Ancaman Oma

1144 Words
Diandra berbaring di ranjang besar kamar itu. Kepalanya terasa berat, seperti baru bangun dari tidur yang terlalu dalam. Perlahan, kelopak matanya terbuka. Pandangan pertama yang ia lihat adalah Leon. Pria itu duduk di kursi samping ranjang, tubuhnya tegap, kedua tangan bertaut di depan. Tatapannya datar, sulit dibaca—tidak marah, tidak juga hangat. Seketika ingatan sebelumnya menyerbu. Halaman mansion. Kemal. Ucapan Leon. Dan kalimat itu— dia akan menjadi istriku. Diandra langsung bangkit duduk. Napasnya memburu. Tapi… tunggu. Ia menoleh ke sekeliling kamar. Lampu redup. Selimut menutup tubuhnya dengan rapi. Tidak ada suara keributan. Tidak ada ketegangan seperti yang ia rasakan tadi. Apakah itu hanya mimpi? Ia menatap Leon dengan bingung, mencoba mencari jawaban dari ekspresi wajah pria itu. “Kemal…” suaranya serak. “Tadi…” Leon tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Diandra datar, terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja menyaksikan istrinya pingsan. “Kamu pingsan di halaman,” katanya akhirnya. Nada suaranya stabil. Formal. Hampir seperti laporan fakta. Diandra mengerjap pelan. Jantungnya kembali berdegup cepat. “Jadi… itu bukan mimpi?” Leon tidak menjawab pertanyaan itu secara langsung. Ia berdiri perlahan, lalu berjalan beberapa langkah mendekat ke ranjang. Diandra menatapnya tajam sekarang. Otaknya mulai kembali jernih. “Leon,” katanya pelan tapi tegas, “Kemal… adikmu?” Hening beberapa detik. Leon menghela napas pendek, lalu mengangguk sekali. “Iya.” Jawaban sederhana itu justru terasa paling mengejutkan. Diandra menggenggam selimut tanpa sadar. “Astaga… kenapa dunia ini sempit sekali. Dokter Haldy papanya, Kemal adiknya…” ucap Diandra tak percaya. Ia memijat pelipisnya pelan, mencoba menenangkan kepalanya yang kembali berdenyut. “Aku pengen pingsan lagi, tapi nggak bisa kayaknya,” gumamnya lemah, setengah frustrasi. Beberapa detik ia hanya menatap kosong ke depan, berusaha menyusun ulang kenyataan yang terasa terlalu absurd untuk diterima sekaligus. Lalu perlahan ia kembali menoleh pada Leon. “Leon…” suaranya lebih pelan sekarang, hampir seperti keluhan seorang anak kecil yang kelelahan menghadapi hidup. “Kenapa kamu harus jadi kakaknya Kemal?” Leon tidak menjawab. Ia hanya menaikkan satu sudut alisnya, ekspresinya datar seperti biasa—seolah pertanyaan itu bukan sesuatu yang membutuhkan jawaban. “Jangan pergi tanpa ijinku, jangan pernah membuat orang diluar sana curiga tentang pernikahan kita! Dan, kau sudah mengatakan rahasia kita pada Kemal, kalau sampai ini bocor ke Oma, aku serahkan kau pada Tantemu!” kata Leon dingin. Diandra menatapnya tak percaya, Leon pun melangkah pergi. Tapi Diandra tau Oma jauh lebih tau segalanya, hanya saja Diandra tidak boleh mengatakan pada Leon. Rita masuk ke dalam kamar membawa segelas air hangat. Langkahnya tenang seperti biasa, seolah tidak ada kekacauan apa pun yang baru saja terjadi di rumah itu. Diandra langsung menatapnya. “Rita, kamu udah lama kerja di sini kan?” tanyanya cepat. “Sudah, Nona,” jawab Rita sopan. Diandra menelan ludah, lalu bertanya dengan suara yang sedikit tertahan, seolah berharap jawabannya berbeda. “Benar… Kemal adik Leon?” Rita mengangguk tanpa ragu. “Benar, Nona.” Jawaban itu seperti palu terakhir yang menghantam kepalanya. Diandra mengusap wajahnya pelan, matanya terpejam sesaat. Ia bahkan tidak tahu harus merasa apa sekarang. Terlalu banyak hal berubah dalam satu hari. Bagaimana nasib hubungannya dengan Kemal? Mungkin… memang tidak mungkin dilanjutkan jika kenyataannya seperti ini. Tapi jujur saja—di sudut hatinya yang paling dalam—ia masih berharap. “Kacau…” gumamnya lirih. Dreet… Ponselnya berdering. Nama yang muncul di layar membuat dadanya langsung menegang. Oma. Diandra menarik napas panjang lebih dulu, mencoba menenangkan diri sebelum mengangkat panggilan itu. “Halo, Oma.” Suara di seberang langsung terdengar tegas, tanpa basa-basi. “Diandra, aku tidak mau tahu. Kau harus tidur dengan Leon, atau buktinya lenyap!” Mata Diandra langsung membelalak. “Oma, jangan… tolong kasih Diandra waktu,” pintanya cepat, suaranya hampir bergetar. “Aku tidak suka terlalu banyak main-main!” potong Oma tajam. “Oma—” “Kirimkan fotonya padaku sebelum besok pagi!” Tut. Panggilan berakhir begitu saja. Oma yang lebih dulu memutuskan sambungan. Diandra menurunkan ponselnya perlahan. Tangannya gemetar. Ruangan terasa mendadak sempit. “Rita, aku harus apa?” Di tengah kebuntuan pikirannya, Diandra tiba-tiba membuka mata lebih lebar. Sesuatu terlintas di kepalanya—sebuah ide yang terdengar nekat, tapi mungkin satu-satunya jalan keluar untuk malam ini. Ia langsung menatap Rita. “Rita, aku bisa pinjam uang kamu dulu nggak? Besok aku bayar,” kata Diandra cepat. “Bisa, Nona,” jawab Rita tanpa ragu. Diandra segera meraih buku resep di meja samping ranjang. Tangannya bergerak cepat menuliskan beberapa nama obat dengan tulisan dokter yang tegas dan terbiasa terburu waktu. Kertas itu kemudian ia lipat dan menyerahkannya pada Rita. “Kamu beli ini ya. Sekarang,” katanya. Rita menerima resep itu, sedikit bingung tapi tetap patuh. “Oh iya, Nona.” Tanpa banyak bertanya, Rita pun segera pergi keluar kamar. Pintu tertutup. Hening kembali memenuhi ruangan. Diandra menghembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya kembali ke sandaran ranjang. Jantungnya berdetak cepat—bukan karena takut, tapi karena ia sadar rencananya benar-benar gila. Ia menatap langit-langit kamar. “Maaf, Kemal…” gumamnya pelan. “Kayaknya aku harus menyelesaikan satu masalah dulu sebelum memikirkan kita.” “Heh, kamu benar-benar hebat ya,” suara sinis tiba-tiba terdengar dari arah pintu. “Adik kakak mau diembat semua.” Diandra langsung terperanjat. Ia menoleh cepat. Hilda berdiri di ambang pintu dengan tangan bersedekap, wajahnya penuh senyum mengejek. “Astaga… Jailangkung ini,” gumam Diandra kesal. “Masuk tanpa permisi.” Hilda mendengus kecil, lalu melangkah masuk seolah kamar itu miliknya sendiri. “Enakan mana? Kemal atau Leon?” lanjutnya tajam. “Ups, lupa… Leon pasti jijik lah nyentuh kamu. Secara kamu murahan.” Ucapan itu membuat mata Diandra langsung menajam. Ia menarik napas pelan, berusaha menahan emosinya beberapa detik… tapi Hilda jelas tidak berniat berhenti. “Heh,” balas Diandra akhirnya, duduk tegak di ranjang. “Yang murahan itu biasanya sebelum nikah udah ah, ah, ah ke mana-mana.” Ia menatap Hilda lurus tanpa gentar. “Aku sih enggak,” lanjutnya dingin. “Aku masih perawan.” Hilda terdiam sepersekian detik, jelas tidak menyangka Diandra akan membalas setelak itu. Sudut bibir Diandra terangkat tipis. Bukan senyum manis—melainkan senyum perang. “Dan satu lagi,” tambahnya santai, “kalau mau cari ribut, minimal ketuk pintu dulu. Ini kamar aku, bukan panggung gosip kamu.” Tatapan mereka bertabrakan di udara, panas dan penuh tantangan. Suasana kamar yang sebelumnya tegang kini berubah menjadi medan perang diam-diam. “Berani ya kamu sama aku?!” “Kenapa aku harus takut? Memangnya kamu setan?” “Ih!!!!” “Pergi sana, yang sopan sama Kakak madu!” sindir Diandra. “Liat aja kamu ya, tunggu perhitungan dari aku!” ancam Hilda. “Hitung sekarang, satu…dua… tiga… pergi!” Hilda pun memutuskan pergi dengan kekesalan tapi Diandra tau Hilda akan terus saja memusuhinya tanpa alasan jelas. Pikiran Diandra benar-benar kacau, isi pikirannya berantakan. Dunia serumit ini, seluas ini tapi terasa sempit untuknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD