Hari yang panjang 4

1146 Words
Al menurunkanku tepat di depan pintu kontrakanku. Dia menelaah wajahku dengan telengan kepala heran setelah melepas helm. Aku menangkup pipi sendiri, rasanya hangat. Pastilah wajahku memerah karena tak henti-hentinya tertawa sejak permintaannya untuk aku tes kejiwaan. "Masuk ke rumah dan ambil ponselmu," pinta Al masih tetap duduk di atas motornya. Aku segera beranjak lalu menemukan kunci kontrakan di bawah keset kaki. "Kamu meletakkannya di sana?!" Aku mendengar ucapan istigfar lirih dan tak memperdulikannya. Segera kuambil ponsel dari kamar, mengaktifkannya lalu kembali ke teras dengan ponsel yang penuh bunyi notifikasi. Kutemukan Al sedang berbicara dengan ponselnya, lalu azan terdengar. Setelahnya Al memasukkan ponselnya ke saku celana. Aku ingin menebak. "Ibumu?" tanyaku. Tapi Al menampilkan wajah tak suka. Aku lalu mengalihkan mata pada ponselku, "Aku akan menyimpan nomormu." Al menyebutkan dua belas digit angka yang kusalin ke dalam ponselku. "Kirim pesan untukku." "Aku bisa miscall," sahutku. Al menggeleng, "Pesan. Banyak nomor baru masuk di ponselku." Aku mengirimkan pesan singkat. "Sudah." "Nanti malam kita naik ojek, LAGI." Aku heran, "Motor ... kenapa?" "Satu kesalahan sudah cukup." "Maksudnya?" tanyaku bingung. Kalimat itu tadi juga Al ucapkan kepada Ibuku. Apa maksudnya? Al menengadahkan wajah ke langit. "Jangan ucapkan!" seruku seolah paham apa yang sedang singgah di kepalanya. Jangan sampai dia mengucapkan kalimat itu lagi. Al tersenyum lalu menstater motornya. "Aku pulang dulu." Aku mengangguk. "Assalamu'alaikum." Dia tersenyum lagi sambil menjawab, "Wa'alaikumsalam." Lalu, dia pergi. Aku masuk rumah. Memperhatikan keadaan seandainya hanya ragaku yang pulang. Orang-orang akan menemukan jasadku besok. Kunci duplikat pintu kontrakan ini akan dikeluarkan. Dan semua inilah yang akan dilihat mereka. Polisi, pemilik kontrakan, wartawan, keluarga. Mereka akan menemukan uang, ponsel dan semua hal tentangku di sini. Tak ada catatan perpisahan. Tak ada tanda-tanda penghuni kamar ini akan bunuh diri. Mereka hanya akan menguburkanku tanpa tahu kalau aku sedang mengandung. Aku duduk di pojok kamar, memeluk lutut dan menumpahkan tangis. Aku akan memulai pertaubatan nasuha. Membenahi diri dan hidupku lagi. Aku hampir saja mendapatkan akhir yang terburuk. Bunuh diri adalah dosa besar. Apalagi dengan kondisiku, aku juga akan membunuh bayi yang tak berdosa. Istigfar kuucapkan berkali-kali. Astagfirullah. Astagfirullah. Astagfirullah. Mungkin Mbak Hira diam-diam bangun di sepertiga malam mendoakanku? Mungkin Ibu memikirkanku saat hujan turun sehingga terucap doa yang tak disengaja? Mungkin Bapak bertemu perempuan seusiaku, teringat kepadaku dan mendoakanku saat perjalanan musafirnya? Atau, Al. Doanya mungkin lebih diijabah daripada doaku. Setelah puas menangis aku ke kamar mandi. Mandi wajib, berwudhu dan solat. Solat taubat dan solat wajib zuhur. Sepanjang sore aku membaca pesan dan membalas semuanya sampai ashar. Kemudian solat dan mencari sesuatu untuk dimakan. Ternyata hidupku cukup sibuk. Menonton berbagai video lucu dari akun sosial media. Ponselku menampilkan notifikasi. Dia Al. Entah kenapa aku mengetik kata dia di awal namanya. Aku tak paham, dengan diriku sendiri. Aku membuka pesannya. [Sudah ngabarin Bapak?] Detik ini juga aku menelepon Bapak. Terdengar dering. Satu. Dua. Tiga. Empat. Tak diangkat. Aku membalas pesan Al. [Aku udah kirim pesan. Mungkin Bapak belum bisa jawab teleponnya.] [Oke. Selesai isya.] Aku tak membalas lagi. Baru sebentar tertawa oleh video lucu, Bapak menelepon. "Halo. Qi, halo?" Aku tersenyum mendengar suara itu. "Iya, Pak. Ini Qiya." "Kamu gak kerja? Tadi Bapak antar pupuk ke pabrik kalian, katanya kamu gak masuk. Kamu sakit, Qi?" Aku terharu. Bersyukur masih hidup sampai bisa mendengar nada khawatir Bapak untukku. "Qiya sehat. Bapak di mana ini?" "Masih di jalan. Bentar lagi sampai gudang." Aku mengangguk. "Habis isya Qiya mau ke rumah." "Kamu di Pangkalpinang?" tanya beliau terkejut. "Iya. Rencananya besok Qiya pagi-pagi balik ke pabrik. Bapak gak ke mana-mana malam nanti 'kan?" "Iya. Bapak di rumah aja malam ini." Jeda dua detik. "Udah ketemu Mbak-mu?" "Udah. Anaknya sehat, Mbak Hira juga..." Obrolan berlanjut panjang sekitar lima menit tentang topik lain selain calon suami dan pernikahan. Terakhir di tutup oleh kalimat : Bapak udah sampe gudang. Mau pulang dulu. Setelah solat isya. Aku segera bersiap diri. Aku sungguh berharap Al bisa meyakinkan Bapak untuk merestui kami. Beliau mengancam tak akan pernah menjadi waliku kalau menikah dengan El melalui mulut Mbak Hira. Kini setelah sadar, ternyata sangat menyesakkan betapa keras kepalanya aku sebelum El memperjelas semua tuduhan keluargaku kepadanya. Benar kata Mbak Hira, orang tua punya feeling mereka sendiri terhadap anak-anaknya. Ketukan pintu terdengar disertai ucapan salam. Aku bergegas ke pintu sambil menjawab salamnya. "Sebentar." Saat pintu terbuka, Al berdiri di sana. "Udah siap?" "Bentar. Aku ambil tas," kataku meninggalkannya. Dan saat akan kembali ke teras nada dering terdengar, tapi bukan berasal dari ponselku. "Udah. Al udah solat," suara Al terdengar tak senang dan ketus. Lalu kulihat dia memasukkan ponsel ke sakunya. Aku tak ingin mengacaukan suasana hatinya yang sudah kusam. Al jelas tak suka menjawab panggilan dari ibunya, tapi dia tetap menjawabnya. Mengesankan. Sehari lima kali. Sejak kapan ibunya mulai kebiasaan mengganggu Al seperti itu? "Aku masuk dulu," kataku hendak membuka pintu mobil. "Qi, pintu rumah belum kamu kunci." Aku berbalik badan melihat pintu yang menganga. "Subhanallah." "Suka melamun. Semberono. Pelupa pula," cercanya sinis. Aku tak menanggapi selain mengunci pintu. "Udah," kataku memamerkan kunci lalu memasukkan ke dalam tas tanganku. "Ayo. Aku kenalin kamu sama Bapak." Al membuka pintu untukku, "Kepalamu." "Aku gak bisa lepasin atau lupain kepalaku," sahutku asal. "Kamu harus lebih rileks," tambahku sekedar saran. Al memutar masuk lewat pintu lainnya. "Di jakarta ada jual martabak khas Bangka. Enak. Ibuku suka. Aku membelinya tadi untuk Bapak. Beliau suka?" "Lumayan. Bapak gak pilih-pilih makanan." Al mengangguk. Hanya itu. Sepi rasanya setelah hari yang panjang ini terisi oleh semua suara dan kalimat ajaibnya. Tapi kini tak ada yang bisa dibicarakan. Aku tak tahu topik mana yang akan membuat suasana hatinya lebih baik, mungkin saja pilihanku salah dan malah memperburuk keadaan. Aku jadi berpikir hal terburuk. Al mungkin benar-benar sedang menyesali keputusannya menyelamatkanku. Mungkin dia akan menemukan perempuan lain, atau bisa saja dia menggagalkan pernikahan Winwin. Apa itu nama aslinya? "Aku sedang berpikir," kata Al memecah keheningan. "Otakku sepertinya tak pernah berhenti berpikir. Apa saja. Rumit, isi kepalaku." "Perasaan juga rumit," sahutku menyetujui. "Laki-laki memang dominan logika. Perempuan perasaan." "Kamu gak mau nemuin Bapakku?" tanyaku hati-hati. "Aku gak pa-pa, Al. Kalo kamu gak mau lanjutin rencana ini, silakan. Aku gak nyalahin atau nuntut apa pun dari kamu." "Entah dari mana pengetahuan ini, tapi aku -enam puluh, dari seratus persen- yakin kamu sudah melepaskan niat untuk bunuh diri dengan ataupun tanpa kunikahi. Benar?" "Benar." "Kita baru bertemu kurang dari dua belas jam. Aku seperti mengenal gerak-gerikmu. Dan, kamu sebagian besar mengerti keadaanku." Al menghela napas. "Suka melamun. Semberono. Pelupa. Begini, perempuan yang cocok untukku?!" Al menggigit bibir sambil mengepalkan tinjunya. Aku merasa berbahaya terlalu dekat dengannya, tapi kami sedang di dalam mobil. Praktis aku tak bisa ke mana-mana. "Al, kita hanya akan menikah di atas kertas. Hanya itu." "Pak, berhenti sebentar. Jangan tanya kenapa, berhenti saja!" sentak Al dengan suara meninggi. Mobil menepi. Aku merasa kecil. Mengkerut, tak berdaya. "Kalau Bapak merestui, kita akan menikah. Aku-tidak-akan-mendaftarkan pernikahan kita ke kantor KUA sampai bayimu lahir. Jelas?!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD