Hilda menghirup napas panjang setelah memarkirkan mobilnya.
Dadanya naik turun, berusaha menenangkan debar yang sejak tadi tak mau jinak.
Ia menatap gedung tinggi di hadapannya—kantor pusat keluarga Fernandez yang menjulang angkuh, seolah menjadi simbol kekuasaan dan kekayaan yang selama ini ia incar… sekaligus ia takuti.
Tangannya meraih ponsel dari dalam tas.
Nama Leon terpampang di layar.
Ia menekan tombol panggil.
Nada dering mulai berbunyi.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Tak ada jawaban.
Keningnya berkerut. Biasanya Leon tak pernah selama ini membiarkannya menunggu.
Nada dering berhenti.
Panggilan tak terjawab.
Hilda menggigit bibir bawahnya, lalu mencoba lagi.
Kali ini lebih lama.
Namun hasilnya sama.
Tak ada jawaban sama sekali.
Membuat Hilda merasa jengkel.
“Apa aku masuk aja? Ah, tapi aku harus nurut sama dia, aku nggak mau dia malah marah dan nggak mau punya hubungan sama aku.
Mungkin dia sedang rapat?
Atau… sesuatu terjadi? Jangan dong, dia harus bisa hidup dulu, karena ada pewarisnya disini,” Ucap Hilda penuh ambisi.
***
Leon duduk di kursi meja makan menikmati sarapan paginya.
Namun sesekali ia memegang pelipisnya, seolah ada denyut halus yang mengganggu sejak tadi.
Tak lama kemudian Diandra muncul dan langsung duduk berhadapan dengannya. Matanya refleks menyapu meja—tak ada Hilda di sana. Dan entah kenapa, itu membuat suasana terasa lebih ringan.
“Leon, aku mau ngomong,” kata Diandra.
Ia meraih segelas s**u hangat di meja, meniupnya sebentar lalu meneguknya perlahan. Sementara itu, Leon menatapnya tenang meski wajahnya tampak lebih pucat dari biasanya.
“Aku bosan dikurung terus. Jadi gimana kelanjutan hidup aku? Aku punya masa depan. Aku punya pekerjaan,” ucap Diandra tegas.
“Orangku sedang mengumpulkan bukti pembunuhan orang tuamu,” jawab Leon datar namun pasti. “Setelah bukti terkumpul, mereka akan dihukum sesuai kejahatan mereka. Kamu bisa aman melanjutkan hidup.”
“Aku tunggu, ya,” balas Diandra pelan.
Leon mengangguk singkat.
Namun setelah itu, tangannya kembali naik ke pelipis. Kali ini lebih lama. Nafasnya terdengar sedikit berat.
Diandra memperhatikannya.
Ada sesuatu yang berbeda.
Wajah Leon bukan hanya pucat—kulitnya seperti kehilangan warna. Bibirnya juga terlihat kering.
Ia bangkit dari kursinya dan mendekat.
“Kamu sakit?” tanyanya serius.
Leon mencoba tersenyum tipis. “Cuma kurang tidur mungkin.”
Namun saat ia hendak berdiri, tubuhnya sedikit limbung. Tangannya cepat mencengkeram tepi meja agar tidak jatuh.
Diandra refleks memegang lengannya.
“Leon…”
Saat itulah setitik darah menetes dari hidung Leon ke punggung tangannya.
Ia terdiam.
Diandra membeku.
“Leon… kamu mimisan.”
Leon menatap darah itu beberapa detik, lalu buru-buru menyekanya dengan tisu.
Lalu Diandra segera meraih lengan Leon.
“Ayo, kamu harus tiduran dulu,” katanya tegas, meski suaranya menyimpan panik.
Leon tak banyak melawan. Tubuhnya memang terasa semakin berat dan lemas. Ia membiarkan Diandra menuntunnya menuju sofa di ruang tamu.
Namun tinggi dan tubuh Leon yang jauh lebih besar membuat Diandra kewalahan. Langkah Leon tidak stabil. Beberapa kali ia hampir kehilangan keseimbangan.
“Pelan… pelan…” gumam Diandra, setengah menyeret, setengah menopang.
Akhirnya mereka sampai di depan sofa.
Leon mencoba menjatuhkan tubuhnya perlahan untuk berbaring. Namun saat itu juga, kakinya yang panjang sedikit terseret dan menghalangi langkah Diandra.
Diandra tak menyadarinya.
Kakinya tersandung.
“Ah!”
Dalam hitungan detik, keseimbangannya hilang.
Bruk.
Tubuhnya jatuh tepat di atas tubuh Leon yang baru saja setengah berbaring di sofa.
Beberapa detik mereka terdiam.
Wajah Diandra sangat dekat dengan wajah Leon. Ia bisa merasakan napas Leon yang hangat—meski terdengar tidak stabil.
“Ma—maaf,” ucap Diandra cepat, wajahnya memerah.
