Hampir sepekan berlalu. Aku dan Al sah sebagai suami istri. Aku sama sekali tak ingin terpaku dengan acara pernikahan kami yang mewah dan bergengsi. Semua orang hari itu takjub dan bahagia kecuali aku yang setengah mati khawatir El datang mengacau. Nyatanya dia tak datang, juga tak lagi menerorku melalui pesan ataupun panggilan. Sampai detik ini. Mbak Hira hampir setiap hari mengirimiku pesan, kami kembali akrab seperti sebelum diskusi berat kami tentang El. Bapak dan Ibu sama-sama menikmati momen pernikahanku dengan pasangan masing-masing. Al setiap hari punya aktivitas pagi bekerja dan pulang sore. Kami sarapan bersama. Al juga berjanji membantuku menemukan pekerjaan baru. Kehamilanku juga terasa normal semuanya. Hidup tenang, akhirnya. Aku bergegas ke pintu saat mendengar suara motor A

