“Honey, apa wanita sialan itu berlaga sok hebat?” Tanya Hilda melihat wajah tegang Leon.
Leon pun menatapnya sambil mengusap tengkuknya.
“Kapan sih, Oma mewariskan semua warisannya ke kamu, aku nggak sabar pengen usir dia dari sini, dari hidup kita!” Geram Hilda.
Dari kejauhan terdengar suara langkah kaki, Diandra dengan elegan melangkah masuk.
“Permisi,” Katanya.
Leon menatapnya, dengan gaun berwarna hitam dan cukup terbuka, bahkan belahan dadanya begitu rendah menampakkan sesuatu yang menonjol.
Tapi sejujurnya Diandra juga tidak terbiasa dengan pakaian seperti ini, namun tak ada pilihan lain karena hanya itu yang ada.
Oma.
Oma yang menyiapkan.
Tapi dimana Leon bayangan tadi belum sepenuhnya hilang, namun ia harus bersikap tenang.
“Hey, kamu ngelunjak ya. Kamu cuma numpang disini, kami majikan kamu!” Sinis Hilda.
Diandra tak peduli.
“Tadi, pelayanan bilang aku diminta kesini untuk memeriksa Hilda?” Tanyanya.
“Hey, Hilda? Aku ini majikanmu. Panggil Nyonya Hilda!” Perintahnya.
Astaga.
Diandra menarik nafas berat.
“Maaf, tapi..”
“Hey, nggak ada kerja sama yang seimbang. Kamu cuma numpang, kami majikanmu, paham!” Potong Hilda dengan angkuh.
Entah berapa banyak stok kesabaran yang harus dimiliki oleh Diandra agar ia bisa menghadapi ini semua.
“Ngapain berdiri disana, periksa aku!” Pekik Hilda.
Benar-benar tak punya sopan santun, batin Diandra.
Dengan perlahan dia pun mendekati Hilda dan memeriksanya.
“Hey, kamu bukan dokter gadungan kan?” Sinis Hilda.
“Mau disuntik mati?” Tanya Diandra tiba-tiba.
Deg.
Suasana mendadak tegang bahkan Hilda juga tak menyangka Diandra bisa berkata demikian.
Leon yang sedari tadi berdiri di tengah-tengah kamar juga seperti tak percaya mendengarnya.
“Sudah berapa lama mual-mual?” Tanya Diandra.
“Engga tau!” Ketus Hilda kesal.
“Kemungkinan kau hamil, untuk lebih lanjut sebaiknya periksakan ke dokter Obgyn.”
“Oh, jadi kamu dokter umum? Rendah ya,” Sindir Hilda.
“Lebih rendah lagi mulutmu!” Balas Diandra.
“Ih,” Hilda menahan amarah, ingin sekali ia melenyapkan Diandra sekarang juga, “honey, buang aja dia jadi santapan harimau!” Perintahnya pada Leon.
“Nggak mungkin lah, soalnya aku berguna buat Leon. Nggak kaya kamu!”
“Maksudnya?”
“Nggak guna!” Kata Diandra lalu melenggang pergi.
“Honey, dia!” Adunya seakan dia adalah korban, “dia kurang ajar, kamu harus singkirin dia!”
Leon hanya bisa menatap punggung Diandra dari kejauhan.
“Dan, dia bilang apa? Aku hamil? Nggak mungkin! Dia dokter gadungan!” ucap Hilda penuh tuduhan.