Leon mengerjap pelan. Meski pucat, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Padahal disini banyak pelayan,” gumamnya pelan.
“Iya juga ya,” Kata Diandra baru sadar, dan malu sendiri.
Diandra mendengus kesal, tapi tangannya tetap menahan bahu Leon agar ia tak kembali limbung.
Ia segera bangkit, membantu Leon berbaring dengan benar, lalu menyelipkan bantal di bawah kepalanya.
“Bentar ya,” ujar Diandra cepat.
Ia bergegas menuju kamarnya. Beberapa detik kemudian ia kembali dengan napas sedikit terengah, membawa stetoskop yang tergantung di lehernya dan alat pengukur tekanan darah digital—tensimeter.
Ia duduk di sisi sofa.
“Angkat tanganmu sedikit,” katanya tegas, “lukamu juga lama sekali keringnya,” Diandra bingung melihat luka sayatan ditangan Leon, seharusnya sudah kering.
Leon menurut, meski gerakannya lambat.
Diandra melilitkan manset tensimeter di lengan atas Leon dengan hati-hati, memastikan posisinya pas. Setelah itu ia menekan tombol alat tersebut.
Mesin kecil itu mulai bekerja—manset mengembang, menekan lengan Leon.
Dan diam-diam, ada sesuatu yang bergerak di dalam d**a Leon.
Perasaan kagum.
Diandra terlihat berbeda pagi ini. Tidak cerewet. Tidak jutek. Tidak tidak ada keributan.
Tangannya cekatan. Tatapannya fokus. Nada suaranya tegas.
Leon memperhatikannya tanpa di sadari Diandra.
Cara Diandra menggigit bibir bawahnya saat membaca hasil tekanan darah. Cara ia merapikan manset dengan hati-hati agar tidak melukai kulitnya.
Ia benar-benar khawatir.
Bukan karena kepentingan.
Leon melihat ada ketulusan disana, di wajah Diandra.
Dan perasaan itu membuat sudut bibirnya terangkat tipis.
“Kenapa kamu senyum?” tanya Diandra curiga.
Leon menggeleng pelan. “Tapi, kamu beneran dokter nggak malpraktik?”
Namun jauh di dalam hatinya, ia mengakui satu hal—
Diam-diam, ia kagum pada wanita yang selama ini ia anggap hanya beban perlindungan. Ia anggap hanya ada kerjaan sama diantara mereka.
Plak!
Diandra yang kesal tiba-tiba mengetuk kepala Leon dengan stetoskop.
“Aduh…” rintis Leon.
“Rasain, nggak kamu nggak pacarmu sama aja. Nggak ada baiknya sama sekali!” Omelnya.
Leon menahan senyum melihat kemarahan Diandra, padahal hatinya baru saja memuji tapi sudah mengomel lagi.
“Kamu galak banget sih…”
“Nah, kan? Mana ngatain lagi!”
“Bos, apa yang terjadi?” Tanya seorang asisten yang baru muncul.
Leon pun menatapnya begitu juga dengan Diandra.
“Bosmu mau mati!” Kata Diandra ketus.
“Astaga,” Leon terkejut mendengarnya.
Bahkan asisten juga terkejut.
Diandra meraih bolpoin di saku jas Leon tiba-tiba, lalu “Pinjam!” Diandra meraih notes ditangan asisten.
Kemudian dengan gerakan cepat ia menuliskan resep.
Lalu memberikan pada asisten.
“Cepat tebus obat ini!” Perintahnya.
Asisten tidak mengetahui apa maksud tulisan Diandra, tapi dia tak membantah segera pergi untuk menebus obat.
Entah kemana tatapan mata Leon masih menatap padanya, sekilas ingatan ketika Diandra mandi kembali muncul di benaknya.
Tapi ketika Diandra kembali menatapnya, Leon berpura-pura melihat arah lain.
Kemudian terdengar suara langkah kaki semakin mendekat.
Hilda pulang.
Diandra tak mau terlalu lama disana, urusannya bisa panjang.
Makian sudah pasti ia dapatkan. Meskipun tanpa alasan jelas.
Ia pun melenggang pergi, “Pasangan serasi,” Gumamnya.
“Dasar tidak sopan!” Sinis Hilda yang melihat Diandra langsung pergi ketika ia datang, “hey, gembel! Berhenti!”
Diandra tak peduli ia memilih terus melangkah ke kamarnya.
“Dia pasti abis coba menggoda kamu kan?” Tanya Hilda curiga.
“Engga, tadi dia nolong aku. Kepala aku pusing,” Kata Leon.
“Pokoknya kamu nggak boleh tergoda sama dia, aku yakin dia punya rencana jahat!”
“Kamu dari mana?”
“Leon, aku mau ngomong sesuatu sama kamu. Aku hamil,” Ucap Hilda.
Leon langsung duduk, ia seakan tak percaya mendengarnya.