“Honey, kita harus ngomong ke Oma tentang pernikahan kita… dan tentang anak ini, ya,” ucap Hilda dengan penuh keyakinan.
Minimal sebelum Leon mati Keluarga Fernandez sudah tahu anak itu, anak yang dikira adalah anak Leon. Tangannya tanpa sadar mengusap perutnya, seolah di sanalah letak kartu trufnya.
Leon menatapnya datar. Tak ada senyum, tak ada antusiasme.
“Kamu pergi dulu. Aku yang akan bilang ke Oma.”
Nada suaranya tegas. Bukan permintaan—itu perintah.
Wajah Hilda sempat menegang. “Tapi, Honey—”
“Nona, silakan pergi dulu,” sela asisten pribadi Leon dengan sopan namun tak terbantahkan.
Tatapan tajam langsung meluncur dari mata Hilda. Harga dirinya terasa diinjak, apalagi di depan bawahan. Namun ia menarik napas dalam-dalam, menahan diri. Tidak sekarang.
Untuk saat ini, ia memilih menurut.
Lagipula, ia sudah selangkah lebih maju.
Ia adalah istri sah Leon.
Dan ia mengandung calon pewaris yang diinginkan Oma.
Perlahan, sudut bibirnya terangkat tipis. Permainan ini belum selesai—dan ia yakin, kali ini ia yang akan menang.
***
Oma berjalan masuk, langkahnya pelan namun pasti. Usianya memang tak lagi muda, tetapi aura kecantikan dan ketegasannya tak pernah pudar. Setiap ayunan tongkatnya seperti pernyataan kuasa.
Kini ia berdiri tepat di hadapan Leon.
Tatapannya menelusuri wajah cucunya itu, seolah sedang menilai sebuah keputusan yang keliru.
“Di mana dia?” tanyanya dingin.
“Dia siapa?” balas Leon ketus, rahangnya mengeras.
“Istrimu. Diandra.”
Nada Oma tak berubah. “Apakah dia sudah hamil?”
Leon menegang. Untuk sesaat, sorot matanya memperlihatkan kebingungan—atau mungkin kewaspadaan.
“Kenapa Oma menanyakan itu?” suaranya turun satu tingkat, berbahaya.
Oma mengangkat dagunya sedikit.
“Aku sudah memutuskan,” ucapnya tegas, setiap kata ditekan jelas.
“Sebelum Diandra melahirkan seorang anak, warisan itu tidak akan jatuh ke tanganmu.”
Suasana seketika membeku.
Bahkan udara terasa berat untuk dihirup.
Leon mengepalkan tangan di samping tubuhnya. Otot rahangnya bergerak, menahan amarah yang hampir meledak.
Di sudut ruangan, Aurora tersenyum tipis. Matanya tertuju pada kepalan tangan Leon, menikmati retakan kecil dalam ketenangan pria itu.
Oma sama sekali tidak memedulikannya.
“Diandra!” panggilnya lantang, suaranya menggema memenuhi ruangan.
Ia menoleh pada pelayan yang berdiri gemetar di dekat tangga.
“Panggil cucu menantuku. Sekarang.”
Perintah itu tidak memberi ruang untuk ditolak.
Dan untuk pertama kalinya, Leon merasa situasi benar-benar lepas dari kendalinya.
Pintu lift terbuka perlahan.
Diandra melangkah keluar, langkahnya anggun namun sederhana. Begitu melihat sosok Oma berdiri di ruang tengah, ia sedikit terkejut, tapi segera menenangkan diri.
Ia mendekat tanpa ragu, lalu membungkuk hormat dan mencium punggung tangan Oma.
“Oma.”
Tak ada senyum yang dibalas.
“Ikut aku!” perintah Oma tanpa basa-basi.
Diandra mengangkat wajahnya, bingung. “Ikut… ke mana, Oma?”
“Ya. Sekarang.”
Nada itu tidak memberi pilihan.
Diandra refleks menoleh ke arah Leon, mencari penjelasan. Sorot matanya penuh tanda tanya.
Namun sebelum Leon sempat membuka suara, Oma sudah lebih dulu memotong.
“Tidak perlu izin darinya,” ucapnya tajam. “Atau kau ingin suamimu itu benar-benar jadi pelayan di rumah ini?”
Ucapan itu menghantam seperti tamparan.
Leon mengepalkan tangan lebih kuat. Urat di pelipisnya menegang. Harga dirinya terasa diinjak di depan semua orang, tapi untuk pertama kalinya… ia tak bisa membantah.
“Ikut!” tekan Oma sekali lagi.
Ruangan sunyi.
Diandra menelan ludah. Perlahan ia mengangguk.
“Baik, Oma.”
Tanpa berkata apa-apa lagi, ia melangkah mengikuti wanita tua itu.
Dan di belakang mereka, Leon hanya bisa berdiri diam — marah, terhina, dan untuk kali ini benar-benar merasa benar-benar tak berdaya.
Dan Diandra ikut naik ke mobil meskipun ia tak tahu kemana mereka akan pergi.
Bahkan ia semakin bingung ketika kurang lebih satu kilometer dari mansion mobil kembali menepi.
“Aku tidak akan berbasa-basi, sekarang kau punya pilihan. Masuk penjara atau ikut pada perintahku!” ucap Oma tiba-tiba.
Diandra menatap bingung, penuh tanya.
“Maksudnya bagaimana, Oma,” Tanya Diandra ragu.
Oma pun meliriknya.
“Aku tahu pernikahanmu dan Leon pura-pura!”
Diandra seketika menegang.
Jantungnya berdebar dan apakah ini akhir dari segalanya?
Apakah ia akan dilempar keluar dari rumah Leon.
Hidup diluar sana sangat mengancamnya.
“Aku juga bisa menjebloskan kalian kepenjara, kalau aku mau!” tambah Oma.
Diandra pun semakin ketakukan, kenapa hidupnya semakin hancur, masalah semakin rumit.
“Tapi aku punya penawaran untukmu!”
Diandra yang semula menunduk pun menoleh.
“Kalau kau bisa menggoda Leon kau akan selamat!”
Ya ampun, ucapan Oma seperti vonis.
“Aku juga punya bukti rekaman siapa yang membunuh kedua orang tua mu!” kata Oma lagi.
Kali ini Diandra benar-benar terperangah, Oma bisa mengatakan hal demikian.
Kemudian sebuah laptop pun dihadapkan padanya.
Dua video mulai diputar bersamaan.
Terlihat seseorang masuk ke ruang rawat kedua orang tuanya setelah mengalami kecelakaan, kemudian menyuntikkan sesuatu ke dalam infus.
Kedua orang tuanya kejang-kejang lalu meninggal.
Kemudian orang itu membuka maskernya dan tersenyum.
Rima dan Beno
Lalu berpura-pura berteriak memanggil dokter.
Laptop pun ditutup.
Diandra menatap Oma seolah bingung.
Tapi satu hal yang ia sadari, kekuasaan Oma begitu hebat.
Oma tersenyum padanya, tapi senyuman itu cukup untuk mengintimidasi Diandra.
“Pilihan ada padamu, bekerja sama denganku, atau kau yang aku penjarakan!” ucap Oma dingin dan penuh ancaman.
Diandra mengusap air matanya, melihat betapa sadisnya Tante dan Omnya melakukan itu.
“Oma, waktu itu—”
“Aku tau semuanya tidak perlu dijelaskan bagaimana kalian bisa menjalin kerja sama!” Potong Oma cepat.
Kedua tangan Diandra saling meremas, takut, bingung dan was-was.
“Aku tau, tau semuanya,” Tegasnya lagi, “Bagaimana kau setuju?” tanya Oma menunggu jawaban.
Diandra mengangguk cepat dendamnya harus dibalaskan ia tak bisa membiarkan Rima dan Beno hidup tenang.
“Diandra setuju, Oma,” jawabnya yakin.
“Bagus,” Oma tersenyum puas.
Untuk sesaat suasana terlihat sangat tegang, tapi wajahnya penuh dendam.
“Goda Leon sampai berpaling dari Hilda!”
“Tapi—”
“Tidak, aku tidak percaya dia mengandung anak Leon!”
Diandra pun terperangah mendengarnya.
Namun kini ia tahu satu pasti, Oma bukan orang sembarangan.
“Dan, ingat Diandra jika kamu tidak berhasil. Aku akan menghancurkan bukti pembunuh kedua orang tuamu!”
Diandra pun meneguk saliva, Oma benar-benar menuntutnya bekerja dengan sempurna.
“Jangan, Oma. Diandra nggak bisa membiarkan orang jahat berkeliaran!” Ucap Diandra penuh dendam.
“Bagus, senang bekerja sama dengan mu. Dan, ambil!” Oma memberikan ponsel baru.
Diandra bingung dan menatap ponsel tersebut, ia seperti mengenalinya.
Mata Diandra melebar dengan mulut terperangah, itu ponselnya.
“Oma?”
“Tidak perlu bertanya. Aku bisa melakukan apapun, kau tahu itu dan sekali saja kau mempermainkan aku, kau akan habis!”
Diandra semakin takut, tapi posisinya sekarang sangat mengerikan, berkeliaran di luar sana ada Tantenya yang memburunya.
Tinggal bersama Leon ada Hilda, bekerja sama dengan Oma juga punya resiko.
Ternyata masuk dihidup Leon tak kalah mengerikan.
Tapi tak ada jalan mundur.
“Kau harus hamil!”
“A-apa? Ha-hamil?”
“Kalau tidak, bukti lenyap, —”
“Jangan, Oma,”
“Diandra setuju.”
“Bagus!”