Dia ibu mertua yang luar biasa. Chana Kendiman itu lebih menyenangkan daripada teman. Namun, seperti anaknya, kalimat mengkritiknya sangat menyakitkan. Beliau jelas-jelas menolak pulang denganku karena takut kecelakaan. Al tentu saja lebih bijaksana mengantar ibunya pulang dengan mobil. Entah apa yang mereka bicarakan selagi tanpaku. Saat akhirnya mereka sampai aku harus mendengar lagi keluhannya yang dramatis. "Kenapa kamu tinggal seperti ini?" tanyanya bermimik sedih setelah memperhatikan kontrakan kami yang sederhana. "Al senang di sini." "Nyaman?" "Kalau gak nyaman apa Al akan tetap di sini?" tanya Al tampak agak kesal. "Ibu, Qiya hanya mengizinkanmu satu hari. Jangan berlebihan. Nikmati saja. Kalau tak sanggup, beritahu, maka segera Al antar ke hotel." Chana bersikap masa bodo. "

