Waktu berputar begitu lama. Semilir angin sore terus menerpa wajah seorang gadis yang tengah cemberut kesal di bawah sebuah pohon rindang. Dari raut wajah gadis itu, terlihat jelas kejenuhan dari kerutan di dahinya. Dia terus menatap layar ponselnya dengan tatapan jengah. Sesekali, gadis itu juga berdecak kesal dengan menggerutu kalimat yang tidak jelas.
Sepasang matanya yang bulat kini menyalang ke seluruh halaman sekolah. Wajah gadis itu terlihat semakin menekuk. Salah satu kakinya terus bergerak tidak tenang tanda ia mulai kehilangan kesabaran.
"Dih! Kemana sih itu orang!" gerutu Lisa sebal dan melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan kanannya.
Sudah hampir tiga puluh menit Lisa menunggu. Namun tidak ada tanda-tanda kemunculan orang yang di carinya.
"Awas saja kalau nongol, gak akan gue kasih ampun!"
Beberapa menit kemudian, kedua bola mata Lisa melebar dengan tatapan membunuh saat ia menangkap sosok yang telah membuatnya menunggu lama. Dengan langkah cepat dan sedikit berlari, Lisa menghampiri orang itu untuk memuntahkan segala kekesalannya.
“Lo--!”
"Udah, diem! Gak usah berisik!" bentak Rezha cepat seolah tahu apa yang akan dilakukan adiknya.
Lisa yang merasa perjuangannya tidak dihargai kontan berjalan cepat untuk menyejajarkan langkahnya dengan orang di sebelahnya itu.
"Lo ke mana saja, sih? Gue udah nungguin lo setengah jam yang lalu! Kaki gue sampai pegel! Dan lo? Udah datang telat! Gak minta maaf?! Lo itu punya hati gak, sih?!" omel Lisa berapi-api dengan napas yang sedikit terengah akibat langkah kakaknya yang cepat dan lebar.
"Gue bilang gak usah, BERISIK!" gertak Rezha dengan terus melangkah menuju tempat parkir tanpa menoleh pada adiknya yang kesetanan.
Darah Lisa terasa memuncak hingga ubun-ubun. Mulutnya sangat gatal untuk tidak menyumpahi kakaknya itu.
"Lo sebenarnya kenapa, sih? Datang-datang ngomel! Padahal yang salah itu lo!" Lisa jelas berteriak tidak terima.
Rezha menghembuskan napas panjang. Ia menatap dingin gadis yang terus mengomel tanpa henti.
"Perut gue tadi mules! Dan lo gak usah bawel!" jawab Rezha seraya naik di atas motornya.
What the hell?
"Gimana gue gak bawel! Lo kira nunggu setengah jam itu gak lama? Kalau ada apa-apa kabari gue dulu, kek!" protes Lisa terus mengamuk di tempatnya.
Rahang Rezha mengeras. Kedua matanya menyorot tajam ke arah adiknya.
"Sekali lagi lo ngomong, jangan salahkan gue kalau lo gue tinggal! Buruan naik!" bentak Rezha yang mulai kehilangan kesabaran.
Dengan bibir yang mengerucut, Lisa mau tidak mau naik ke atas motor kakaknya. Menahan dadanya yang super sesak, karena pidato dan sumpah serapahnya belum terselesaikan.
Motor hitam legam itu mulai meluncur di atas aspal panas saat Rezha melewati gerbang sekolah. Di sepanjang jalan, bibir Lisa terus mengerucut jelek. Bahkan, Lisa duduk di jok paling ujung untuk memisahkan jarak. Kedua tangannya dipasang bersedekap di bawah dadaa. Sementara Rezha kini mengendarai motornya dengan kecepatan sedang. Walaupun adiknya itu memang cukup kasar padanya, namun nyatanya Rezha masih memikirkan keselamatan gadis yang tengah merajuk itu.
Saat motor mereka melewati tikungan pertama, tiba-tiba saja Rezha merasakan motornya mendadak oleng. Dia belum sempat menyangga motor itu dan alhasil keduanya tersungkur di tepi jalan yang panas dan sepi. Motor itu ambruk seiring teriakan dari Lisa dan juga debu tanah kering yang menguar di udara.
Lisa yang terpental jatuh langsung menjerit kesakitan. Terlebih kini salah satu kakinya terjepit tubuh besar motor, dan siku serta lutut yang bebas dari seragam mencium kasarnya aspal. Darah segar yang tak begitu deras langsung mengucur dari lukanya.
"Aduh, sakiitt ...!"
Rezha yang terlihat baik-baik saja, bahkan tak ada luka sama sekali dalam dirinya langsung mengangkat motor untuk menyelamatkan kaki adiknya itu. Akan tetapi Rezha sama sekali tidak menolong gadis itu untuk bangun. Bahkan sekadar bertanya, lo gak apa-apa, pun tidak. Yang dia lakukan justru berjongkok di hadapan roda bagian belakang motornya yang tampak kempis. Membiarkan adiknya itu untuk susah payah bangkit sendiri.
"Astaga! Kenapa harus sekarang, sih?" Rezha mengeluh. Dia mengusap wajah dengan kasar. Tubuhnya cukup lelah karena hari ini ada jam olahraga yang menyita fisiknya. Mulai dari keliling lapangan tujuh kali, dan berakhir dengan tanding sepak bola antar grup. Rezha jelas ingin segera pulang. Dan dia justru dihadapkan dengan musibah yang sangat tidak kenal waktu.
"Kenapa lagi?" tanya Lisa yang berdiri di sebelah Rezha dengan sedikit meringis. Menahan perih pada siku dan kakinya.
"Pakai tanya lagi! Lo gak lihat bannya bocor?" Rezha bangkit dari tempatnya. Lehernya yang jenjang mulai mendongak, memandang lingkungan sekitar dengan penuh harap.
Lisa sedikit menunduk. Dan benar saja ban belakangnya kempis. Ada paku berkarat yang menancap di sana. Saat dia mau berkomentar, dahinya dibuat berlipat melihat kakaknya yang celangak-celinguk seperti itu.
"Lo sekarang lagi apa coba! Celingak-celinguk, mau maling?" bingung Lisa entah mengapa mengikuti arah pandang kakaknya.
Rezha berdecak kesal. Menyorot nyalang adiknya itu yang banyak berkomentar. "Nyari Mama muda!"
Lisa yang mendengar jawaban tak masuk akal dari kakaknya itu kontan melotot tajam. Entah mengapa darahnya tiba-tiba naik begitu saja ke atas kepala.
"Lo itu waras gak, sih? Sekarang itu ban kita bocor dan gak bisa pulang! Jarak rumah masih cukup jauh. Sementara elo malah mikirin Mama muda?! Maksud lo apa coba?!" Lisa kian kesetanan. Dadanya naik turun dengan napas tak teratur. Begitu tidak habis pikir dengan kakaknya itu!
Rezha dengan gemas menoyor kepala adiknya hingga kepala itu sedikit oleng. Merotasikan mata untuk mengabaikan pelototan mengerikan dari Lisa. Seketika itu Rezha berdecak frustrasi. Kenapa dia bisa mempunyai adik setolol ini?! Ingin rasanya Rezha memakan Lisa hidup-hidup. Tapi ia ingat bahwa Lisa itu rasanya pahit! Enggak ada manis-manisnya! Dan mengandung racun yang mematikan!
“Gue nyari tambal ban lah, pinter!"
Lisa mengembuskan napas pendek dan berdecak kesal. "Ya bilang aja kali kalau mau cari tambal ban! Susah amat hidup lo! Pakai segala noyor kepala gue! Kasar banget lo jadi orang!" gerutu Lisa dengan bibir bawahnya yang maju bersenti-senti.
"Ngomel aja terus! Dah, buruan jalan! Entar kesorean!" perintah laki-laki itu sembari menuntun motornya.
Lisa menghembuskan napas kasar sembari menghentak-hentakkan kedua kakinya. Namun wajahnya langsung terbentuk ringisan kecil saat merasakan perih berdenyut di kedua lututnya. Lisa berjalan lesu dengan menyilangkan kedua tangannya di atas perut. Wajahnya mulai berkeringat dengan rambut panjangnya yang sedikit berantakan. Membiarkan sekali lagi angin menetap tubuhnya dengan lancang.
Rezha memelankan jalannya saat menyadari suatu kejanggalan. Anak itu menahan langkahnya secara mendadak. Membuat kepala Lisa menabrak punggung Rezha dengan keras hingga ia terpental untuk kedua kalinya dengan posisi jatuh terduduk menghantam tanah kering di bawah sana.
"Aduuhh ...!" keluh Lisa sembari mengusap pantatnya yang mencium tanah pinggir jalan.
"Eh, lo dari dari tadi gak bantuin gue, ya?" semprot Rezha dengan melotot.
Lisa bangkit dan langsung menepuk-nepuk bagian rok belakangya dengan kasar. "Bantuin apa, sih?" jawab Lisa dengan wajah yang ditekuk sebal.
"Ya bantuin dorong motor, lah!"
"Gue bantuin, kok!" sahut Lisa pakai ngotot.
"Kalau lo bantuin? Kok rasanya cuma gue yang dorong, ya?" Rezha mengerutkan sedikit dahinya, kedua matanya kini memicing penuh curiga.
"Yaiyalah! Orang gue bantuin dengan doa," jawab Lisa nyaris tidak terdengar.
Mendengar jawaban adiknya itu, kedua bola matanya semakin melotot mengerikan. Rahang Rezha mengeras saat seluruh giginya saling bergemelatuk.
"Dorong, gak?!" bentak Rezha mulai memanas.
"Dih! Iya-iya, Bawel amat dah, lu!" Dengan berat hati, Lisa mendorong motor bagian belakang. Dia tidak mau berdebat terlalu panjang sore ini. Karena tenaganya sudah terkuras banyak di sekolah. Dia juga penat dan ingin segera pulang.
Semburat jingga pada langit mulai tergantikan dengan awan-awan kelabu. Hamparan samudera di atas sana akan tergantikan dengan kegelapan. Semilir angin dingin kembali mengibarkan rambut serta ujung-ujung pakaian kedua kakak-beradik itu. Hening diantara mereka. Dari raut wajah keduanya, tersirat rasa letih yang tak tertahankan.
"Kira-kira berapa lama, Pak?" tanya Rezha kepada tukang tambal ban di tepi jalan. Dengan penuh kesabaran, akhirnya keduanya sampai di tempat ini walaupun harus berjalan kaki selama kurang lebih setengah jam.
"Hmm ..., sekitar dua puluh menit," jawab tukang tambal ban yang tengah sibuk dengan tugasnya.
Lisa berdecak kesal seraya bangkit dari duduknya. Pantatnya mulai terasa panas jika ia biarkan terlalu lama duduk.
"Woi! Mau kemana, lo?" teriak Rezha saat melihat Lisa meninggalkan tempat ini.
Tidak ada jawaban dari mulut Lisa. Anak itu justru mengangkat hidungnya dengan jari telunjuk. Mencoba meledek kakaknya yang kini melotot marah.
Rezha menatap geram adik satu-satunya itu. Bahkan, salah satu sepatunya telah ia lepas untuk menumpuk kepala Lisa. Lisa tidak peduli. Gadis itu terus melangkah pergi entah ke mana.
Tujuh belas menit berlalu. Lisa kembali ke tempat duduknya yang berada di sebelah Rezha dengan tangannya menggenggam es jeruk segar. Seketika, Rezha meneguk ludah saat melihat minuman bewarna orange yang langsung membuat tenggorokannya sekering padang pasir.
"Buat gue, mana?" pinta Rezha dengan nada memelas.
Lisa menatap kakaknya itu dengan jengah. Ia bahkan mengubah posisi duduknya menjadi membelakangi Rezha.
"Beli sendiri lah! Maunya gratisan mulu!" sahut Lisa dan meneguk es jeruknya hingga habis tak bersisa. Selepas itu, Lisa kembali memosisikan diri untuk duduk berhadapan dengan Rezha.
"Ahhh ..., leganya ...," ucap Lisa dramatis sembari mengusap lehernya ke bawah dengan mata yang terpejam. Seolah memamerkan kesegaran yang tiada tara nikmatnya.
"Tega lo jadi adek!" gerutu Rezha dengan memutar kedua bola matanya teramat kesal. Sementara Lisa, menjulurkan lidahnya tidak peduli.
"Dek, motornya sudah selesai."
Rezha dan Lisa lantas mengembuskan napas lega.
"Oke, Pak! Jadi berapa?" sahut Rezha berdiri tegak di samping motornya.
"Dua puluh lima ribu."
"Murah amat, Pak!" celoteh Reza ringan. Dia mengeluarkan kunci motornya. Memasukkan benda besi itu ke dalam lubang kunci, lantas mendorong motornya ke belakang.
Lisa tampak mengerutkan dahinya saat melihat Rezha menggerakkan kepalanya beberapa kali. Seolah memberikan sebuah kode.
"Apaan, sih!" sahut Lisa yang sedikit jengkel karena tidak mengerti maksud Rezha.
Rezha mengusap wajahnya dengan kasar. Ia lantas menggerakkan dagunya ke arah lisa dan ke arah tukang tambal ban secara bergantian. Lisa melotot, seperti mengerti akan arti kode itu.
"Maksud, lo? Gue yang bayar?" terka Lisa dengan menunjuk wajahnya sendiri.
Rezha menjawab dengan anggukan mantap dan langsung naik ke atas motornya.
"Kok, gue! Kenapa bukan lo aja? Ini kan motor lo!" protes Lisa jelas tidak terima. Sialnya lagi, Rezha memilih berpura-pura tidak mendengar. Anak itu justru bersenandung ria seraya mengelap kaca spion motornya.
Lisa menggeram kesal. Dengan hati yang setengah ikhlas, ia lantas mengeluarkan uang sejumlah dua pulih lima ribu. Tidak kurang dan tidak lebih. Setelah mengucapkan terima kasih, Lisa langsung mengeluarkan ponselnya, dan membuka ikon note.
24/11/20
Utang si monyet jelek: Rp.500,0 (Permen tusuk).
Utang si monyet jelek: RP. 3000 (Aqua dingin).
Utang si monyet jelek: Rp. 25.000 (tambal ban).
Lisa tersenyum miring seusai menuliskan utang-piutang kakaknya. Ponsel di tangannya segera disusupkan ke dalam saku rok saat telinganya mendengar sebuah teriakan yang sangat menyebalkan.
"Buruan, bawel!"
"Sabar, Nyet!"