Aku merasakan goncangan. Jelas, ini goncangan. Apakah sedang terjadi gempa? Oh, aku tak bisa bergerak. "Qi. Bangun!" Kurasa bukan gempa. Al. Aku membuka mata perlahan, menyipit karena silaunya sinar yang datang. Tubuhku serasa kebas tanpa tenaga. "Ayo, bangun. Kita perlu jadi kejutan untuk Winwin." Aku merenggangkan tubuh sambil menguap lebar. "Kamu bersiap dulu," ucapku parau dan lesu. "Aku udah." Al menjauh sesaat untuk mengambil bingkai dan hadiah coklatnya, "Aku udah siap." Kuperhatikan dia memang sudah siap menghancurkan pernikahan Winona. Pakaiannya sudah rapi dan dia sangat tampan dengan jas hitamnya. Kasihan sekali calon suami Winwin harus bersaing rupa dengan Alfarisi ini. Aku mengerjap beberapa kali, memulihkan diri sepenuhnya. "Oh, aku lupa. Aku tak akan menamai putriku de

