(POV Aaris) “Sampai ...” pekik Sandrina riang. Berbanding terbalik dengan aku yang seketika mematung di tempat. Aku memandang sekeliling dari dalam jendela mobil. Tidak terlalu banyak orang yang lalu lalang, tapi suara bising kendaraan terdengar di mana-mana. “Ayo tulun, Kak ....” Sandrina tidak henti-hentinya menarik ujung kemeja kotak-kotak yang aku gunakan. “Sabar ya Sandrina ... kita tunggu kak Irsyad datang dulu,” ujarku menenangkan Sandrina yang mulai merengek karena tidak sabar ingin segera turun untuk membeli es cream kesukaannya di kedai depan. “Sekarang aja, Kak ....” “Bentar ya, Sayang ...” Aku meraih ponsel, menelepon Irsyad tapi tidak kunjung di angkat. “Duh, Irsyad mana sih?” gumamku yang sejujurnya mulai panik. Aku terus mencoba menelepon Irsyad yang bilang akan se

