Hari yang panjang 3

704 Words
Hari ini aku bangun dengan niat mengakhiri hidup, tapi sekarang, saat ini aku bukan lagi Sidqiya yang bangun tadi pagi. Mantra Al sepertinya berbekas padaku. Aku menjelma jadi pelangi setelah hujan badai yang memporak-porandakan. Aku punya napasku. Aku punya hidupku. Aku punya... bayiku. Dan, calon ayahnya. Aku menelaah wajah Al yang serius berpikir dan menuliskan poin-poin batasan diantara kami dalam perjanjian pra-nikah. Kami akhirnya duduk setelah melewati jalan dan kembali ke parkiran dengan sisa obrolan yang sama sekali tidak penting untuk diingat. Dia tampan, teman dudukku. Aku harus banyak berdoa, meminta agar wajah bayiku mirip aku bukan El. Hanya doa yang bisa kuandalkan mengenai keturunan, genetika. "Kamu bisa menulis lebih banyak poin. Sebelum kita sah menikah semuanya harus sudah rampung. Aku akan mencetaknya, menempelkan materai dan kita tandatangani bersama." Al tiba-tiba diam. "Ada apa?" "Kita tidak akan ... tidur-satu-kamar, kan?" tanya Al terbata-bata. Aku tertawa melihat ekspresi ngerinya. "Sekali ini tawamu melegakan untukku. Kita perlu cari kontrakan baru yang punya dua kamar. Berarti kita perlu mencetak dua lembar. Tempelkan di kamar masing-masing." Otaknya bekerja sangat baik dalam mengatur dan merencanakan. Dia pasti selalu punya ide dan ide cadangan. Menakjubkan. "Apa kita perlu menetapkan sanksi?" Al mengangkat bahunya sesaat, "Aku gak suka kamar mandi kotor, tapi paling malas membersihkannya. Tiga kali melanggar dalam waktu tiga hari. Bagaimana?" "Kalau kamar mandinya bersih?" Al mengetuk ujung pulpen ke dagunya sambil berpikir. "Menyiapkan sarapan tiga hari?" "Baiklah." Al mengangguk lalu menuliskan sanksi di bukunya. Kemudian menutup buku itu dan berdiri. "Kita harus pulang. Istirahat. Aku butuh energi untuk melamarmu kepada Bapak." "Beliau sebenarnya orang yang mudah. Orang tua yang cukup bertanggung jawab. Mungkin sekedar salah menempatkan cinta." "Sepertinya kesalahan itu diwarisi olehmu." Aku mengangguk sambil bangkit berdiri. Sudah jelas aku mewarisi kesalahan yang sama. "Syukurlah Mbak Hira gak mewarisi itu." "Mbak Hira?" "Sisterhood. Kakakku. Segalanya bagiku. Sahabat, saudari, kadang jadi musuh. Kami bahkan pernah jadi anak kembar-tak-identik, dengan selisih usia tiga tahun," jelasku sekelabat ingat momen berharga bersama Mbak Hira. Al memandangiku. Aku pastilah menunjukkan wajah meminta penjelasan karena dia segera mengalihkan pandangan ke arah lain. "Aku bisa melihat ketulusanmu dan betapa jujurnya kalimat itu. Wajahmu, tersenyum seperti... bahagia." Al menyerahkan helm. "Dia setuju dengan calonmu sebelumnya?" Aku memasangkan helm lalu menutup wajah dengan kaca hitamnya. Aku perlu menghindar dari rasa malu. Al berdecih sinis, "Mbak Hira, dia sudah memperingatkanmu. Aku ingin mengatakan hal itu lagi. Kamu pasti tau kalimat yang kumaksud." Aku sangat tau. Perempuan, cantik dan bodohnya satu paket. Al naik motor lalu menstaternya. "Aku akan mengantarmu pulang. Kita harus lewat mana?" Aku memberitahunya kemudian duduk diam di belakang. Aku mengulang sedikit ingatan sebelum kejadian naas itu. Semua kalimat saudariku terngiang hingga memanasi telinga. Perasaan hati teremas itu juga hadir kembali. Baru sekali ini sepanjang hidupku, dua puluh enam tahun, merasakan jatuh cinta dan berbalas perasaan. Tetapi ternyata yang dikatakan Mbak Hira ada benarnya, banyak benarnya. El cuma janji semu tanpa malu. Mungkin dia itu punya darah jin, bisa menghilang seketika saat aku kesulitan oleh perbuatannya. Kepalaku memunculkan sosoknya dengan dua tanduk merah, aku benar-benar sudah ditipu. Kini, tak ada lagi sedikit pun rasa baik-baik untuk laki-laki buaya itu. "Apa kamu diperkosa saat melamun?" tanya lirih terdengar. Aku mengerjap. Hal pertama yang ditangkap mataku adalah sepatu. Sepatu beralas bahan karet dengan bungkus kain rajut hitam. Sepatuku. "Dia benar-benar harus meninggalkan kebiasaan melamun. Anaknya bisa kehabisan napas kalau saat melahirkan tiba-tiba dia melamun. Bisa juga anak itu meninggal setelah lahir. Entah sedang dimandikan atau---" Al menghela napas. "Mungkin lebih tepat menggagalkan pernikahan Winwin daripada menyelamatkan perempuan ini." Winwin? "Qi!" panggilnya. "Qiya!" serunya. "Hm, ya?" Aku turun, terjun dari boncengan, sebisaku bersikap tak tahu apa-apa ataupun pura-pura tak mendengar kalimatnya. "Al? Kita di mana?" "Aku gak tau kita di mana. Rencananya aku mengantarmu pulang. Kamu bilang tinggal di Semabung. Setahuku, Semabung itu luas. Aku bukan orang yang menetap di Bangka," jelasnya pelan tapi penuh penekanan. "Oke, baru akan ... akan menetap!" Mengabaikan emosi Al, aku melihat sekeliling. Aku ingat bangunan itu. Aku kenal jalanan ini. Ah, sedikit lagi sampai. "Qi, kalau laki-laki umumnya perlu surat dokter tentang calon istrinya, tes keperawanan semacam itu, aku boleh minta kamu tes kejiwaan?" tanya Al hati-hati. Serius sekali. Aku tertawa. Meski kalimat Al kenyataannya menyakitkan, tapi tetap ekspresi lucunya mengalahkan kebenaran itu.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD