Sering kali percakapan kami diawali begini. Al bersandar pada pintu kamarku, tetap di sana sambil menatap, mendengarkan kalimatku. Sejujurnya kukatakan dia sangat memesona dengan pose begitu. Entah disadarinya atau tidak, Al cukup tegang menunggu jawabanku. Jika saja pembicaraan kami tak sangat serius, aku sudah pasti menertawainya. "Aku capek kerja, Al. Beneran bosan sama rutinitas monoton itu,” keluhku apa adanya. "Nanti bakal bosan juga dengan rutinitas monoton sebagai istri rumah tangga, Qi," sahutnya menimpali. Aku merengut. Al benar. Harusnya kuikuti saja templat yang Chana ajarkan, tapi saat ini aku tak ingin membohonginya. Bagaimanapun juga, aku memang mencintai Alfarisi. Entah dia akan membalas atau hanya memanfaatkan perasaanku. Aku sudah mencobanya tadi, di kamar Al. Ada rasa

