Latihan Jadi Pelakor

1331 Words
Diandra bingung harus mulai dari mana. Sejak tadi ia mondar-mandir di dalam kamar seperti setrika rusak yang tak punya arah. Kepalanya penuh rencana, tapi tak satu pun terasa matang. Tok. Tok. Tok. Ia berhenti dan melirik ke arah pintu. “Itu pasti bukan Hilda atau Leon,” gumamnya pelan. “Mereka nggak mungkin serajin ini sampai mengetuk. Terlalu sopan.” Benar saja. Saat pintu dibuka, seorang gadis berseragam pelayan berdiri di sana dengan beberapa paperbag di tangannya. “Nyonya, ini dari nyonya besar.” “Nyonya besar?” Diandra mengernyit. “Oma… maksud saya, Oma,” ralat pelayan itu cepat. “Oh…” Diandra mengangguk setengah mengantuk sambil membiarkan pelayan itu masuk dan meletakkan paperbag di sofa. “Baiklah. Terima kasih.” “Saya permisi, Nyonya.” “Tunggu.” Diandra mengangkat tangan. “Namamu siapa?” “Rita, Nyonya.” “Rita, nggak usah panggil aku Nyonya. Kedengarannya tua sekali. Diandra saja.” Ia menunjuk sofa. “Duduk sini dulu. Temani aku. Karena semenjak hidupku penuh kesedihan aku udah nggak punya teman.” Rita terlihat ragu, tapi akhirnya mengangguk dan duduk di ujung sofa. “Rita, di mana Roma?” “Hah?” Rita tampak bingung. “Oh, bukan. Itu Rika.” Diandra mengibaskan tangan sembarangan. “Sudahlah.” Ia mulai membuka paperbag satu per satu. Isinya pakaian—gaun, atasan, rok—semuanya dengan potongan yang lebih berani dari biasanya. Diandra menyipitkan mata. “Oma benar-benar mau aku jadi pelakor, ya…” gumamnya. Matanya kemudian tertuju pada satu paperbag terakhir yang belum dibuka. Ia menariknya pelan dan menemukan sepasang sepatu hak tinggi di dalamnya. Ia mencobanya. “Ukurannya pas,” bisiknya, terkejut. “Astaga, ukuran sepatu saja Oma tahu? Jadi makin merinding.” Diandra menjatuhkan diri ke sofa, menatap kosong ke depan sambil mengayun-ayunkan kakinya yang kini memakai heels itu. “Rita,” panggilnya tiba-tiba. “Kamu tahu cara jadi pelakor nggak?” Rita langsung menoleh dengan wajah panik. “Hah?!” “Kalau tahu, kasih tahu aku.” Rita menggeleng cepat, jelas tidak ingin terlibat dalam percakapan berbahaya semacam itu. Beberapa detik kemudian, mata Diandra tiba-tiba berbinar seperti menemukan ide brilian. “Aku lihat di Google saja,” katanya mantap. Rita hanya bisa menatapnya makin bingung, bertanya-tanya dalam hati sebenarnya ia sedang bekerja di rumah seperti apa. Majikannya ini agak aneh. Rita pun bangkit, “Nyonya, saya permisi.” “Eh, mau kemana? Kamu disini aja, temenin aku. Tapi,” Diandra menatap serius, “jaga rahasia.” “Baik, Nyonya.” Diandra pun tersenyum puas. Satu menit, dua menit hening, Rita masih berdiri canggung ketika Diandra benar-benar membuka mesin pencari di ponselnya. Ia mengetik dengan wajah serius: “cara jadi pelakor elegan dan tidak terlihat murahan.” Rita membelalakkan mata. “N—Nona Diandra…” “Shh, ini riset,” jawab Diandra khusyuk. Beberapa artikel muncul. “Jangan terlalu agresif.” “Buat pria merasa dibutuhkan.” “Tampil misterius.” “Gunakan parfum lembut.” Diandra mengangguk-angguk seperti mahasiswa yang sedang mencatat materi penting. “Tapi aku nggak punya parfum, astaga miskin sekali aku sekarang. Mulai besok aku harus balik kerja kalau begini,” Gumamnya. Lalu ia kembali mikirkan sesuatu. “Oke. Jadi aku harus misterius.” Ia langsung berdiri, mengambil salah satu gaun kiriman Oma, lalu bersembunyi di balik tirai jendela. Rita makin bingung. “Nona, itu ngapain?” “Aku lagi misterius.” Belum sempat Rita menjawab, pintu kamar terbuka. Leon. Ia berhenti di ambang pintu, menatap ke dalam kamar dengan ekspresi datar seperti biasa. Diandra yang bersembunyi di balik tirai menyadari kehadirannya. Ia menarik napas terlebih dahulu. “Pucuk dicinta, ulan pun tiba.” Lalu ia melangkah keluar perlahan dengan gerakan yang menurutnya dramatis. Leon mengernyit. “Kamu kenapa?” Diandra menurunkan suara satu tingkat lebih rendah dari biasanya. “Aku… hanya lewat.” “Kita di kamarmu.” “Oh.” Hening. Rita menunduk, berusaha tak tertawa. Diandra cepat-cepat membuka ponsel lagi, membaca poin berikutnya. Buat pria merasa dibutuhkan. Ia menegakkan bahu, lalu mendekati Leon. “Leon… kamu kelihatan capek.” Leon menatapnya curiga. “Aku memang capek. Aku mau bicara denganmu tentang tadi siang, tentang Oma.” “Aku bisa… membantu.” Ia mengedipkan sebelah mata—tapi terlalu keras sampai wajahnya ikut berkedut. Leon semakin heran. “Kamu sakit?” Rita kini benar-benar menahan napas. Diandra panik. Ia membuka lagi daftar tipsnya. Sentuhan ringan dapat menciptakan koneksi. Dengan penuh perhitungan—yang sebenarnya tidak terlalu terhitung—ia menyentuh lengan Leon. Masalahnya, ia salah langkah dan malah menginjak heels barunya sendiri. “Ah!” Tubuhnya oleng. Refleks, Leon menahannya sebelum jatuh. Sekarang posisi mereka terlalu dekat. Diandra terdiam. Jantungnya berdetak lebih cepat—entah karena hampir jatuh atau karena jaraknya yang terlalu rapat. Leon menatapnya lurus. “Kamu benar-benar aneh hari ini.” Diandra mencoba tetap anggun meski sebelah kakinya masih gemetar. “Aku nggak aneh,” katanya, berusaha terdengar misterius. “Aku hanya… berkembang.” “Berkembang ke arah mana? Berkembang biak?” Ia terdiam dua detik. “Ke arah yang… strategis.” Leon menghela napas panjang, lalu melepaskannya perlahan. “Kalau kamu sudah depresi berat, katakan saja.” Kalimat itu membuat Diandra membeku sepersekian detik. Rita menatap mereka bergantian. “Kurang ajar ya kamu!” “Lalu kenapa gila?” Diandra cepat-cepat tersenyum lebar, kembali ke mode santai. “Aku cuma latihan jalan pakai heels. Nggak boleh?” Leon menatap sepatu barunya, lalu wajahnya lagi. “Hati-hati. Kamu bukan tipe yang cocok pakai itu.” Diandra tersinggung. “Maksudnya?” “Kamu lebih cocok pakai sepatu lari.” Dan ia keluar begitu saja. Hening beberapa detik. Rita akhirnya berani bersuara pelan, “Nyonya… itu berhasil atau gagal?” Diandra menjatuhkan diri ke sofa. “Gagal elegan,” gumamnya. “Tapi minimal dia nangkap aku sebelum jatuh.” Ia menatap heels di kakinya. “Mungkin jadi pelakor memang butuh pelatihan khusus.” Rita terkejut mendengarnya. “Kamu tahu tempat khusus jadi pelakor?” tanya Diandra dengan wajah serius seperti sedang menanyakan alamat kursus bahasa asing. Kali ini Rita bukan lagi terkejut biasa. Jantungnya hampir copot. “Hah?!” “Pasti kamu nggak tahu,” lanjut Diandra sambil menghela napas kecewa. “Nanti kamu cari tahu ya.” Rita makin panik. “Memangnya ada, Nyonya? Bukannya… jadi pelakor itu sudah skill?” Diandra terdiam. “Skill?” ulangnya pelan. “Iya… maksud saya, itu kan bukan sesuatu yang dipelajari di tempat khusus,” jelas Rita hati-hati, takut salah bicara. Diandra tiba-tiba mengangguk-angguk seperti mendapat pencerahan besar. “Iya juga, ya?” katanya serius. “Berarti aku harus mendalami skill ini biar bisa jadi pelakor elegan.” Rita menatapnya tak percaya. “Nona serius?” “Sangat.” Diandra berdiri dan mulai mondar-mandir lagi. “Aku nggak bisa asal jadi. Harus beda. Harus berkelas. Kalau mau mengganggu rumah tangga orang, minimal estetik.” Rita menelan ludah. “Tapi… itu rumah tangga Nona sendiri…” Diandra berhenti mendadak. “Oh iya.” Hening dua detik. “Berarti aku bukan pelakor,” katanya sambil menunjuk diri sendiri. “Aku ini istri sah.” Rita mengangguk cepat, lega karena akhirnya ada logika yang kembali. “Tapi…” Diandra menyipitkan mata. “Istri sah yang posisinya kayak tamu tak diundang. Jadi secara teknis aku ini pelakor versi resmi.” Rita benar-benar tidak tahu harus menanggapi bagaimana. Diandra lalu menjatuhkan diri ke sofa lagi, wajahnya menatap langit-langit. “Rita.” “Iya, Nona?” “Menurut kamu, Leon tipe yang suka wanita seperti apa?” Rita langsung tegang lagi. “Saya tidak tahu, Nona…” Diandra mendesah panjang. “Masalahnya dia dingin sekali. Aku sudah coba misterius, hasilnya aku terlihat seperti orang hilang arah.” Rita hampir tersenyum, tapi buru-buru menahan. “Yaudah, sekarang aku mau tidur dulu biar pikiran lebih baik. Kamu juga istirahat sana besok pagi temui aku lagi, kamu harus bantu aku!” “Saya permisi dulu Nona.” “Biasa aja, santai aja ngomong sama aku, panggil Diandra, nggak usah Nyonya atau Nona.” “Baik, aku permisi.” “Iya.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD