Satpam sekolah

717 Words
Seperti biasa, keluarga Maherendra melakukan sarapan bersama di meja makan. Sayur asam dan sambal terasi dengan beberapa potong tempe goreng menjadi santapan untuk hari ini. Tipikal menu yang sebenarnya lebih cocok disantap untuk jam makan siang. "Mama mau nikah lagi, ya?" kata Lisa seusai memasukkan nasi yang terakhir ke dalam mulutnya. Sontak saja Sonya dan Rendra langsung menatap Lisa dengan mata yang melotot. "Jaga bicara kamu, Lisa!" Sonya membentak dengan menunjuk anak bungsunya itu menggunakan sendok yang ia genggam dengan erat. "Habisnya tempe hari ini asin banget, kayak hidup Lisa, Ma!" lanjut Lisa seusai meneguk air bening di dekatnya. "Lihat gua aja, gue kan manis," jawab Rezha seraya beranjak dari duduknya untuk mencuci piring. "Kalau lo mah pahit! Gak ada manis-manisnya!" timpal Lisa lantas mengekor di belakang Rezha. Kedua remaja itu kini sibuk memasang kaus kaki dan sepatunya masing-masing. Rezha mencium kedua punggung tangan orangruanya terlebih dahulu untuk berpamitan. "Hati-hati di jalan hunny bunny, Papa," ujar Rendra dengan lambaian tangan di udara. Sepasang mata Rezha langsung berotasi malas dengan perasaan jengkel dipanggil seperti itu. Namun, detik itu juga ia langsung berlari terbirit-b***t sambil bergidik ngeri saat mendapatkan Kiss Bye dari papanya. "Lo kenapa, sih! Habis lihat uler?" tanya Lisa yang keheranan melihat tingkah kakaknya yang bergidik dengan wajah kesal. "Habis lihat Bapak, lo!" sahut Rezha seraya naik ke atas motor. "Ha?" Kebingungan tampak di wajah Lisa mendengar penuturan yang keluar dari mulut Rezha. "Udah, buruan naik!" sergah Rezha tidak sabar. "Iya-iya, bawel!" Motor mereka melaju kencang di jalanan aspal berdebu dan cukup panas untuk pagi ini. Selama perjalanan itu pun tidak ada yang bersuara lagi di antaranya. Lisa sendiri malas berdebat dengan kakaknya jika sudah ada di jalan raya. Karena Lisa masih menyayangi keselamatan nyawanya sendiri. Sesampainya di halaman sekolah, Rezha langsung memarkirkan motornya di barisan lahan parkir sekolah yang sudah sangat padat. Lisa berjalan mendahului Rezha menuju pos satpam dikarenakan ia telah terlambat lima belas menit. "Bawa kantung plastik?!" bentak Pak Rio, satpam yang setia menjaga sekolah ini selama hampir dua belas tahun. Sekaligus satpam yang setia menegurnya hampir setiap hari seperti ini. "Pasti bawa dong, Pak!" jawab Lisa seraya mengeluarkan kantung plastik bewarna hitam dari saku rok sebelah kanan. "Saya bawa karung beras, Pak!" kata Rezha dengan menyodorkan barang yang ia genggam. Kepala Lisa dan Pak Rio melongok. Sedikit kaget kala melihat Rezha yang benar-benar membawa karung beras. "Cukup Lisa saja! Saya bukan pawang orang gila kayak kamu!" sahut Pak Rio dengan mengambil kantung plastik di tangan Lisa. Seperti biasa, beliau langsung meludah di dalam kantung plastik itu dengan berakting pura-pura mual. Entah apa yang tengah beliau lakukan hampir selama dua tahun ini. Lisa juga tidak habis pikir. Lisa menggenggam tali ransel di bahunya erat-erat. Kemudian dia menggoyang-goyangkan tubuhnya dengan pelan. Seolah ingin cepat-cepat pergi dari sana. "Berapa bulan, Pak?" celatuk Rezha sedikit menggoda dengan mengedipkan sebelah matanya. Kini Pak Rio langsung muntah pelangi. Hal itu membuat Lisa dan Rezha tertawa renyah di tempatnya. "Kalian berdua benar-benar membuat energi saya terkuras! Saya heran, ngidam apa mama kalian waktu hamil, kok bisa lahirin anak seperti kalian!" Pak Rio menggeleng-gelengkan kepalanya. Kedua tangannya kini berkacak pinggang di sebelah perutnya yang cukup gendut. "Ngidam opa-opa korea, jadinya seperti saya yang gantengnya di atas rata-rata," jawab Rezha dengan menyugar rambutnya ke belakang. Lisa yang mendengar kalimat mengerikan itu, langsung ikut terserang penyakit mual mendadak. "Sudah-sudah, kalian silahkan pergi saja! Sudah kenyang saya melihat kelakuan gila kalian!" "Sabar ya, Pak. Saya turut prihatin," ucap Lisa dengan nada sok baik dengan mengerucutkan bibirnya sedih. "Niscaya, orang sabar, biasanya meninggal duluan!" imbuh Lisa kurang ajar. "Mulut kau!” Melotot kedua mata Pak Rio. Lisa langsung berlari terbirit-b***t dari hadapan Pak Rio. Meninggalkan Rezha dan juga Pak satpam galak yang seolah siap melayangkan pukulan ke bibirnya. "Pak," sapa Rezha pelan. "Apalagi?!" jawab Pak Rio yang mulai naik pitam. "Yang sabar," kata Rezha dan berlalu pergi dari pandangan macan kelaparan. Pak Rio langsung meremas kedua tangannya di udara. Jika saja kedua anak kurang ajar itu berubah jadi bebek, maka ia akan langsung memotong dan memasaknya di atas tungku pembakaran yang panas. Tak lupa dengan bumbu asam manis ditambah perasan jeruk lemon dan sambel terasi, biar mereka ada enak-enaknya saat di pandang mata. Namun, Pak Rio cukup waras akan hal itu. karena, Lisa dan Rezha mau diolah jadi apapun tetap saja rasanya akan tidak enak!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD