Diandra turun dari mobil dengan langkah pelan, isi kepalanya dipenuhi dengan rencana.
Detik ini ia sudah bertekad bulat—tidak ada drama, tidak ada panik, fokus untuk menjalankan rencana Oma agar Tantenya bisa benar-benar masuk penjara.
Ia bahkan sempat berbisik pada diri sendiri, “Tenang, Diandra. Lebih menguntungkan bekerjasama dengan Oma daripada Leon, lagipula jika kamu tidak mau bekerjasama dengan Oma kamu bisa habis.”
Baru saja ia menjejakkan kaki di depan pintu utama, suara datar tiba-tiba muncul dari sampingnya.
“Oma bilang apa?”
Diandra refleks meloncat kecil. Hampir saja ponselnya terlepas dari genggaman.
“Ya ampun, Leon!” pekiknya sambil menepuk d**a. “Kamu ini manusia atau makhluk astral sih? Munculnya nggak pernah pakai aba-aba!”
Leon berdiri dengan wajah setenang permukaan danau tanpa angin.
Tatapannya lurus, ekspresinya dingin, seolah keterkejutan Diandra hanyalah gangguan teknis yang tidak penting.
“Apa yang kamu bicarakan dengan Oma?” tanyanya lagi, suaranya rendah dan serius.
Diandra memutar bola mata, lalu tiba-tiba menyeringai.
Ia melangkah mendekat dengan gaya sok misterius, lalu berjinjit—meski tingginya sebenarnya sudah cukup—dan mencondongkan wajahnya ke arah Leon, terlalu dekat untuk ukuran percakapan normal.
Leon hanya mengangkat sebelah alisnya. Tidak mundur. Tidak bereaksi. Hanya menatapnya dengan ekspresi datar yang nyaris menyebalkan.
Diandra berbisik dramatis, seolah sedang menawarkan rahasia negara.
“Mau tahu aja… atau mau tahu banget?”
Ekspresi Leon tetap tidak berubah.
Dan entah kenapa, itu justru membuat Diandra semakin ingin mengganggunya.
Leon menatapnya tanpa berkedip.
“Ada bedanya?”
Diandra langsung menurunkan tumitnya kembali ke lantai, pura-pura tersinggung. “Ya jelas beda, Tuan Es Batu. Kalau mau tahu aja, jawabannya standar. Kalau mau tahu banget…” Ia menyipitkan mata, lalu menunjuk d**a Leon pelan. “Ada biaya administrasinya.”
Leon menghela napas tipis. “Diandra.”
Nada itu. Nada peringatan. Datar, rendah, dan terlalu serius untuk ukuran dunia yang jelas-jelas butuh sedikit hiburan.
Diandra menahan senyum. “Oke, oke. Jangan pasang wajah sidang skripsi begitu. Oma cuma bilang supaya aku nurut sama kamu.”
“Dan?”
“Dan,” Diandra mengangkat bahu, “aku bilang aku anak baik-baik. Tentu saja aku akan nurut.” Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan suara lebih pelan, “Nurut… sampai aku dapat apa yang aku mau.”
Tatapan Leon berubah sedikit. Bukan lebih hangat, tapi lebih tajam.
“Apa yang kamu mau?”
Diandra pura-pura melihat langit-langit.
“Keuntungan diantara kita berdua, Tuan Pewaris. Keuntungan kecil,” Ia membuat lingkaran kecil dengan ibu jari dan telunjuknya.
“Kecil banget.”
“Diandra.”
“Kenapa sih semua orang memanggil namaku dengan nada interogasi?” gerutunya. Lalu ia mendekat lagi, kali ini tanpa bercanda.
“Hey, jangan dekat-dekat dengan suamiku!”
Diandra menoleh, Hilda berdiri tak jauh disana.
Suami?
Astaga, Diandra juga istrinya.
“Adik madu, panggil aku Kakak,” kata Diandra konyol lalu melenggang pergi.
Hilda mengepalkan tangannya dan menghentakkan kakinya kesal.
“Babe, jangan seperti itu,” Leon panik karena gerakan Hilda sepertinya sangat beresiko.
“Kapan sih dia itu pergi dari hidup kita? Aku pengen kita berdua aja dalam rumah tangga kita ini,” ungkap Hilda kesal.
“Babe, sabar. Semua ada waktunya. Kecuali kamu mau hidup miskin.”
“Miskin? Engga, aku nggak mau.”
“Ya udah kamu tenang dong, lagian aku nggak mungkin bisa berpindah hati ke wanita lain.”
Hening beberapa detik, tapi Hilda tau apa yang dikatakan oleh Leon benar.
Buktinya bertahun-tahun mereka memiliki hubungan, meskipun kadang keadaan berjauhan tapi Leon tak pernah berpaling darinya.
“Iya, aku percaya.”
*
Diandra melemparkan tubuhnya ke atas ranjang, kasur empuk itu memantul pelan menahan berat tubuh dan kepalanya yang penuh pikiran.
Ia meraih ponselnya—benda yang terasa seperti milik orang lain setelah sekian lama terpisah darinya.
Ia menatap layar itu beberapa detik.
Bagaimana bisa Oma mendapatkannya?
Perlahan, rasa dingin merayap di tengkuknya.
Jika ponsel saja bisa berpindah tangan tanpa ia tahu, lalu apa lagi yang bisa mereka lakukan?
Seberapa jauh pengaruh dan kendali Oma sebenarnya?
Diandra menelan ludah.
Ia tahu betul, keluarga itu bukan tipe yang main-main.
Jika dianggap mengancam, bukan tidak mungkin ia yang justru akan dijebloskan ke penjara lebih dulu.
Bukti bisa diputarbalikkan. Cerita bisa direkayasa. Nama baik bisa dihancurkan dalam semalam.
Lalu bagaimana caranya ia mendapatkan bukti yang cukup kuat untuk menuntut keadilan bagi kedua orang tuanya?
Tatapannya mengeras.
Apa pun risikonya, Tantenya harus masuk penjara.
Tiba-tiba—
Ting.
Suara notifikasi memecah sunyi kamar. Layar ponselnya menyala terang. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab memenuhi layar. Ia mengerutkan kening.
Sebagian besar dari pasien-pasiennya.
Diandra menghela napas panjang. Di tengah kekacauan hidupnya, dunia luar rupanya tetap berjalan seperti biasa.
Ada orang-orang yang menunggunya, yang membutuhkannya, yang tidak tahu bahwa hidupnya sendiri sedang berada di ujung jurang.
Ia memijat pelipisnya pelan.
Balas satu per satu… atau lanjut menyusun rencana balas dendam?
Ting.
Satu pesan lagi masuk.
Diandra membukanya.
Nomor tidak dikenal.
“Ingat Diandra Aprilia, jangan mengulur waktu karena ucapaku tidak main-main!”
Diandra menegang seketika, jarinya sempat membuka poto profil pengirim.
“Oma?”
“Hey!”
Suara itu langsung membuat dahi Diandra berkerut. Ia bahkan belum sempat memejamkan mata sejak tadi.
Dengan malas ia menoleh ke arah pintu.
“Pasti ucapan tidak penting,” gumamnya pelan.
Benar saja. Hilda masuk tanpa mengetuk, tanpa permisi—seolah rumah itu berdiri di atas namanya sendiri.
Diandra mendesah pelan. “Tidak suaminya, tidak istrinya… sama saja.”
Lalu ia tersadar. Ia juga istri Leon sekarang.
“Tidak termasuk aku,” ralatnya cepat, lalu menatap Hilda dengan ekspresi malas.
Hilda berdiri tegak dengan dagu terangkat tinggi. “Hey, ingat ya. Posisi nyonya di rumah ini hanya aku yang pantas. Kamu cuma orang lain!”
“Hem…” sahut Diandra datar, bahkan tak repot-repot duduk tegak.
“Karena tidak ada yang gratis di dunia ini, sekarang kamu masak untukku!”
Diandra langsung menoleh penuh dramatik.
“Apa? Mansion segede ini nggak ada pembantu? Apa suamimu jatuh miskin? Masih mampu bayar ART, kan?”
“Beraninya kamu bicara seperti itu padaku?!” bentak Hilda.
Diandra menggaruk kepalanya pelan. Jujur saja, ia lelah. Entah kesalahan apa yang ia lakukan sampai perempuan itu begitu memusuhinya tanpa sebab jelas.
“Cepat!” perintah Hilda lagi.
“Baiklah…” jawab Diandra malas. Ia berdiri perlahan, lalu menambahkan santai, “Marah-marah nggak baik untuk ibu hamil. Tekanan darah naik nanti. Dikurangi, ya.”
“Beraninya kamu menasihati aku!”
Dalam sekejap Hilda mendekat dan menarik rambut Diandra kasar.
“Lepas!” seru Diandra, menahan sakit.
“Ingat! Jangan sok jadi nyonya!”
Hilda menghempaskannya begitu saja. Diandra terdorong mundur. Bukan ia tak mampu membalas—tapi akalnya masih waras.
Ia tidak ingin janin dalam kandungan Hilda yang jadi taruhan hanya karena emosi sesaat.
Namun Hilda tampaknya tak memikirkan itu. Ia justru tampak semakin puas.
Jari telunjuknya menunjuk tepat ke wajah Diandra.
“Leon tidak akan pernah jatuh hati pada wanita mana pun. Kalau kamu berani menggodanya pun, dia tidak akan tertarik pada barang rongsokan sepertimu!”
Diandra perlahan menaikkan sebelah alisnya.
“Kamu nantangin aku?” tanyanya dengan senyum tipis—senyum yang lebih nakal daripada marah.
“Bagus kalau kamu tahu,” balas Hilda penuh kemenangan. Ia yakin sepenuhnya. Leon terlalu takut kehilangan dirinya.
“Sadarkan posisimu?”
Diandra berdiri tegak, merapikan rambutnya yang tadi ditarik. Wajahnya kembali santai, bahkan terlalu santai.
“Baiklah,” ucapnya ringan. “Kita lihat nanti.”
Ia melangkah ke arah pintu, membukanya lebar-lebar. “Keluar.”
Hilda membelalakkan mata, tak percaya Diandra berani mengusirnya.
Diandra tersenyum tipis.
“Aku istri tua, kamu istri muda,” katanya santai. “Dan setahuku, istri muda itu adik dari istri tua. Jadi… nurut ya sama kakak madu.”
Wajah Hilda memerah padam, rahangnya mengeras menahan amarah yang nyaris meluap.
Ia menatap Diandra dengan sorot mata tajam, seolah ingin mengatakan banyak hal, tetapi tak satu pun keluar dari bibirnya.
Dengan gerakan kasar ia membalikkan tubuhnya, langkahnya menghentak lantai, sepatu haknya berbunyi keras sepanjang lorong.
Pintu kamar didorongnya lebih kuat dari yang diperlukan sebelum akhirnya sosoknya menghilang di balik dinding, meninggalkan udara yang masih dipenuhi sisa emosinya.
Di dalam kamar, suasana kembali sunyi.
Diandra berdiri diam beberapa detik, memastikan benar-benar tidak ada lagi suara langkah yang mendekat.
Setelah yakin Hilda telah pergi, ia mengembuskan napas panjang dan menutup pintu perlahan, seolah menutup satu bab kecil dari pertarungan yang belum benar-benar selesai.