Tepat pukul enam sore waktu Indonesia bagian barat, kedua kakak beradik itu akhirnya sampai juga di halaman depan rumah minimalis milik orangtuanya. Lisa kontan meloncat turun dengan dua kaki yang tertumpu pada tanah secara bersamaan. Saat membalikkan badan, gadis itu langsung tersentak kaget melihat penampakan yang berada tepat di balik tubuhnya.
"Syaiton nirojim ...!" ucap Lisa dengan mata melotot serta jantung yang tiba-tiba berdetak dua kali lebih cepat. Rezha yang mendengar adiknya berteriak kencang kontan memutar tubuhnya dengan dahi yang berkerut-kerut. Seketika itu, napasnya seakan tercekat. Irama jantungnya juga tidak kalah kencang.
"Kuntilan--,"
Sosok yang berada di hadapan mereka berdua langsung mengeluarkan jurus jeweran keras hingga membuat kedua manusia itu mengaduh kesakitan.
"Dari mana saja kalian berdua jam segini baru pulang! Gak ada yang balas pesan Mama lagi! Ngaku, dari mana kalian wahai anak setengah muda!" Wanita itu--Sonya, kian mengencangkan pelintiran tanganya, menyeret kedua anaknya untuk masuk ke dalam rumah tanpa melepaskan jeweran mautnya.
Lisa dan Rezha kontan meringis sembari mengusap telinganya yang telah terbebas dari tangan mamanya. Kedua bibir anak itu kini mengerucut sebal menampakkan raut tidak suka pada mamanya.
"Sekali lagi Mama tanya, kalian berdua dari mana saja! Jam segini baru pulang!" bentak Sonya yang tengah berkacak pinggang pada kedua manusia berbeda kelamin di hadapnnya.
"Ya, dari motor lah, Ma," sahut Rezha yang masih mengusap-usap kupingnya dengan wajah masam minta ditampar.
Sonya yang mendapat jawaban tak masuk akal tersebut langsung menghembuskan napas berang layaknya seekor banteng yang siap menyeruduk orang di hadapannya.
"Ma, inget! Kata Pak Ustaz, kalau keseringan marah bisa struk mendadak! Mama mau cepet ketemu malaikat siksa kubur?" sahut Lisa dengan nada sedikit mengancam, namun ia tutup dengan senyuman manis agar mamanya itu menghentikan ocehannya. Karena, ia sudah cukup pening untuk hari ini. Tidak kuat lagi jika harus ditambah omelan dari mamanya.
Sonya yang mendengar penuturan putrinya itu langsung berubah seratus delapan puluh derajat menjadi bidadari keseleo yang mendapat uang senilai ratusan juta rupiah.
"Yaudah kalau gitu, buruan mandi ya sayang-sayangnya Mama. Kalau kemaleman bisa masuk angin loh," ujar Sonya yang menurut Lisa terlalu alay dan berlebihan.
Rezha yang melihat drastis perubahan pada diri mamanya hanya bisa melongo lebar dengan mata terbelalak. Dalam hatinya ia memberikan pujian untuk adiknya yang telah berhasil menjinakkan induk banteng mengerikan itu.
"Gitu kek dari tadi! Gak usah pakai drama segala! Basi tahu, Ma!" timpal Lisa dan berlalu pergi menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sementara itu Sonya berlalu menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.
Rezha yang merasa terabaikan langsung berucap istighfar sebanyak tiga kali dengan mengelus dadaa. Kemudian dia mengikuti langkah adiknya dan berlalu pergi menuju kamarnya yang juga berada di lantai dua. Tepatnya berseberangan dengan kamar gadis itu.
Tiga puluh menit kemudian, Sonya dan Rendra sudah duduk manis di meja makan yang saling bersebelahan. Dengan sekali tarikan napas dan senyum yang menukik di bibir, Sonya mengangkat kepalanya, memandang anak tangga lantai dua yang melingkar di atas sana. Di sisi lain, Rendra sudah tampak siap menutup rapat-rapat kedua telinga dengan telapak tangannya.
"Lisa ...! Rezha ...! Makan malam telah siap!"
Rendra sedikit meringis. Usahanya selalu sia-sia untuk menghindari mulut toa dari istrinya itu. Kini, dia justru mengorek-ngorek lubang kupingnya yang terasa pengang.
"Iya, Ma ...," sahut Lisa saat menuruni anak tangga menuju meja makan. Dia mempercepat langkahnya karena tidak mau mamanya sampai berteriak untuk kedua kalinya.
Lisa langsung memosisikan diri untuk duduk di hadapan Sonya dengan menggunakan kaos oblong dan celana pendek, juga sandal swallow rumahan di kakinya. Lisa bahkan membiarkan rambut sepunggungnya menjuntai bebas dan membasahi belakang bajunya karena dia memang baru keramas sebagai pelengkap penampilannya malam ini.
"Kakak kamu mana?" tanya Sonya sembari menoleh ke arah tangga.
"Mati--,"
"Ketiduran mungkin," sahut Rendra yang langsung melotot tajam ke arah putrinya. Seolah tahu apa kelanjutan yang ingin anak bungsunya utarakan.
Lisa yang kalimatnya dipotong tanpa hak kontan mengerucutkan bibirnya jelek sembari menciduk nasi dengan menggumam kalimat yang tidak jelas. Akan tetapi Rendra terlampau yakin jika putrinya kini pasti sedang mengatai dirinya.
Hening di antara mereka. Hanya terdengar bunyi denting dari sendok yang menabrak piring. Terutama pada cara makan Lisa yang berantakan dengan mulut mengecap tidak sopan.
"Alhamdulillah," ucap Sonya sembari mengusap bibirnya menggunakan secarik tisu.
Lisa terserang penyakit cegukan secara mendadak, dengan cepat ia merampas minuman yang akan mendarat pada bibir mamamya dan langsung meneguknya hingga tandas.
"Lisa!" gertak Sonya dengan melotot tajam. Wanita itu kontan menyambar minuman yang hendak mendarat pada bibir suaminya, dan langsung meminumnya hingga habis tak bersisa.
"Mama!" protes Rendra jelas melotot ke arah istrinya dengan bibir yang mengerucut bersenti-senti.
Sonya mengembalikan gelas kosong ke tangan suaminya dengan mengedipkan sebelah matanya. Di sisi lain, Rendra hanya bisa menghembuskan napas kasar dengan memutar kedua bola mata sebal.
"Lis, kamu tadi dari mana saja? Jam segitu baru pulang? Lihat banci di pinggir jalan?" tanya Sonya yang ternyata masih penasaran alasan kedua anaknya pulang terlambat.
Lisa mengembuskan napas pendek sebelum menjawab. "Tadi, ban motor Monyet mendadak bocor di tengah jalan. Dan Lisa jatuh nyium aspal!" Lisa menunjukkan sikunya yang masih menampakkan luka basah dengan wajah yang teraniaya.
Sonya dan Rendra langsung terbelalak setelah mendengar penuturan dari putrinya.
"Terus, aspalnya gak apa-apa?" kaget Sonya dengan napas yang menggebu-gebu.
Seketika itu, sepasang mata Lisa membulat sempurna. Telinganya masih tidak percaya akan pertanyaan mamanya yang sangat tidak punya hati.
“Aspalnya gak kenapa-napa, Ma! Sehat walafiat lahir batin!" Lisa menjawab malas sekali. Wajahnya ditekuk jeleek menahan perih baik di siku maupun di hatinya.
Sonya langsung bernapas lega. Sementara Rendra menatap tajam istrinya itu. "Kok bisa bocor, Lis?" tanya Rendra mengalihkan topik. Mencoba untuk memberikan sedikit perhatian.
Lisa berdecak kesal sembari menatap Papanya dengan malas. "Digigit gorila! Ya diserang paku lah, Pa!" kata Lisa kelewat sebal.
Rendra terkekeh kecil melihat kekesalan pada raut putrinya itu. Benar-benar tidak ada bedanya dengan istrinya jika sedang merajuk.
"Papa kira emang sengaja kalian kempisin biar bisa berduaan gitu," ujar Rendra seraya menyugar rambut hitam dan sedikit ada campuran uban ke belakang.
Kedua bola mata Lisa kembali melotot dengan bergidik ngeri. "Idihh! Kurang kerjaan banget! Lebih baik Lisa berduaan sama banci Thailand dari pada sama Monyet Jeleek kayak dia!" cerocos Lisa menampakkan ketidaksukaannya.
"Mama heran deh sama kamu, Lis. Kapan sih kamu sama Rezha bisa akur? Sonya menyilangkan kedua tangannya di atas perut. Kedua matanya kini menajam bagai elang menyorot ke arah putrinya.
"Sampai ayam jago jadi perawan dan bertelur setiap hari!"
Sonya dan Rendra lagi-lagi menghembuskan napasnya dengan kasar. Jawaban Lisa selalu tak masuk akal dan memakan hati.
"Kamu gak capek apa terus-terusan berantam sama kakak sendiri?" ujar Sonya sembari menghela napas lelah di mulutnya.
"Capek? Banget! Tapi kalau Lisa diemin tuh Monyet, mulut Lisa gatel banget kalau gak ngomel!" jawab Lisa dengan kedua tangan yang saling terkepal di atas meja.
Kepala Sonya mengangguk ragu. Ia mengusap dagunya dengan sedikit berpikir. Seperti ada sesuatu yang memang mengganjal di pikirannya.
"Eh, tapi Lis. Rezha itu ... udah punya pacar belum sih? Mama kok enggak pernah lihat dia bawa cewek ke rumah ya dari zaman kalian sekolah dasar sampai sekarang?" tanya Sonya sedikit berbisik-bisik.
"NAAAHH!!!!" Lisa berseru kencang dengan menggebrak meja makan cukup keras. Membuat kedua orangtuanya itu jelas meloncat kaget. Sementara piring dan gelas di atas meja itu turut bergetar karenannya.
"Itu yang Lisa khawatirin, Ma!" kata Lisa dengan menjentikkan jarinya di udara.
"Kak Rezha itu, gak pernah temenan sama cewek di sekolah. Dan udah banyak gosip kalau dia sukanya sesama jenis!"
"Astaghfirullah ...!" kaget Sonya dan Rendra serempak sembari menutup mulutnya masing-masing.
"Yang bener kamu, Lis!" tanya Rendra sangat tidak percaya.
"Yee! Masa Lisa bohong, sih! Mending papa segera bawa dia ke rehabilitasi aja tuh anak. Masa ya, Pa, pas tadi ban kita bocor, yang dia cari itu malah mama muda!" tutur Lisa menggebu-gebu. Sudah saatnya dia membalas kekesalannya pada kakaknya itu.
"Astaga!” Rendra meluruh dengan kedua mata senjanya yang tersorot hampa.
"Eh, tapi tunggu dulu. Mama muda kan cewek? Jadi ... Rezha masih normal, dong!" kata Rendra selanjutnya dengan kedua mata yang kembali terlihat hidup.
Lisa yang mendengar penuturan papanya langsung menelan ludah dengan susah payah.
"Tapi kan dia--"
Kalimat Lisa terhenti saat kedua bola matanya menangkap sosok orang yang sedang dibicarakan tengah berdiri di atas tangga dengan wajah yang menekuk jeleek, seolah minta ditonjok.
"Kalian lagi ngomongin gue, ya?!" semprot Rezha dengan mulut yang penuh keripik pisang serta remahan keripik yang menghiasi bibir tipisnya. Tak lupa dengan tatapan setajam elang menyorot kepada seluruh orang yang berada di meja makan.
"Kurang kerjan banget gue ngomongin elo!" sahut Lisa dengan merotasikan kedua bola matanya malas.
"Lidah gue tiba-tiba kegigit tanpa sebab. Kalian kan yang ngomongin gue! Ngaku aja, ngaku!” desak Rezha setelah menelan semua keripik dalam mulutnya.
"Idih! Siapa sih yang lagi ngomongin lo! Buang-buang waktu gue, tahu! Gak penting dan gak berfaedah!" timpal Lisa pakai ngotot.
Orang di atas sana tampak termenung dengan dahi yang sedikit berkerut. Namun ia memutuskan untuk kembali ke kamarnya dengan perasaan kesal setengah mati. Lisa, Sonya dan Rendra yang melihat tingkah laku Rezha kontan tertawa terbahak-bahak hingga nyaris terbatuk.
"Tuh kan! Kalian ketawa! Pasti tadi ngomongin gue, kan!” tukas Rezha saat melangkahkan kakinya kembali di ujung bawah tangga. Telinganya masih terlampau sehat untuk mendengar tawa-tawa menyebalkan itu.
Lisa yang mendengar tuduhan dari kakaknya langsung mengusap kedua ujung matanya yang berair akibat tertawa kerasnya.
"Kenapa sih, lo! Ikut campur mulu! Siapa juga yang ngomongin, lo! Jangan kegeeran! Dah pergi sana kalau gak mau makan malam!" Lisa mengusir kakaknya itu dengan tangan yang mengibas di udara sembari berusaha menahan tawanya.
Rezha yang merasa terpojok langsung mengerucutkan bibirnya dan berlalu pergi menuju kamarnya dengan langkah kesal.
Setelah Rezha benar-benar pergi, Lisa langsung menyemburkan tawanya meskipun tidak sekeras tadi. Dan dia kini merasa lebih semangat untuk membuka gosip mengenai kakaknya, agar kakaknya terus kesal akibat lidah yang terpelatuk giginya sendiri. Emang dasar adik kurang waras!