Al terus menarikku sampai ia menghentikan langkah dengan napas terengah. Al setengah membungkuk meletakkan kedua tangannya di lutut. Wajar saja dia jadi begitu, mengingat kami tadi pergi dengan dramatis membelah kerumunan orang. "Al..." Dia mengangkat tangan agar aku tak bicara. Aku akhirnya diam dengan perasaan gamang. Entahlah ... aku tak tahu perasan ini apa namanya. Aku kesal kepada Ayah Al, yang juga Ayah mertuaku. Aku rasanya kecewa kepada Winona, perempuan yang memohon agar aku membahagiakan Al. Lalu aku sedih, berduka untuk laki-laki ini, Al, suamiku. Atas semua sikap optimis yang begitu ambisius mengorbankan semuanya hanya untuk dendam. Al berdiri tegak lalu berkecak pinggang sambil tersenyum lebar. "Kamu lihat tadi? Sumpah, aku keren sekali. Aku sungguh-sungguh merasa keren d

