Sebuah mobil hitam terparkir rapi di depan pagar mansion megah milik Leon.
Diandra tahu persis mobil itu. Ia hafal bentuknya. Hafal suara mesinnya.
Kemal.
Mantan kekasih yang tidak pernah benar-benar ia benci.
Perpisahan mereka dulu bukan karena pengkhianatan. Bukan karena kurang cinta. Justru sebaliknya—terlalu banyak cinta, tapi tak cukup keberanian untuk melawan keadaan. Diandra memilih menerima perjodohan dari tantenya. Kemal menghargai keputusan itu. Lalu pernikahan itu gagal… sebelum benar-benar dimulai.
Dan hidup Diandra justru menjadi lebih rumit.
Ia membuka pintu mobil dan duduk manis di samping Kemal.
“Hai,” sapanya pelan.
Kemal tersenyum, hangat seperti dulu. “Kamu tinggal di sini sekarang?”
Diandra melirik ke arah mansion sebelum mengangguk samar. “Iya… untuk sementara.”
Mobil mulai bergerak meninggalkan gerbang.
“Sebenarnya ada banyak hal yang mau aku ceritakan ke kamu,” kata Diandra pelan.
“Apa?” tanya Kemal sambil fokus menyetir, tapi jelas memberi ruang untuknya bicara.
“Kemal… kamu bisa jaga rahasia, kan?”
Kemal mengangguk tanpa ragu. “Sejak kapan aku nggak bisa dipercaya? Memangnya kamu mau cerita apa?”
Diandra menarik napas panjang.
“Kamu sudah tahu pernikahanku dengan Ronal dibatalkan, kan?”
“Iya. Terus?”
Ia menelan ludah.
“Tapi… aku menikah dengan orang lain.”
Kemal menoleh cepat sebelum kembali fokus ke jalan. “Menikah?”
“Iya.” Suaranya mengecil. “Tapi ini terpaksa. Dan cuma untuk beberapa waktu. Setelah semuanya selesai, kami akan bercerai. Bahkan… dia punya seseorang yang dia cintai.”
Mobil melaju dalam diam beberapa detik.
Kemal tidak langsung bereaksi.
Justru itu yang membuat Diandra gelisah.
“Kemal, aku nggak tahu harus cerita ke siapa,” lanjutnya pelan. “Tapi jujur… aku masih sayang kamu.”
Decit!
Kemal mengerem mendadak. Mobil berhenti agak miring di pinggir jalan. Untungnya sabuk pengaman sudah terpasang.
Kemal tak terkejut dengan pernikahannya, yang justru terkejut saat mendengar masih ada rasa untuknya.
“Maaf,” ucap Kemal cepat, napasnya sedikit berat. “Aku nggak sengaja.”
Diandra menatapnya, campuran cemas dan harap.
“Apa yang aku bilang bikin kamu syok, ya?” Ia tertawa kecil, hambar. “Aku juga bingung dengan jalan hidupku sekarang. Tapi aku butuh dia.”
“Butuh?” ulang Kemal pelan.
“Untuk membuktikan kejahatan tanteku,” jelas Diandra. “Aku harus masuk ke lingkarannya. Kalau semua bukti sudah terkumpul, dia bisa dijebloskan ke penjara… dan aku bisa hidup tenang.”
Kemal menatap lurus ke depan, rahangnya mengeras.
“Jadi kamu menikah demi balas dendam?”
“Bukan balas dendam.” Diandra menggeleng cepat. “Ini keadilan.”
Hening.
“Kamu masih mencintaiku?” tanya Kemal akhirnya, suaranya lebih rendah.
Diandra terdiam. Lalu mengangguk pelan.
“Iya.”
Kemal menutup mata sesaat, seperti sedang menahan sesuatu.
“Dan suamimu?” tanyanya lagi.
Diandra teringat tatapan Leon pagi tadi. Cara ia memanggil namanya. Cara ia terlihat terganggu saat ia tampak bahagia.
“Itu… rumit,” jawabnya jujur.
Kemal menghela napas panjang, lalu kembali menyalakan lampu sein dan melajukan mobil.
“Diandra,” katanya pelan, “aku bisa menunggu kamu kalau memang itu yang kamu mau.”
Hati Diandra bergetar.
“Tapi aku…”
“Aku juga masih sayang sama kamu.”
Diandra pun tersenyum lega, tak menyangka jika Kemal masih menerimanya.
“Aku sayang sama kamu.”
“Aku juga.”
“Kita balikan?”
Kemal mengulurkan tangannya.
Diandra pun tersenyum dan meraihnya.
Perjalanan menuju rumah sakit terasa sangat membahagiakan, akhirnya setelah beberapa waktu ini Diandra bisa memiliki semangat lagi melanjutkan hidupnya.
Begitu sampai di rumah sakit, keduanya langsung menjaga jarak.
Tidak ada lagi nada lembut. Tidak ada lagi tatapan terlalu lama. Mereka berjalan di lorong panjang itu seolah hanya dua dokter profesional yang kebetulan tiba bersamaan.
Beberapa perawat menyapa.
“Dokter Diandra.”
“Dokter Kemal.”
Keduanya hanya membalas dengan anggukan formal.
“Aku ke ruangan direktur dulu,” kata Diandra pelan tanpa menoleh.
Kemal mengangguk singkat. “Aku ke ruangan aku.”
Mereka berpisah di tengah lorong. Diandra melangkah menuju lift, sementara Kemal berbelok ke arah berbeda.
Ting.
Lift terbuka di lantai 20—lantai khusus manajemen dan ruang eksekutif.
Diandra melangkah keluar. Koridor di lantai itu jauh lebih sunyi. Karpet tebal meredam suara heels-nya. Dindingnya dihiasi lukisan mahal dan papan nama berlapis emas.
Di depan sebuah pintu besar tertulis:
Direktur Utama
Haldy Fernandez.
Jantung Diandra berdetak sedikit lebih cepat.
Tok. Tok. Tok.
“Masuk.”
Suara berat dan tenang terdengar dari dalam.
Dengan ragu, Diandra mendorong pintu pelan lalu melangkah masuk.
Ruangan itu luas, elegan, dan terasa berwibawa. Di balik meja besar dari kayu gelap, Haldy duduk tegap di kursinya.
Tatapan mereka bertemu.
Haldy Fernandez.
Direktur Rumah Sakit Bakti Ibu.
Dan… ayah Leon.
Sekaligus ayah mertuanya.
Suasana langsung terasa berbeda. Lebih tegang dari biasanya.
Selama ini Diandra mengenalnya hanya sebagai atasan profesional—tegas, disiplin, jarang tersenyum. Tapi sejak ia resmi menikah dengan Leon, posisi mereka berubah.
Hubungan kerja.
Hubungan keluarga.
Keduanya kini bertabrakan dalam satu ruangan.
“Sudah lama tidak masuk,” ujar Haldy akhirnya, suaranya datar namun tajam.
Diandra menegakkan punggungnya. “Saya sedang ada urusan pribadi, Dok.”
Haldy menatapnya beberapa detik lebih lama dari biasanya.
“Sebagai direktur, saya berhak tahu apakah urusan pribadi itu akan mengganggu profesionalitas Anda.”
Sebagai direktur.
Bukan sebagai mertua.
Itu penegasan.
Diandra mengangguk pelan. “Tidak akan, Dok. Saya kembali bekerja mulai hari ini.”
Haldy menyilangkan jemarinya di atas meja.
“Bagus.”
Hening sesaat.
Lalu tatapannya berubah sedikit—bukan lagi murni atasan.
“Bagaimana kabarmu… di rumah?”
Pertanyaan itu terdengar ringan. Tapi maknanya berat.
Diandra menahan napas sepersekian detik.
“Baik,” jawabnya singkat.
“Di dunia ini tidak ada yang kebetulan, setiap langkah pasti ada maknanya. Mungkin begitu juga kali ini.”
“Maksudnya, Dok?” Diandra memberanikan diri bertanya.
Haldy tersenyum kecil, “Leon mengijinkanmu kembali bekerja?”
Diandra bingung harus menjawab apa, bahkan tak berpikir sama sekali untuk meminta ijin pada Leon.
“Kalau bekerja karena kau mencintai pekerjaanmu itu benar, tapi jika karena yang lain. Suamimu, bodoh.”
Diandra terkejut, ucapan Dokter Haldy terdengar ringan, tapi tak menyangka bisa mengatakan anaknya sendiri demikian.
“Dok, saya…saya..” Diandra kebingungan harus bicara apa.
Selain tak bisa berbohong ia juga takut Haldy tau pernikahan pura-puranya dengan Leon.
Haldy tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. “Leon bukan orang yang mudah.”
Kalimat itu menggantung.
Apakah itu peringatan?
Atau pengakuan?
Atau apa?
“Saya juga bukan orang yang mudah, Dok,” jawab Diandra tenang. Kali ini berusaha tenang.
Sudut bibir Haldy benar-benar terangkat. Jelas.
“Ya. Itu saya tahu.”
Ruangan kembali sunyi.
Diandra sadar, berada di rumah Leon sudah cukup rumit.
Tapi berada di rumah sakit ini—di bawah kepemimpinan ayahnya—mungkin jauh lebih berbahaya.
Karena di sini, kesalahan sekecil apa pun tidak bisa ditutup dengan status sebagai menantu.
Dan entah kenapa, ia merasa… Haldy tahu lebih banyak daripada yang ia tunjukkan.