Aku tak terlalu terkejut dengan fakta beberapa hal dusta yang Al ciptakan tentang keluarganya. Kami memang menikah tanpa keinginan untuk terikat dalam banyak hal. Namun harusnya dia bisa jujur kepadaku. Aku akan lebih menghargai itu daripadaku dibohongi juga seperti aku membohongi keluargaku. "Waktu yang menyenangkan untuk melamun," suara lirih terdengar mendekat lalu tiba-tiba seseorang menepuk pundakku. "Kamu teman baru yang dimaksud?" Aku sempat tersentak oleh sosoknya yang muncul dari belakang kursiku. "Al!" Dia tampak tak terkejut sambil mencari-cari ke sekeliling. "Mana Ibuku?" Aku lebih terkejut, karena diriku tak seterkejut seharusnya. "Solat." Al duduk, "Apa yang kalian bicarakan?" "Kami bertemu secara tak sengaja. Aku sama sekali tak heran kalau beliau Ibumu. Kami bicara b

