Malam masih setia menemai kami. Al masih memelukku dalam hangat dadanya yang bidang sambil menatap pemandangan malam kota Jakarta dari jendela kamar hotel kami. Rasanya aku tak ingin apa pun lagi selain bersamanya saja. Sangat aku mencintai Alfarisi, suamiku. Syukurlah, dia pun membalas perasaanku. “Apa setelah ini?” tanyaku teredam dalam harum aroma tubuhnya. Mendadak Al melepas pelukan, lalu tubuhku terangkat olehnya. Senyum khasnya yang menampilkan dua lesung pipi menawan itu terlihat lagi. Aku yang tak mendapatkan jawaban menghindari degup jantung dengan tanya lainnya. “Ngapain tiba-tiba gendong gini, Al?!” Al membawaku, melepas tubuhku di atas tempat tidur. Perlahan, dengan jarak wajah dan tubuh yang begitu dekat hampir menindihku Al berkata, “Kamu ditakdirkan untukku, Qi.” Sem
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


