Aku cinta kamu, Qiya. Aku mencebik sebagai respons kalimat datarnya itu. Harusnya pernyataan itu punya arti lebih, dan efeknya lebih menggemparkan juga, tapi bagiku kalimat pernyataan cinta Al itu sangat biasa. Tak berbeda dari pernyataan yang lumrah didengarkan. Bumi itu bulat. Ada siang berarti ada malam juga. Lumrah sekali. "Ngomong aja mudah Al. Mana kutahu kamu bohong atau sungguhan,” komentarku terdengar kejam. "Ya gimana juga buktiinnya, Qi?" Aku memikirkan sesuatu yang lebih konkret. Apa hal yang benar-benar kuinginkan sebagai bukti pernikahan kami. Sesuatu yang benar-benar mengikatnya kepadaku. "Kamu mikirin apa, Honey?" "Harusnya ...." Harusnya kami punya status pernikahan di mata negara juga. "Harusnya?” Al membeo kalimatku. "Enggak." "Apa, Qi?" "Aku belum siap bila

