Diandra berdiri di depan cermin dengan ekspresi serius seperti hendak menghadiri sidang penting. Gaun pilihannya kali ini jauh lebih berani dari biasanya—potongan rendah yang menampakkan belahan dadanya dengan percaya diri, belahan samping yang memperlihatkan kaki mulusnya setiap kali ia melangkah.
“Heels dari Oma memang nggak pernah gagal,” gumamnya sambil mengangkat sedikit kakinya, mengagumi sepatu tinggi itu. Tingginya cukup ekstrem, tapi Diandra sudah terbiasa. Alih-alih goyah, ia justru terlihat semakin elegan.
Rita yang berdiri di belakangnya menatap cemas.
“Nona yakin?”
Diandra menoleh pelan, satu alis terangkat. “Hari pertama. Harus totalitas.”
“Tapi ini kan rumah sendiri…”
“Justru itu.” Diandra tersenyum tipis. “Kalau aku bisa terlihat seperti ini tanpa harus keluar rumah, itu namanya dedikasi.”
Ia menyemprotkan parfum secukupnya, merapikan rambutnya yang tergerai, lalu mengambil napas dalam.
“Target hari ini?” tanya Rita, setengah pasrah.
“Muncul. Duduk manis. Terlihat mematikan.”
“Mematikan?”
“Secara visual,” koreksi Diandra cepat.
Langkahnya terdengar mantap menyusuri koridor menuju ruang makan. Setiap langkah heels-nya berdetak tegas di lantai marmer, seperti pengumuman kedatangan yang tidak bisa diabaikan.
Leon sudah duduk di meja, membaca sesuatu di tablet-nya. Wajahnya datar seperti biasa.
Diandra berhenti sejenak di ambang pintu, mengatur pose. Bahu tegak. Dagu sedikit terangkat. Senyum tipis penuh arti.
Ia melangkah masuk.
Leon tidak langsung mendongak.
Diandra menarik kursi dengan gerakan pelan, sengaja membuat suara gesekan yang cukup untuk menarik perhatian.
Barulah Leon menoleh.
Tatapan mereka bertemu.
Satu detik.
Dua detik.
Leon berkedip sekali, lalu menatapnya dari ujung kepala hingga kaki—tanpa ekspresi berlebihan.
“Kamu mau ke mana?” tanyanya akhirnya, tenang.
Diandra sempat kehilangan satu detik kepercayaan diri. “Ke mana?”
“Iya. Pakaiannya seperti mau menghadiri gala.”
Oh.
Diandra tersenyum tipis, kembali menguasai diri. “Tidak ke mana-mana. Cuma sarapan.”
Leon mengangguk pelan. “Sarapan.”
Ia kembali menatap tablet-nya.
Hening.
Diandra menunggu komentar lanjutan. Tidak ada.
Ia menyilangkan kaki perlahan, memastikan belahan gaunnya bergerak elegan. Masih tidak ada reaksi berarti.
Leon tiba-tiba berbicara lagi tanpa menoleh.
“AC-nya dingin. Kamu tidak kedinginan?”
Kalimat itu seperti jarum kecil yang menusuk balon dramatis Diandra.
Ia tersenyum kaku. “Nggak.”
Leon akhirnya menatapnya lagi, kali ini lebih lama.
Tapi saat Hilda datang, semuanya berubah.
Fokus Leon yang tadi sempat mengarah padanya kini beralih sepenuhnya pada Hilda.
Cemburu?
Tidak.
Diandra menolak menyebut perasaan itu dengan kata selemah itu. Ia hanya sedang menjalankan misi. Dan kalau perlu, ia akan menganggap Hilda sebagai tantangan.
“Ngapain kamu duduk di sini?” tanya Hilda sinis begitu mendekat.
Astaga.
Diandra benar-benar tidak pernah merasakan sarapan pagi dengan tenang. Setiap kali Hilda muncul, suasana selalu berubah menjadi medan perang kecil yang melelahkan.
Ia menoleh santai. “Ini meja makan. Kamu tahu fungsi duduk di meja makan? Untuk makan.”
“Hey!” Hilda meninggikan suara, kesal karena Diandra tidak pernah gentar atau menunjukkan rasa takut sedikit pun.
Padahal awalnya ia mengira Diandra akan menjadi istri penurut—diam, mudah ditekan, mudah disingkirkan.
Ternyata salah besar.
Diandra berdiri perlahan, merapikan gaunnya dengan gerakan anggun. “Merusak pagi saja,” gumamnya dingin.
Tatapannya sempat beradu dengan Hilda—tenang, tapi jelas tidak mau kalah.
“Honey…” Hilda kesal dan terlihat manja.
“Babe, sudahlah…”
*
Diandra kembali ke kamar dengan langkah cepat dan napas berat. Begitu pintu tertutup, ia langsung melemparkan tubuhnya ke atas sofa empuk di dekat jendela.
“Heels sialan…” gumamnya pelan, menendang sepatu tinggi itu hingga terlepas.
Rita berdiri di sudut ruangan, setia seperti bayangan, tapi cukup bijak untuk tidak langsung bicara.
“Gagal,” kata Diandra akhirnya, suaranya tak bersemangat. “Hari pertama. Sudah gagal.”
Rita membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia tahu, saat seperti ini lebih baik menunggu daripada memberi nasihat yang tidak diminta.
Ting.
Suara notifikasi memecah keheningan.
Diandra meraih ponselnya dengan malas. Satu pesan masuk.
Oma: Jangan membuang-buang waktu.
Kalimat singkat. Tajam. Tanpa emoji, tanpa basa-basi.
Diandra menutup mata.
Ia ingin berteriak sekeras-kerasnya. Ingin melempar ponsel itu ke dinding. Ingin berhenti sejenak dari semua tekanan yang terasa seperti tangan tak terlihat yang terus mendorongnya dari belakang.
“Bagaimana caranya…” gumamnya lirih. “Bagaimana caranya aku menjalankan rencana ini kalau setiap langkah rasanya salah?”
Rita akhirnya memberanikan diri mendekat.
“Nona tidak salah.”
Diandra tertawa kecil, hambar. “Leon tidak melihatku seperti dia melihat Hilda.”
“Itu bukan berarti Nona kalah.”
Diandra bangkit duduk, menatap kosong ke depan. “Oma pikir semuanya semudah mengganti gaun dan tersenyum manis. Seolah-olah perasaan orang bisa ditarik seperti resleting.”
Rita terdiam.
“Beliau terus mendesak,” lanjut Diandra. “Seakan aku punya batas waktu. Seakan kalau aku gagal… aku benar-benar tidak punya tempat lagi.”
Nada suaranya berubah. Bukan lagi kesal, tapi lelah.
Rita perlahan duduk di kursi seberangnya. “Nona menjalankan ini bukan cuma karena Oma, kan?”
Diandra tidak langsung menjawab.
Hening beberapa detik.
“Aku tidak mau kalah,” katanya akhirnya pelan. “Bukan dari Hilda. Bukan dari keadaan. Dan… bukan dari diriku sendiri.”
Ponselnya masih tergenggam erat.
Pesan Oma terasa seperti pengingat bahwa ini bukan sekadar drama rumah tangga. Ada sesuatu yang lebih besar di balik semua ini. Sesuatu yang menuntut hasil.
Diandra berdiri tiba-tiba.
“Oke,” katanya, kali ini lebih tegas. “Kalau cara elegan tidak berhasil… kita ganti strategi.”
Rita langsung waspada. “Strategi apa, Nona?”
Diandra menatap pantulan dirinya di cermin. Rambut sedikit berantakan, riasan masih sempurna, tapi matanya menyimpan api berbeda.
“Aku tidak akan mengejar perhatian.”
Rita berkedip.
“Aku akan membuatnya datang sendiri.”
“Caranya?” tanya Rita penasaran.
“Belum tau…”
Rita menarik nafas.
"Yang pasti, aku resmi jadi Pelakor!" ucapnya yakin.
Ponselnya kembali berdering.
Nama yang muncul di layar membuat ekspresi Diandra berubah seketika.
Kemal.
Dengan penuh semangat ia langsung mengangkatnya.
“Halo, Kemal.”
“Kamu di mana? Sejak hari itu kita nggak pernah ketemu lagi. Aku kangen kamu.”
Suara di seberang sana terdengar hangat. Tulus. Tanpa nada perhitungan.
Hati Diandra langsung berbunga-bunga. Kesedihannya beberapa menit lalu seperti tidak pernah ada.
“Aku di rumah,” jawabnya lebih lembut dari biasanya.
“Kamu nggak masuk kerja terus. Pasien kamu gimana?” tanya Kemal.
Diandra tersenyum kecil. Ada rasa bersalah yang tipis, tapi tertutup oleh rasa senang karena diperhatikan.
“Aku hari ini mau ke rumah sakit,” katanya cepat. “Tapi… kamu bisa jemput aku nggak?”
“Bisa.”
Jawaban itu datang tanpa ragu.
“Kirim alamatnya.”
“Oke.”
Diandra menutup telepon dengan senyum yang sulit disembunyikan. Jarinya lincah mengetik alamat, lalu mengirimkannya.
Seolah mendapat suntikan energi besar, ia berdiri dengan langkah ringan. Wajahnya kembali bercahaya.
Ia meraih tas kecilnya—yang juga pemberian Oma—tanpa ragu.
“Nona… Anda mau ke mana?” tanya Rita bingung melihat perubahan suasana hati Diandra yang bisa berbalik hanya dalam hitungan detik.
Diandra menoleh dengan mata berbinar.
“Aku kangen pekerjaanku,” katanya santai. “Jadi aku mau ke rumah sakit.”
Rita mengerutkan kening. “Tapi tadi Nona bilang—”
“Rencana tetap jalan, aku sekarang adalah pelakor,” potong Diandra ringan. “Tapi hidupku bukan cuma tentang Leon dan Hilda.”
Ada nada berbeda dalam suaranya sekarang. Lebih hidup. Lebih menjadi dirinya sendiri.
Ia melangkah keluar kamar dengan percaya diri.
Tanpa ia sadari, dari ujung koridor, seseorang berdiri memperhatikan.
Leon.
Tatapannya mengikuti langkah Diandra yang terasa… berbeda hari ini.