Aku bersedih, takut dan terpukul. Tapi Al sadar, dan penuh kendali. Al menelepon bagian hotel untuk meminta pembalut sementara aku berganti pakaian. Dia memutuskan kami perlu menemui dokter spesialis kandungan detik ini juga. Aku sepenuhnya patuh, tak punya pemikiran logis sama sekali untuk membantah. Kami langsung ke UGD. Dan karena paniknya Al yang menjelaskan kepada perawat yang ada maka dokter langsung didatangkan. Dokter satu memeriksa, lalu dokter lainnya datang. "Ini dokter spesialis kandungan," kata dokter yang pertama. "Saya permisi." Dokter kandungan tersebut tersenyum ramah, "Saya lihat USGnya dulu Bu ya." Aku mengangguk sambil merasakan perihnya mataku oleh desakan tangis. Ini kali kedua cairan jeli yang terasa dingin itu menyentuh perut bagian bawahku, lalu tongkat USG kemb

