Semuanya dimulai

1153 Words
Leon begitu terkejut mendengarnya. Untuk sesaat ia hanya berdiri mematung, seolah kata hamil baru saja meledak di kepalanya. Mata Hilda berkaca-kaca. Detik berikutnya, air mata itu benar-benar jatuh. “Kamu hamil?” suara Leon nyaris berbisik, antara tidak percaya dan terkejut. “Kamu nggak mau bilang kalau aku harus gugurin anak ini, kan?” tanya Hilda dengan bibir bergetar. Tangannya refleks memeluk perutnya sendiri, seolah melindungi sesuatu yang bahkan belum terlihat. Leon mengerutkan kening. “Kenapa kamu bicara seperti itu?” “Karena Oma kamu terus menentang hubungan kita. Aku takut…” suara Hilda pecah. “Takut kamu minta aku gugurin kandungan ini. Padahal dia nggak salah. Dia nggak salah apa-apa…” Hening. Leon menatap Hilda lama. Ada campuran emosi di wajahnya—kaget, cemas, tapi juga sesuatu yang lebih dalam. Ia melangkah mendekat. “Dengar aku,” ucapnya pelan, namun tegas. “Aku mungkin belum siap jadi ayah. Aku bahkan belum siap menghadapi Oma.” Ia menarik napas panjang. “Tapi aku nggak pernah berpikir sejauh itu. Itu anakku juga.” Hilda terisak pelan. “Tapi kalau Oma memaksa kamu memilih?” Leon mengangkat dagu Hilda dengan lembut agar wanita itu menatapnya. “Aku nggak akan biarin siapa pun menyakiti kamu. Termasuk soal ini.” Dalam hati Hilda bersorak, ada secercah harapan di matanya. “Aku takut, Leon… takut anak ini nggak punya orang tua yang lengkap. Kamu harus nikahin aku ya,” mohon Hilda sambil menggenggam tangan Leon erat, seolah takut pria itu menghilang. Leon menatap wajah yang basah oleh air mata itu. Ada ketakutan yang nyata di sana—bukan sekadar drama, tapi kecemasan seorang perempuan yang sedang membawa kehidupan di dalam rahimnya. “Pasti,” jawab Leon tanpa ragu. Ia langsung menarik Hilda ke dalam pelukannya. Tubuh Hilda bergetar kecil, dan Leon bisa merasakannya. Tangannya mengusap punggung wanita itu perlahan, berusaha menenangkan, meski pikirannya sendiri belum sepenuhnya tenang. “Kita hadapi sama-sama,” lanjut Leon pelan. “Aku akan bicara sama Oma. Apa pun yang terjadi, kamu nggak sendirian.” Hilda memejamkan mata dalam pelukan itu. Untuk sesaat, dunia terasa lebih ringan. Namun jauh di dalam hati Leon, ada satu bayangan yang belum hilang—wajah Oma yang keras dan penuh wibawa. Ia tahu, keputusan ini bukan sekadar soal cinta. Ini soal nama keluarga, warisan, dan harga diri yang selama ini dijaga mati-matian. Dan badai itu… belum benar-benar dimulai. “Kamu nggak bohong?” tanya Hilda dengan wajah dibuat sepolos mungkin. “Iya.” Leon pun memengang perut Hilda, ia masih belum menyangka hari ini Hilda akan mengatakan sebuah hal yang sangat mengejutkan. “Leon, nikahin aku atau aku mati bunuh diri!” “Jangan.” “Aku mau jadi istri sah, bukan cuma siri!” Leon bingung harus seperti apa, tapi bagaimana pun juga ada anaknya di rahim Hilda. “Kita menikah siri dulu, surat-surat menyusul. Aku yakin Oma akan mengerti, apa lagi ada darah Fernandez di sini,” kata Leon sambil mengelus perut Hilda lembut. “Janji!” “Iya.” *** Sore itu langit terlihat mendung. Awan-awan kelabu menggantung rendah, seolah menahan hujan yang tak kunjung jatuh. Namun berbeda dengan suasana hati Hilda. Perempuan itu justru tampak berbinar. Tangannya sesekali menyentuh perutnya yang masih rata, senyum tipis terukir di bibirnya. Sebentar lagi Leon akan menikahinya. Meskipun hanya siri—setidaknya untuk sementara—itu tidak masalah. Baginya, status bisa menyusul. Yang penting, ikatan itu sah di mata agama. Perlahan, posisinya akan menjadi istri. Istri yang diakui. Istri yang membawa anak Leon. Ya itu yang kan mereka ketahui. Dan tak perlu lagi ada Diandra di antara mereka. “Pelayan, panggil Diandra!” perintah Hilda dengan nada tinggi, dagunya terangkat angkuh. “Aku di sini,” sahut Diandra santai. Ia duduk di sofa, menyilangkan kaki, sambil menggigit apel merah di tangannya. Tatapannya datar, seolah tak terganggu sedikit pun oleh suasana yang sengaja dibuat tegang. “Orang miskin dan tidak tahu sopan santun,” gumam Hilda lirih, namun cukup terdengar. Diandra tersenyum tipis. “Kalau ngomong, jangan setengah-setengah. Nanti sakit sendiri loh.” Hilda mengepalkan tangan, tapi sebelum ia sempat membalas, suara penghulu memanggil mempelai pria untuk bersiap. Suasana berubah khidmat. Leon duduk bersila di depan penghulu. Para saksi telah siap di sisi kanan dan kiri. Nafasnya ditarik dalam, wajahnya terlihat tegang namun mantap. Penghulu mulai membacakan akad. Hening menyelimuti ruangan. Leon lalu menjabat tangan penghulu dengan erat. “Saya terima nikahnya Hilda binti—” suaranya terdengar jelas dan tegas, melafalkan ijab kabul dalam satu tarikan napas tanpa terputus. Hening sesaat. “Sah!” ucap para saksi hampir bersamaan. Beberapa orang mengangguk lega. Ada yang tersenyum. Ada pula yang hanya diam menyimpan pikirannya masing-masing. Hilda tersenyum ke arah Diandra karena merasa menang. Sedangkan Diandra… masih duduk di tempatnya. Ia menggigit apel sekali lagi. Tatapannya lurus ke arah Leon. Tanpa senyum. Tanpa tepuk tangan. Tanpa air mata. Dan Diandra tidak peduli karena menurutnya tak ada yang menarik, lagi pula ia hanya menjalin kerjasama di sana, tapi Hilda menganggapnya saingan. Aneh. “Honey, akhirnya kita menikah juga. Aku bahagia banget.” Hilda tersenyum manja, jemarinya melingkar di lengan Leon. “Kamu nggak lupakan janjinya?” Leon menatapnya sejenak. Wajahnya tersenyum tipis, tapi sorot matanya tak sepenuhnya ringan. “Nggak,” jawabnya pelan. “Aku nggak lupa. Tapi sabar dulu, ya.” Hilda mengerucutkan bibirnya. “Sabar gimana lagi? Kita sudah sah.” Leon menarik napas panjang. “Ini baru langkah pertama. Aku sudah menikahi kamu. Itu tanggung jawabku. Tapi soal pengumuman ke keluarga besar… soal Oma… aku harus atur waktunya.” Nama itu membuat Hilda terdiam sesaat. “Kamu takut sama Oma?” tanyanya pelan. Leon tersenyum miring. “Bukan takut. Tapi aku tahu bagaimana beliau. Semua harus dipersiapkan. Aku nggak mau kamu diserang habis-habisan.” Hilda menatapnya lekat-lekat, mencoba membaca isi hati pria itu. “Aku cuma nggak mau jadi istri bayangan terlalu lama.” Leon mengusap pipinya lembut. “Kamu bukan bayangan. Kamu istriku.” Di kejauhan, Diandra merasa mual melihat kemesraan itu. Entah karena suasana, atau karena kata-kata manis yang terdengar terlalu dipaksakan. Ia menelan ludah, lalu tanpa berkata apa pun, berbalik dan pergi. Langkahnya tenang. Tanpa drama. Hilda yang melihat itu menatap punggung Diandra dengan sorot penuh kemenangan. “Honey…” panggilnya lembut, lalu menarik tangan Leon dan menempelkannya ke perutnya yang masih rata. “Di sini… di perutku, sudah ada pewarisnya Oma. Aku yakin Oma pasti lebih milih aku.” Keyakinan itu terdengar mantap. Bahkan terlalu mantap. Leon terdiam sesaat. Tangannya masih berada di atas perut Hilda, tapi pikirannya melayang jauh. Pewaris. Kata itu bukan sekadar bayi. Itu berarti nama keluarga. Harta. Kedudukan. Dan restu dari seorang wanita tua yang selama ini memegang kendali penuh atas segalanya. “Kita lihat nanti,” jawab Leon akhirnya, suaranya datar namun terkontrol. “Kok jawabannya gitu?” “Kamu tenang, pasti hanya ada kamu yang akan menjadi istriku,” Ucap Leon yakin. Hilda pun tersenyum puas. “Bos, ada Oma di depan,” ucap Asisten. Leon pun menengang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD