Sandiwara

1304 Words

Asyik bercakap-cakap dengan ibu mertua yang asli, azan Ashar menghentikan kami. Beliau jelas mengenal dan pernah tinggal di Bangka. Itu melegakan, setidaknya satu hal penting yang Bapak harapkan dari suamiku terpenuhi. Al punya darah Bangka. Chana tersenyum bangkit dari ranjangku, "Aku akan mengetuk pintu kamarnya. Dia biasanya tak akan marah lama kepadaku. Aku ibunya, dia pasti akan selalu memaafkanku. Aku yakin." "Semua anak akan memaafkan orang tuanya, terutama ibunya." Aku yakin. Begitulah perasaanku terhadap ibu kandungku yang sebelum aku bertemu Al selalu punya banyak tuntutan. "Aku juga akan berwudhu," beritahunya sebelum menutup pintu. Aku mengangguk saja. Ditinggal sendirian membuatku terbawa ingatan. Chana terasa seperti Mbak Hira. Berbaring dan mencurahkan banyak pikiran unt

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD