Kemal Adik Leon

1087 Words
Jam di ruang dokter menunjukkan pukul enam tepat ketika Diandra akhirnya melepas stetoskop dari lehernya. Seharian penuh ia menangani pasien—dua konsultasi kanker kulit stadium awal, satu tindakan biopsi, dan seorang pasien lama yang hasil terapinya belum menunjukkan perkembangan baik. Lelahnya bukan hanya fisik. Ia menutup rekam medis terakhir, lalu menyandarkan punggung ke kursi. Ruang praktiknya mulai sepi. Lampu koridor sudah diredupkan, tanda jam operasional hampir selesai. Diandra berdiri, melepas jas dokternya dan menggantungnya rapi. Wajahnya di cermin tampak tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang sejak pagi pura-pura tak memiliki apa pun dengan Kemal. Di lorong, langkahnya terdengar ringan tapi pasti. Beberapa perawat menyapanya. “Selamat malam, Dok.” “Malam,” jawabnya dengan senyum profesional. Lift terbuka. Ting. Saat pintu hampir tertutup, tangan seseorang menahannya. Kemal. Masih dengan jas putihnya. Rambut sedikit berantakan, mungkin baru selesai visite terakhir. Mereka saling pandang sepersekian detik. “Pulang?” tanya Kemal. “Ya.” Jawaban singkat. Netral. Lift turun perlahan. Hanya suara mesin dan detak yang entah milik siapa yang terdengar lebih keras dari seharusnya. “Kamu terlihat capek,” ucap Kemal, lebih pelan dari biasanya. “Sama seperti dokter lain yang bekerja seharian,” jawab Diandra. Bukan jawaban yang ia maksud. Tapi itu yang paling aman. Pintu lift terbuka di lobby. Mereka berjalan berdampingan, jarak satu lengan, seperti dua kolega biasa. Satpam memberi hormat, beberapa pasien yang masih duduk di ruang tunggu memandang kagum—dua dokter muda berbakat, terlihat serasi… meski tak ada yang tahu jarak di antara mereka jauh lebih rumit dari yang terlihat. Di parkiran, langkah mereka melambat. “Mau langsung diantar pulang?” tanya Kemal, suaranya lebih lembut dari biasanya. “Ya. Aku juga pengen istirahat,” jawab Diandra tanpa banyak pertimbangan. Kemal mengangguk pelan, lalu berjalan lebih dulu menuju mobilnya dan membukakan pintu penumpang. Gerakan sederhana, tapi cukup membuat Diandra menatapnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya. Ia duduk dengan senyuman manis—senyum yang jarang ia tunjukkan di rumah sakit, tempat ia lebih sering terlihat tegas sebagai dokter spesialis onkologi dermatologi. Kemal kemudian masuk ke sisi kemudi. Mesin dinyalakan. Musik pelan mengalun, sekadar pengisi keheningan yang tiba-tiba terasa canggung. Beberapa menit pertama, tidak ada yang berbicara. Lampu-lampu jalan menyapu wajah Diandra bergantian—terang, lalu redup. Ia menyandarkan kepala ke kursi, memejamkan mata sejenak. “Capek banget?” tanya Kemal, matanya tetap fokus ke jalan. “Lumayan. Tiga pasien biopsi hari ini. Satu hasilnya… aku nggak terlalu suka prediksinya.” Nada suaranya berubah. Profesional, tapi ada beban di dalamnya. Kemal melirik sekilas. “Kanker kulit agresif?” Diandra mengangguk pelan. “Masih menunggu patologi anatomi. Tapi feeling-ku nggak enak.” Kemal menghela napas pelan. Ia tahu perasaan itu. Insting dokter yang jarang salah. “Kalau kamu yang pegang, peluangnya tetap ada,” katanya tenang. Diandra membuka mata, menoleh. “Kamu terlalu percaya diri sama aku.” “Bukan percaya diri,” jawab Kemal singkat. “Percaya.” Mobil kembali hening. Kali ini bukan canggung—lebih seperti nyaman. Tangan Diandra yang terletak di atas kursi tanpa sengaja tersentuh jari Kemal saat ia memindahkan posisi perseneling. Sentuhan singkat. Tapi cukup membuat jantung Diandra berdebar tak beraturan. Ia tidak menarik tangannya. Kemal pun tidak segera menjauh. Beberapa detik yang terasa lebih lama dari perjalanan itu sendiri. “Kalau setiap hari kita begini,” gumam Kemal pelan, hampir seperti bicara pada dirinya sendiri, “mungkin nggak akan terlalu berat.” Diandra tersenyum kecil. “Begini bagaimana?” “Pulang bareng. Tanpa pura-pura.” Diandra menatap ke depan lagi. Lampu merah menyala, mobil berhenti. “Kapan kita bisa hidup bersama?” Tanya Kemal. “Kamu bisa nunggu aku kan?” Kemal mengangguk. Lalu menarik Diandra agar bersandar di dadanya. Mobil berhenti tepat di halaman mansion. Lampu taman menyala lembut, menerangi fasad bangunan megah itu. Meski berat hati, mereka tahu perjalanan harus berakhir di sana. Kemal turun lebih dulu. Ia berjalan memutar dan membukakan pintu untuk Diandra seperti biasa—gerakan sederhana yang sudah terasa alami. Diandra turun dengan anggun, mencoba menjaga ekspresi tetap tenang. Saat itulah sebuah mobil lain masuk dan terparkir tepat di sebelah mobil Kemal. Leon. Lampu mobilnya mati. Pintu terbuka. Diandra sempat berpikir ini bukan masalah besar. Ia hanya bekerja. Kemal hanya mengantarnya pulang. Tidak ada yang aneh. Lagi pula, Leon tidak perlu tahu urusan pribadinya di rumah sakit. Leon berjalan mendekat dengan senyum tipis yang sulit ditebak artinya. “Apa kau senang mengantar-jemput kakak iparmu?” tanyanya santai. Kakak ipar? Diandra membeku. Suara itu seperti gema di kepalanya. Kakak ipar katanya. Maksudnya apa? Ia menoleh cepat ke arah Kemal, tatapannya penuh tanda tanya. Jantungnya berdetak keras. Apa hubungan Kemal dan Leon? Tapi Kemal hanya diam dengan wajah datarnya, membuat Diandra semakin bingung. Leon tersenyum ringan, seolah sedang membicarakan hal paling biasa di dunia. “Kelihatannya kalian sudah sangat akrab ya. Baguslah,” lanjutnya tenang. “Jadi aku nggak perlu repot-repot memperkenalkan istriku pada adikku lagi.” Istriku. Adikku. Kata-kata itu menghantam Diandra bersamaan. Ia merasa dunia seperti bergeser beberapa senti dari porosnya. Adikku? Matanya perlahan kembali pada Kemal. Jadi… Kemal adik Leon? Kemal adalah adik dari suaminya. Napas Diandra terasa tercekat. Pandangannya mendadak berkunang-kunang. Leon melangkah mendekat dan merangkul bahu Diandra dengan santai, seolah tidak ada bom yang baru saja ia lemparkan. “Kamu nggak cerita ya kalau ternyata sudah kenal dekat dengan Kemal?” tanyanya ringan. Diandra membuka mulut, tapi tak ada suara keluar. Otaknya masih mencoba menyusun potongan informasi. Nama belakang. Wajah. Garis rahang yang mirip. Bagaimana ia bisa tidak menyadarinya? Kemal berdiri kaku. Rahangnya mengeras. “Kamu suaminya, tapi aku orang yang dia cintai!” balas Kemal dingin. Diandra semakin terkejut mendengarnya. Kalimat itu belum sempat ia cerna sepenuhnya ketika Kemal melangkah satu langkah maju, berdiri sejajar dengan Leon. “Ingat,” suaranya tegas, berbeda dari Kemal yang biasa ia kenal di rumah sakit, “setelah kerja sama kalian selesai… dia akan menjadi istriku.” Udara malam terasa membeku. Leon tidak langsung bereaksi. Tatapannya beralih pada adiknya, tajam namun tetap menyimpan senyum tipis yang sulit diterjemahkan. “Berani sekali kau bicara seperti itu,” ucap Leon pelan. Kemal tak menjawab. Ia hanya menatap lurus, rahangnya mengeras. Lalu tanpa menoleh lagi pada Diandra, ia berbalik dan berjalan menuju mobilnya. Mesin menyala. Mobil itu keluar dari halaman mansion dengan kecepatan yang lebih tinggi dari biasanya. Hening. Sunyi yang menekan d**a. Diandra berdiri mematung. Kata-kata Kemal terus terngiang di kepalanya. Akan menjadi istriku. Itu benar, Diandra juga mau. Tapi ternyata dunia begitu sempit, kenapa Kemal dan Leon adik Kakak? “Kepalaku,” Diandra memegang kepalanya dan akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD