Tok… tok… tok.
“Masuk, Rita.”
Pintu terbuka perlahan. Rita melangkah masuk sambil membawa nampan kecil berisi obat.
“Nona, ini obatnya.”
Diandra hanya melirik sekilas, tidak langsung menerimanya. Ia justru bersandar di kursi, menatap jendela dengan ekspresi sulit ditebak.
“Kamu tahu minuman yang biasa disukai Leon malam-malam seperti ini?”
Rita mengangguk kecil.
“Biasanya jam segini Tuan Muda ada di ruang kerjanya… dan minta dibuatkan kopi.”
Sudut bibir Diandra terangkat tipis.
“Kalau begitu, buatkan kopi. Masukkan obat itu ke dalamnya… lalu antar ke ruangan tuanmu.”
Perintah itu jatuh dingin.
Tubuh Rita langsung menegang. Tangannya gemetar memegang nampan.
“Nona… ini taruhannya nyawa,” ucapnya pelan, suara nyaris berbisik.
Diandra menoleh perlahan. Tatapannya tajam, tanpa sedikit pun keraguan.
“Begitu saja sudah takut?” katanya datar. “Tuanmu nggak akan mati hanya dengan minum itu. Ah, Kalau begitu, buatkan kopinya sekarang. Bawa ke sini.”
“Ba-baik, Nona…”
Rita menunduk cepat. Rasa takut jelas terlihat di wajahnya, tetapi ia tetap berbalik dan keluar dari kamar.
*
Beberapa menit kemudian, Rita kembali dengan secangkir kopi panas. Aroma pahitnya memenuhi ruangan.
“Nona… kopinya.”
“Masukkan obat yang tadi kamu beli,” katanya santai. “Aku ganti baju dulu… biar pikiranku lebih segar.”
Ia berdiri dan berjalan menuju kamar mandi, meninggalkan Rita yang terpaku di tempat, menatap cangkir kopi itu seolah benda tersebut bisa menentukan hidup dan mati seseorang.
Rita menatap botol obat di tangannya.
Suara air dari kamar mandi terdengar jelas, menandakan Diandra benar-benar meninggalkannya sendirian dengan keputusan itu.
Tangannya gemetar.
Cangkir kopi panas di depannya mengepulkan uap tipis. Aroma pahitnya menusuk hidung, seolah mengingatkan bahwa apa pun yang ia lakukan sekarang tidak bisa ditarik kembali.
“Ini salah…” gumamnya lirih.
Ia membuka tutup botol itu perlahan. Bunyi klik kecil terdengar begitu keras di telinganya sendiri.
Bayangan wajah Leon tiba-tiba muncul di pikirannya — pria itu memang dingin, tapi tak pernah sekalipun memperlakukannya buruk.
Rita menelan ludah.
“Nona bilang cuma obat… nggak akan membunuh,” bisiknya, mencoba meyakinkan diri.
Namun kata-katanya sendiri terasa kosong.
Tangannya berhenti di udara. Serbuk obat sudah berada di ujung sendok kecil, tinggal dijatuhkan ke dalam kopi.
Suara langkah dari dalam kamar mandi membuatnya tersentak.
Air berhenti mengalir.
Panik, Rita segera menuangkan obat itu ke dalam kopi. Serbuk putih larut perlahan, menghilang tanpa jejak saat ia mengaduknya.
Tidak ada warna berubah. Tidak ada bau berbeda.
Seolah tidak terjadi apa-apa.
Pintu kamar mandi terbuka.
Diandra keluar dengan gaun baru, rambutnya masih sedikit basah. Wajahnya terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya.
“Sudah?” tanyanya santai.
Rita mengangguk cepat, menunduk agar tidak terlihat gugup.
“Su-sudah, Nona.”
Diandra mendekat, menatap kopi itu beberapa detik. Senyum tipis muncul di bibirnya.
“Bagus.” Ia lalu mengangkat pandangannya. “Sekarang antar ke Leon.”
Jantung Rita seperti jatuh ke perut.
“Nona… saya—”
Tatapan Diandra langsung memotong ucapannya.
“Rita.”
“Nona muda, saya nggak mau jadi pembunuh. Saya masih harus bekerja untuk membiayai orang tua saya dikampung,” Rita gemetaran.
“Rita, sudah aku bilang dia tidak akan mati, hanya sedikit kepanasan,” jelas Diandra.
“Tapi, Nona…”
Diandra mengerti dengan ketakutan Rita.
“Liat!” Diandra pun segera meneguknya, tidak sampai habis hanya sekali teguk saja.
Rita pun menatapnya tegang.
“Aman?” kata Diandra.
Rita pun mengangguk pelan.
Sunyi memenuhi ruangan.
“Nona, serius benar-benar meneguknya?” Tanya Rita sedikit ragu.
“Yampun, Rita. Apa wajahku ini wajah tukang tipu? Lihat!” Diandra kembali mengambil gelasnya lalu meneguknya hingga tandas.
Rita pun tersenyum lega.
“Hehehe…”
“Buat yang baru dan lakukan seperti tadi, antar pada Tuanmu. Ingat, dia nggak akan mati,” perintah Diandra dingin.
Rita mengangguk, tetapi langkahnya tertahan. Ia memberanikan diri bertanya pelan.
“Lalu… sebenarnya ini obat apa, Nona?”
Diandra menjawab tanpa menoleh.
“Obat khusus laki-laki. Tidak akan berfungsi pada perempuan.”
Rita mengerutkan kening.
“Saya belum mengerti, Nona…”
“Ini obat!” Diandra meraih botol kecil itu dari tangan Rita dengan sedikit kesal.
Ia membaca labelnya sekilas.
Lalu mendadak diam.
Alisnya berkerut. Tatapannya turun lagi ke tulisan kecil di kemasan. Detik berikutnya, matanya melebar.
“Ada apa, Nona?” tanya Rita bingung.
Diandra mengangkat kepala dengan wajah panik yang jarang terlihat darinya.
“Rita… kenapa obat seperti ini yang kamu beli?”
“Seperti apa, Nona?”
“Ini obat untuk perempuan!”
Rita makin tidak paham.
“Maksudnya, Nona?”
“Bukan ini yang aku maksud!” suara Diandra meninggi. “Ini salah!”
Rita tersentak. Ingatannya langsung kembali pada kejadian di apotek.
“Tapi… saya membawa resep yang Nona berikan…”
Kilasan kejadian itu muncul di kepalanya.
Saat sampai di apotek, ia memang menyerahkan resep dari Diandra. Namun belum lama menunggu, ponselnya berdering. Ibunya menelepon dengan suara panik, mengatakan kondisi ayahnya memburuk.
Rita langsung dilanda cemas.
Sepanjang waktu ia hanya fokus berbicara di telepon.
Samar-samar ia mendengar suara apoteker memanggil.
“Mbak, stok obat ini kosong. Yang tersedia versi untuk perempuan.”
Rita menoleh sekilas, pikirannya masih tertuju pada percakapan dengan ibunya.
“Kalau begitu… yang ada saja,” jawabnya tanpa benar-benar memperhatikan.
Apoteker itu pun menyerahkan obat pengganti.
Rita menerimanya begitu saja.
Dalam perjalanan pulang, sopir menyetir seperti biasa sementara ia duduk di kursi depan, masih sibuk menenangkan ibunya lewat telepon. Ia bahkan tidak sempat memeriksa kembali obat yang dibelinya.
Ingatan itu membuat wajah Rita perlahan pucat.
“Saya… pikir nggak ada yang salahkan, Nona.…”
Ruangan mendadak terasa sunyi.
Diandra menatap botol obat di tangannya, lalu perlahan beralih ke cangkir kopi di meja.
Cangkir yang sudah kosong.
Napasnya tercekat.
“…Aku sudah meminumnya.”
Kalimat itu jatuh pelan, hampir seperti bisikan pada dirinya sendiri.
Rita membeku di tempat.
“Nona… saya—”
“Diam.”
Suara Diandra tidak keras, tetapi cukup membuat Rita langsung menutup mulut.
Diandra menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri. Tangannya masih menggenggam botol obat itu erat, seolah berharap tulisan di labelnya berubah jika ia menatap cukup lama.
Namun tidak.
Tulisan itu tetap sama.
Obat hormonal — khusus perempuan.
Ia meletakkan botol itu perlahan di meja, berusaha terlihat tenang.
“Tidak apa,” katanya akhirnya, meski suaranya sedikit lebih rendah dari biasanya. “Jumlahnya tidak banyak.”
Rita tidak berani menjawab.
Beberapa detik berlalu dalam sunyi.
Lalu Diandra mengerutkan kening.
Tangannya refleks menyentuh lehernya sendiri.
“Kenapa… hangat sekali?”
Pendingin ruangan masih menyala. Tirai bergerak pelan tertiup angin AC. Tidak ada yang berubah di ruangan itu — kecuali dirinya.
Ia berdiri.
Langkahnya sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Apa AC-nya rusak?”
“Tidak, Nona… sejak tadi normal,” jawab Rita pelan.
Diandra membuka kancing atas bajunya satu tingkat. Napasnya terasa lebih berat, seolah udara tiba-tiba menipis.
Detak jantungnya terdengar jelas di telinganya sendiri.
Tenang.
Ini hanya sugesti.
“Aneh…”
Jari-jarinya sedikit gemetar.
Rasa tidak nyaman muncul — bukan rasa sakit, tapi sesuatu yang membuatnya gelisah tanpa alasan jelas.
Ia menoleh tajam ke Rita.
“Kamu bilang apoteker itu mengatakan ini obat perempuan?”
“I-iya, Nona…”
Diandra menghembuskan napas panjang, mencoba mengendalikan ekspresinya.
Namun beberapa detik kemudian, ia tiba-tiba memegang tepi meja.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Bukan panik.
Bukan takut.
Tapi sensasi asing yang membuat pikirannya sulit tetap fokus.
“Nona… wajah Anda merah,” ujar Rita hati-hati.
Diandra menatap bayangannya di kaca lemari.
Pipinya memang memerah.
Matanya terlihat sedikit berkabut.
Ia langsung berpaling.
“Ambilkan air dingin,” perintahnya cepat.
Rita hampir berlari keluar kamar.
Begitu pintu tertutup, Diandra berdiri sendiri.
Tangannya menekan d**a.
Napasnya perlahan tidak beraturan.
Ia sadar satu hal.
Efeknya… mulai bekerja.
“Astaga amatir sekali aku jadi penjahat,” Gumamnya.